Bos OpenAI Sebut Dunia Sudah Masuk Era Singularitas Teknologi

Jumali
Jumali Rabu, 29 Juli 2026 12:57 WIB
Bos OpenAI Sebut Dunia Sudah Masuk Era Singularitas Teknologi

Ilustrasi kecerdasan manusia

Harianjogja.com, JOGJA—CEO OpenAI Sam Altman kembali menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa dunia kini telah memasuki era singularitas kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai seberapa cepat perkembangan AI akan mengubah kehidupan manusia dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam podcast Relentless yang dikutip Rabu (29/7/2026), Altman menyebut kemajuan teknologi saat ini telah membawa dunia ke fase yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bahan diskusi kalangan ilmuwan dan pelaku industri teknologi.

"Kita sekarang, seperti, berada di era singularitas," kata Altman, dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena konsep singularitas selama ini identik dengan teori futuristik yang menggambarkan AI berkembang melampaui kecerdasan manusia dan mampu meningkatkan kemampuannya sendiri tanpa campur tangan manusia.

Dalam berbagai karya fiksi ilmiah, singularitas sering digambarkan sebagai titik balik peradaban. Film *Transcendence* yang dirilis pada 2014, misalnya, menampilkan seorang ilmuwan yang mengunggah kesadarannya ke dalam sistem komputer hingga memiliki kemampuan nyaris tak terbatas.

Sementara itu, film *Ex Machina* yang tayang pada 2015 menggambarkan robot humanoid dengan kecerdasan tinggi yang mampu memanipulasi manusia dan bertindak secara mandiri.

Meski sering muncul dalam budaya populer, singularitas masih menjadi konsep teoritis yang diperdebatkan para ilmuwan. Secara umum, istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika AI mampu memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri secara berkelanjutan sehingga laju kemajuannya melampaui kemampuan manusia untuk memahami maupun mengendalikannya.

Sebagian pakar melihat kemungkinan tersebut sebagai ancaman karena berpotensi menimbulkan risiko yang belum pernah dihadapi manusia sebelumnya. Namun ada pula yang meyakini teknologi tersebut dapat membuka peluang besar untuk memecahkan berbagai persoalan global.

Altman termasuk dalam kelompok yang memandang perkembangan AI secara optimistis. Dalam podcast tersebut, ia mengatakan momen yang selama ini dianggap sebagai konsep masa depan kini mulai terlihat dalam kehidupan nyata.

"Sekarang kita benar-benar berada di momen yang dulu hanya kita bicarakan saat makan siang dengan santai dan tidak terlalu serius," ujarnya.

Altman bahkan menyebut dirinya telah lama menantikan perkembangan tersebut.

"Saya sudah menunggu momen ini sepanjang hidup saya, dan saya pikir ini akan luar biasa, sangat positif, dan hebat untuk dunia," katanya.

Pandangan optimistis itu berbeda dengan sebagian tokoh industri AI yang lebih menekankan aspek keselamatan dan risiko teknologi. Dalam podcast yang sama, Altman mengkritik sejumlah pemimpin perusahaan AI yang menurutnya terlalu sering menggambarkan masa depan AI dengan skenario menakutkan.

Meski tidak menyebut nama secara langsung, komentarnya dianggap mengarah kepada CEO Anthropic, Dario Amodei. Selama beberapa tahun terakhir, Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal memperingatkan risiko AI yang berkembang tanpa pengawasan memadai.

"Saya juga berpikir beberapa gambaran masa depan yang disampaikan perusahaan lain cukup menakutkan. Saya akan memastikan pandangan itu mendapat tantangan dan tidak menjadi kenyataan," ujar Altman.

Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan perdebatan yang semakin tajam di industri AI global. Di satu sisi, perusahaan teknologi berlomba mengembangkan model AI yang semakin canggih. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dibanding kemampuan manusia untuk mengatur dan mengawasinya.

Anthropic, perusahaan pengembang chatbot Claude, pada Juni lalu menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI besar memiliki mekanisme bersama yang memungkinkan penghentian sementara pengembangan sistem AI tertentu apabila risiko yang muncul dianggap terlalu besar.

Dalam unggahan blog pada 4 Juni, Anthropic menyatakan bahwa dunia sebaiknya memiliki opsi untuk memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan AI ketika teknologi tersebut mencapai tingkat kemampuan yang berpotensi membahayakan.

Sikap tersebut sejalan dengan posisi Anthropic yang sejak awal menempatkan keselamatan dan pengendalian AI sebagai fokus utama pengembangan teknologi mereka.

Di sisi lain, OpenAI tetap menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri AI konsumen global. Perusahaan yang dipimpin Altman itu dikenal sebagai pengembang ChatGPT, layanan AI yang digunakan ratusan juta orang di berbagai negara.

Pernyataan Altman mengenai singularitas juga sejalan dengan prediksinya tahun lalu yang menyebut kecerdasan buatan berpotensi melampaui kemampuan manusia di hampir seluruh bidang pada 2030. Jika prediksi tersebut mendekati kenyataan, perdebatan mengenai manfaat dan risiko AI diperkirakan akan semakin intens dalam beberapa tahun mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online