Mengapa Labu Identik dengan Halloween? Ini Sejarahnya
Labu menjadi simbol Halloween berkat tradisi Irlandia, legenda Stingy Jack, dan kebiasaan mengukir sayuran yang berkembang di Amerika Serikat.
Kecerdasan emosional. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah wajah dunia kerja dalam waktu yang relatif singkat. Tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik. Mulai dari membuat laporan, menganalisis data, hingga menyusun presentasi, banyak pekerjaan kini bisa dibantu oleh teknologi.
Perubahan tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja dan pelajar. Tidak sedikit yang bertanya-tanya apakah suatu hari nanti mesin akan menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Namun berbagai kajian menunjukkan masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi. Justru ketika AI semakin canggih, keterampilan yang bersifat manusiawi diprediksi akan semakin bernilai dan sulit tergantikan.
Menurut Forum Ekonomi Dunia dan Riley's Way, salah satu kemampuan yang disebut akan menjadi aset utama adalah kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ). Keterampilan ini mencakup kemampuan memahami emosi diri sendiri, berempati kepada orang lain, membangun hubungan yang sehat, hingga menyelesaikan konflik secara bijak.
AI mungkin mampu menghasilkan teks, menganalisis pola, atau memberikan rekomendasi berdasarkan data. Namun teknologi tidak memiliki pengalaman emosional, intuisi, maupun kemampuan merasakan apa yang dirasakan manusia.
Karena itu, kemampuan membangun kepercayaan dan koneksi yang tulus diperkirakan menjadi faktor pembeda utama di masa depan. Organisasi dan perusahaan tidak hanya membutuhkan pekerja yang mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga individu yang mampu menyatukan tim, memimpin perubahan, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Tren tersebut juga terlihat dari perubahan preferensi generasi muda. Banyak pekerja dari Generasi Z kini tidak hanya mengejar gaji atau jabatan tinggi. Mereka juga mencari makna, tujuan, dan rasa memiliki dalam pekerjaan yang dijalani.
Kondisi ini membuat keterampilan seperti komunikasi, empati, active listening, dan kepemimpinan menjadi semakin penting. Kemampuan memahami kebutuhan orang lain sering kali menentukan keberhasilan sebuah tim lebih besar dibanding sekadar kemampuan teknis.
Selain kecerdasan emosional, kreativitas juga diprediksi menjadi salah satu keterampilan paling bernilai di era AI. Mesin memang mampu mengolah informasi dalam jumlah besar dengan cepat, tetapi kemampuan menciptakan ide baru tetap menjadi keunggulan manusia.
Kreativitas memungkinkan seseorang melihat peluang yang belum terlihat, menghubungkan berbagai gagasan yang berbeda, serta menghasilkan solusi yang tidak muncul dari pola berpikir biasa.
Kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu juga memiliki peran yang semakin penting. Ketika informasi tersedia dalam jumlah melimpah, tantangan terbesar bukan lagi mencari data, melainkan memahami konteks, mengevaluasi kebenaran, dan menentukan keputusan yang tepat.
Di sinilah manusia memiliki keunggulan yang sulit ditiru algoritma. Pengalaman hidup, nilai-nilai, serta pertimbangan moral menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi data.
Perkembangan AI sejatinya tidak harus dipandang sebagai ancaman. Teknologi dapat menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih efisien sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan yang benar-benar bernilai.
Alih-alih bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan atau kapasitas mengolah data, manusia dapat fokus pada hal-hal yang menjadi kekuatan alami mereka, seperti membangun hubungan, memimpin perubahan, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi.
Bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja di Indonesia, kondisi ini menjadi momentum untuk mulai mengembangkan soft skills sejak dini. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengelola emosi, serta membangun jejaring yang sehat dapat menjadi investasi jangka panjang yang nilainya terus meningkat.
Pada akhirnya, masa depan dunia kerja bukan hanya tentang siapa yang paling menguasai teknologi. Lebih dari itu, masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu memadukan kecanggihan AI dengan kualitas kemanusiaan yang tidak dapat digantikan mesin.
Semakin pintar teknologi berkembang, semakin besar pula kebutuhan akan manusia yang mampu menghadirkan empati, kreativitas, dan makna di tengah kehidupan yang semakin terdigitalisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Labu menjadi simbol Halloween berkat tradisi Irlandia, legenda Stingy Jack, dan kebiasaan mengukir sayuran yang berkembang di Amerika Serikat.
NIK tidak bisa langsung digunakan untuk mengecek riwayat judi online melalui SLIK OJK. Simak perbedaan catatan kredit dan penelusuran transaksi.
Xiaomi meluncurkan Redmi Book 2027 di China dalam ukuran 14 dan 16 inci. Laptop ini membawa prosesor Intel Wildcat Lake, layar 120 Hz, dan baterai 72 Wh.
Pedro Acosta akan bergabung dengan Ducati pada MotoGP 2027 dan 2028. Ia ingin belajar dari Marc Marquez sembari beradaptasi dengan tim barunya.
Timnas Indonesia U-15 menyingkirkan Moldova lewat adu penalti 9-8 setelah bermain imbang 3-3 dan melaju ke 16 besar Tier C.
Toprak Razgatlioglu menjalani operasi bahu setelah kecelakaan di Mandalika. Pebalap Yamaha itu harus mengakhiri musim debut MotoGP 2026 lebih cepat.