Terobosan Baterai China Bisa Terisi 4 Menit dan Tahan Bertahun-Tahun

Jumali
Jumali Senin, 13 Juli 2026 08:57 WIB
Terobosan Baterai China Bisa Terisi 4 Menit dan Tahan Bertahun-Tahun

Foto ilustrasi mengisi daya ponsel di Kereta Api. - Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan teknologi penyimpanan energi memasuki babak baru. Tim peneliti di China melaporkan keberhasilan mengembangkan baterai logam natrium atau sodium-metal battery (SMB) yang mampu diisi daya sangat cepat, bahkan diklaim dapat mencapai kapasitas penuh hanya dalam waktu empat menit.

Inovasi ini menarik perhatian karena menawarkan alternatif terhadap baterai lithium-ion yang selama ini menjadi standar utama untuk kendaraan listrik, ponsel pintar, laptop, hingga sistem penyimpanan energi skala besar.

Salah satu keunggulan utama teknologi natrium terletak pada ketersediaan bahan bakunya. Dilansir dari Live Science, natrium merupakan unsur yang jauh lebih melimpah dibandingkan sejumlah material penting yang digunakan dalam baterai lithium-ion. Kondisi ini membuka peluang penurunan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok mineral tertentu yang selama ini menjadi perhatian industri global.

Teknologi yang dikembangkan peneliti tersebut menggunakan konsep sodium-metal battery. Berbeda dengan baterai sodium-ion konvensional yang umumnya memanfaatkan grafit atau karbon keras sebagai anoda, baterai jenis ini menggunakan natrium logam yang memiliki potensi kapasitas energi lebih tinggi.

Meski menjanjikan, pengembangan baterai logam natrium selama bertahun-tahun menghadapi hambatan besar berupa pembentukan dendrit. Struktur mikroskopis berbentuk tajam ini dapat tumbuh selama proses pengisian maupun penggunaan baterai.

Apabila terus berkembang, dendrit berpotensi membentuk jalur yang menghubungkan anoda dan katoda sehingga meningkatkan risiko korsleting. Permasalahan tersebut menjadi tantangan utama yang selama ini menghambat pemanfaatan baterai logam natrium dalam skala komersial.

Pada baterai konvensional, interaksi antara anoda dan elektrolit akan membentuk lapisan pelindung yang dikenal sebagai solid electrolyte interphase (SEI). Namun pada sistem berbasis natrium, lapisan tersebut rentan mengalami kerusakan dan retakan sehingga memicu akumulasi natrium yang akhirnya berkembang menjadi dendrit.

Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti memperkenalkan elektrolit gel semi-padat baru bernama Sn-FB QSE. Material ini dirancang untuk menciptakan lingkungan internal baterai yang lebih stabil sehingga dapat menekan pertumbuhan dendrit sekaligus mengurangi potensi kebocoran.

Melalui penggunaan elektrolit tersebut, baterai diklaim mampu menerima pengisian daya berkecepatan tinggi tanpa mengalami penurunan performa yang signifikan. Stabilitas internal yang lebih baik juga diharapkan mampu memperpanjang umur pakai baterai dalam penggunaan jangka panjang.

Apabila hasil penelitian ini berhasil direplikasi dan dikembangkan menuju produksi massal, dampaknya bisa sangat besar bagi industri teknologi. Kendaraan listrik misalnya, berpotensi memiliki waktu pengisian daya yang jauh lebih singkat sehingga meningkatkan kenyamanan pengguna.

Selain itu, perangkat elektronik seperti smartphone dan laptop juga berpeluang mendapatkan teknologi baterai yang lebih murah dengan waktu pengisian yang lebih cepat dibandingkan teknologi saat ini.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian laboratorium. Klaim mengenai pengisian penuh dalam empat menit serta ketahanan penggunaan bertahun-tahun masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui berbagai pengujian komersial.

Aspek keamanan, biaya produksi, kepadatan energi, hingga performa dalam kondisi penggunaan nyata menjadi faktor penting yang harus diuji sebelum teknologi ini dapat dipasarkan secara luas.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nano-Micro Letters pada 21 Mei 2026. Publikasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi penyimpanan energi masa depan tidak lagi hanya bertumpu pada lithium.

Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah, potensi biaya lebih rendah, serta kemampuan pengisian daya supercepat, baterai logam natrium kini mulai dipandang sebagai salah satu kandidat kuat dalam revolusi teknologi energi global. Industri dan kalangan ilmiah pun menantikan langkah berikutnya untuk mengetahui apakah teknologi ini benar-benar mampu menjadi solusi penyimpanan energi yang lebih cepat, ekonomis, dan berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online