Indonesia Borong 2 Emas di WCS Guiyang, Raharjati-Rajiah Juara
Raharjati Nursamsa dan Rajiah Sallsabillah meraih emas mixed relay WCS Guiyang 2026 dengan catatan waktu 11,35 detik.
Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Maraknya video deepfake yang beredar di internet membuat proses verifikasi konten digital menjadi semakin penting. Video hasil manipulasi kecerdasan buatan kini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan misinformasi, penipuan, hingga propaganda.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nvidia memperkenalkan teknologi terbaru bernama synthetic video detector, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendeteksi video hasil rekayasa AI dengan kecepatan sangat tinggi.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu mengklaim sistem tersebut mampu memeriksa video beresolusi Full HD 1080p hanya dalam waktu sekitar 22 milidetik saat dijalankan pada perangkat yang menggunakan kartu grafis RTX.
Kemampuan tersebut memungkinkan proses identifikasi video palsu dilakukan secara real time atau hampir real time, sebuah langkah yang dinilai penting di tengah meningkatnya volume konten digital yang beredar setiap hari.
Menurut Nvidia, teknologi ini dikembangkan bukan untuk menggantikan proses pemeriksaan fakta maupun analisis forensik digital yang sudah ada. Sebaliknya, synthetic video detector berfungsi sebagai lapisan verifikasi tambahan agar organisasi dapat lebih yakin terhadap keaslian sebuah video sebelum dipublikasikan atau disebarluaskan.
"Tujuannya bukan menggantikan proses pemeriksaan fakta atau analisis forensik, melainkan menambah lapisan verifikasi agar organisasi lebih yakin terhadap keaslian video," kata Nvidia seperti dikutip dari Digital Trends, Rabu (22/7/2026).
Salah satu keunggulan utama teknologi tersebut adalah kemampuannya untuk diintegrasikan langsung ke sistem kerja yang sudah digunakan perusahaan, ruang redaksi media, maupun stasiun penyiaran. Dengan demikian, pengguna tidak perlu membangun platform moderasi baru dari awal.
Dalam proses kerjanya, AI milik Nvidia menganalisis video secara detail dari satu frame ke frame berikutnya. Setelah pemeriksaan selesai, sistem akan menghasilkan skor probabilitas yang menunjukkan kemungkinan apakah video tersebut asli atau merupakan hasil manipulasi AI.
Pendekatan ini memungkinkan pengguna memperoleh indikator awal sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih mendalam.
Selain menawarkan kecepatan tinggi, Nvidia juga mengklaim tingkat akurasi yang cukup menjanjikan. Pada video tanpa kompresi, synthetic video detector mampu mencapai tingkat akurasi sekitar 92 persen.
Ketika video mengalami kompresi sebesar 15 persen, tingkat akurasinya masih berada di angka 87 persen. Sementara untuk video dengan kompresi hingga 50 persen, akurasi tercatat sekitar 82 persen.
Tingkat kompresi menjadi tantangan besar dalam pendeteksian deepfake karena sebagian besar platform digital secara otomatis mengecilkan ukuran file video yang diunggah pengguna.
Platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram menerapkan proses kompresi untuk menghemat bandwidth dan mempercepat distribusi konten. Namun, langkah tersebut juga dapat menghilangkan detail visual kecil yang sering menjadi petunjuk penting dalam mengidentifikasi manipulasi AI.
Meski demikian, Nvidia menilai kemampuan mempertahankan akurasi hingga 82 persen pada video yang telah dikompresi 50 persen merupakan pencapaian signifikan dibandingkan berbagai metode deteksi sebelumnya.
Kehadiran synthetic video detector menjadi bagian dari upaya industri teknologi untuk mengimbangi perkembangan AI generatif yang semakin canggih. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi pembuat gambar, suara, dan video sintetis berkembang sangat cepat sehingga semakin sulit dibedakan dari konten asli.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, mulai dari media massa, dunia pendidikan, perusahaan swasta, hingga lembaga pemerintahan.
Dengan teknologi baru ini, Nvidia berharap organisasi media, perusahaan, dan berbagai institusi dapat memiliki alat tambahan yang cepat dan akurat untuk membantu memverifikasi keaslian video sebelum informasi disebarluaskan kepada publik.
Di tengah meningkatnya ancaman misinformasi berbasis AI, kemampuan mendeteksi deepfake secara cepat diperkirakan akan menjadi salah satu kebutuhan utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap informasi digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Raharjati Nursamsa dan Rajiah Sallsabillah meraih emas mixed relay WCS Guiyang 2026 dengan catatan waktu 11,35 detik.
Anak 7 tahun ditemukan meninggal di Sungai Winongo Kecil Bantul. Korban sempat shalat zuhur sebelum bermain seorang diri di sekitar sungai.
Presiden Dewan ICAO Toshiyuki Onuma meninjau fasilitas pelatihan dan navigasi udara Indonesia yang berstandar internasional.
Kereta kelinci membawa 46 warga Desa Beji terguling di Gunung Pegat Klaten. Empat penumpang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
AISITS merekam jejak Virgo Transport 8 hingga pukul 22.33 WIB dengan kecepatan 12,9 knot sebelum sinyal kapal berhenti terdeteksi.
Gunungkidul bersiap menghadapi revalidasi Geopark Gunungsewu sebagai UNESCO Global Geopark pada 2027 dengan membenahi sejumlah catatan UNESCO.