Bos Meta Sebut Blokir AI China Bukan Cara Menang dari Beijing

Jumali
Jumali Kamis, 30 Juli 2026 12:27 WIB
Bos Meta Sebut Blokir AI China Bukan Cara Menang dari Beijing

Mark Zuckerberg, CEO Facebook/mashable

Harianjogja.com, JOGJA—CEO Meta Mark Zuckerberg menilai Amerika Serikat tidak akan memenangkan persaingan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan hanya membatasi atau memblokir model AI yang dikembangkan perusahaan-perusahaan China.

Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan pada Selasa (28/7/2026), Zuckerberg menegaskan bahwa langkah paling efektif bagi Amerika bukanlah menghalangi pesaing, melainkan meningkatkan kemampuan inovasi dan daya saing perusahaan teknologi dalam negeri.

Menurut pendiri Meta tersebut, perusahaan-perusahaan teknologi AS perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai hambatan yang membuat mereka sulit bersaing dengan pengembang AI asal China.

Zuckerberg berpandangan bahwa keberhasilan dalam perlombaan teknologi tidak ditentukan oleh seberapa banyak pesaing dibatasi, melainkan oleh kemampuan menghasilkan produk dan teknologi yang lebih unggul.

Ia menyampaikan pandangan tersebut di tengah meningkatnya perdebatan di Washington mengenai perkembangan pesat industri AI China yang dinilai mulai mampu menyaingi dominasi perusahaan-perusahaan Amerika.

Salah satu model yang saat ini menjadi perhatian adalah Kimi K3 yang dikembangkan perusahaan teknologi Beijing, Moonshot AI. Model tersebut mendapat sorotan luas karena dinilai memiliki kemampuan pemrograman yang kompetitif dan menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan AI generatif.

Kemunculan Kimi K3 memunculkan perdebatan di kalangan pengamat teknologi dan pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Sebagian pihak menilai kemajuan perusahaan China tidak lepas dari dugaan pemanfaatan teknologi Barat, sementara pihak lain melihat perkembangan tersebut sebagai hasil investasi riset yang semakin matang.

Di tengah perkembangan itu, pemerintah Amerika Serikat justru mengambil langkah yang lebih tegas terhadap sejumlah sektor teknologi China.

Pemerintahan Presiden Donald Trump pada Selasa (28/7/2026) mengumumkan kebijakan yang membatasi impor robot baru dan inverter daya asal China. Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya melindungi pembangunan infrastruktur AI Amerika Serikat dari potensi risiko keamanan nasional.

Selain alasan keamanan, langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat industri strategis dalam negeri dan mendorong relokasi produksi teknologi penting ke wilayah Amerika Serikat.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan China berpotensi menghadapi sanksi finansial maupun pembatasan perdagangan apabila terbukti melanggar aturan terkait teknologi.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan pemerintah AS adalah memasukkan perusahaan tertentu ke dalam daftar entitas Departemen Perdagangan AS. Status tersebut dapat membatasi akses perusahaan terhadap teknologi, perangkat lunak, maupun komponen yang berasal dari Amerika Serikat.

Ancaman tersebut muncul di tengah kekhawatiran Washington mengenai dugaan pencurian teknologi dan transfer pengetahuan yang tidak sah kepada perusahaan-perusahaan China.

Meski demikian, Zuckerberg tetap berpendapat bahwa pendekatan pembatasan bukan solusi utama dalam memenangkan persaingan AI global. Ia menilai perusahaan Amerika harus fokus mengatasi kelemahan internal, mempercepat inovasi, dan memperkuat investasi riset agar tetap menjadi pemimpin dalam perkembangan teknologi masa depan.

Pandangan Zuckerberg menambah warna dalam perdebatan yang semakin kompleks mengenai hubungan antara keamanan nasional, persaingan ekonomi, dan perkembangan kecerdasan buatan. Di satu sisi, pemerintah AS berupaya memperketat pengawasan terhadap teknologi China. Di sisi lain, sebagian pelaku industri teknologi menilai kompetisi yang sehat dan inovasi berkelanjutan merupakan kunci utama untuk mempertahankan keunggulan global.

Perdebatan tersebut diperkirakan akan terus berkembang seiring pesatnya kemajuan AI dan meningkatnya persaingan antara dua ekonomi terbesar dunia dalam memperebutkan posisi sebagai pemimpin teknologi masa depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online