Peneliti Ungkap Teknologi Batu Sulsel Bertahan 40.000 Tahun

Newswire
Newswire Kamis, 16 Juli 2026 16:27 WIB
Peneliti Ungkap Teknologi Batu Sulsel Bertahan 40.000 Tahun

Foto ilustrasi riset di laboratorium dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, MAKASSAR— Penelitian kolaboratif di bawah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Arkeologi Sulawesi mengungkap sejarah panjang perkembangan teknologi peralatan batu yang menjadi cikal bakal budaya Toalean di Sulawesi Selatan. Hasil riset menunjukkan tradisi tersebut berkembang secara berkelanjutan selama sekitar 40.000 tahun dan tidak muncul secara tiba-tiba.

Temuan tersebut memberikan perspektif baru mengenai asal-usul budaya Toalean, salah satu tradisi prasejarah paling khas di Indonesia yang selama ini dikenal melalui artefak batu ikonik Maros Poin. Penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal Archaeological and Anthropological Science melalui artikel berjudul Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the 'Toalean' technocomplex.

Budaya Toalean Berakar dari Tradisi Lokal

Tim penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, Suryatman, mengatakan hasil riset memperlihatkan adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang di Sulawesi Selatan.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong."

Menurutnya, berbagai inovasi yang menjadi ciri khas budaya Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulsel selama puluhan ribu tahun.

Penelitian yang dilakukan di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, memperlihatkan budaya Toalean berkembang dari tradisi teknologi lokal yang telah berakar sejak masa Pleistosen Akhir.

Libatkan Peneliti Indonesia dan Australia

Riset ini melibatkan peneliti dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI SULAMPAPUA.

Selama beberapa dekade, asal-usul budaya Toalean dan hubungannya dengan tradisi prasejarah yang lebih tua di Sulawesi Selatan masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog. Hasil penelitian terbaru ini memperkuat dugaan bahwa perkembangan budaya tersebut berlangsung secara bertahap.

Leang Panninge Simpan Sejarah Penting Manusia Purba

Guru Besar Arkeologi Universitas Hasanuddin, Prof. Akin Duli, menilai Leang Panninge merupakan salah satu situs prasejarah terpenting di Indonesia karena menyimpan bukti mengenai manusia sekaligus perkembangan budayanya.

"Leang Panninge merupakan salah satu situs paling penting di Indonesia karena menyimpan bukti mengenai manusia dan budayanya sekaligus. Penemuan Bessé' sebelumnya telah membuka jendela baru tentang sejarah populasi manusia di Sulawesi."

Ia menjelaskan penelitian terbaru melengkapi temuan sebelumnya dengan memperlihatkan bahwa tradisi teknologi lokal telah berkembang sejak sekitar 40.000 tahun lalu hingga memasuki periode budaya Toalean.

"Bersama-sama, kedua penelitian ini memperlihatkan betapa pentingnya Sulawesi dalam memahami sejarah manusia di kawasan Wallacea," ujarnya.

Bukti Evolusi Budaya di Kawasan Wallacea

Profesor Adam Brumm dari Griffith University menilai penelitian tersebut memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman evolusi budaya manusia di Kepulauan Asia Tenggara.

"Studi ini memberikan bukti penting bahwa inovasi teknologi di Wallacea dibangun di atas tradisi lokal yang mendalam. Ciri khas budaya Toalean ini muncul melalui proses adaptasi, eksperimen, dan pengembangan budaya yang panjang, berlangsung selama puluhan ribu tahun," katanya.

Sulawesi Jadi Pusat Kreativitas Manusia Prasejarah

Perwakilan Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi, Budianto Hakim, mengatakan temuan tersebut harus dipahami bersama perkembangan budaya lain di kawasan karst Maros-Pangkep.

"Ketika kita berbicara tentang Sulawesi Selatan 40.000 tahun lalu, kita tidak hanya berbicara tentang alat batu. Pada periode yang sama, kawasan karst Maros-Pangkep juga menjadi tempat berkembangnya tradisi seni cadas tertua di dunia."

Menurutnya, masyarakat prasejarah di kawasan tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi dan kreativitas tinggi yang tercermin melalui perkembangan teknologi maupun ekspresi simbolik.

Sementara itu, perwakilan BRIN, Adhi Agus Oktaviana, yang meneliti lukisan dinding karst Maros-Pangkep, mengungkapkan bahwa inovasi teknologi masyarakat prasejarah Sulawesi Selatan sejak 40.000 tahun lalu tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga didorong kemampuan teknis yang mendukung lahirnya ekspresi artistik dan budaya yang maju pada masanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online