Meta Gelontorkan Rp2.617 Triliun untuk AI, Laba Justru Turun

Jumali
Jumali Jum'at, 31 Juli 2026 11:57 WIB
Meta Gelontorkan Rp2.617 Triliun untuk AI, Laba Justru Turun

Logo Meta. Ist

Harianjogja.com, JOGJA—Meta Platforms, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, mengambil langkah berani dengan menggelontorkan dana hingga 145 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.617 triliun untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan sepanjang tahun 2026.

Investasi jumbo ini merupakan bagian dari ambisi besar CEO Mark Zuckerberg untuk menghadirkan "personal superintelligence", sebuah asisten AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap pengguna di seluruh dunia.

Namun, ambisi visioner ini harus dibayar mahal. Membengkaknya pengeluaran untuk AI membuat laba Meta pada kuartal II-2026 berada di bawah perkiraan analis, dan memicu penurunan harga saham perusahaan.

Bagi para pengguna media sosial di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati karena akan berdampak pada fitur-fitur AI yang akan mereka nikmati di masa depan, mulai dari rekomendasi konten yang lebih personal hingga asisten digital yang mampu membantu berbagai aktivitas sehari-hari.

Laba Turun Meskipun Pendapatan Naik

Meta membukukan pendapatan sebesar 60,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.097 triliun pada kuartal II-2026. Angka tersebut sedikit melampaui perkiraan analis yang mematok 60,23 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.087 triliun. Namun, kabar baik di sisi pendapatan tidak diikuti dengan kinerja laba yang memuaskan.

Laba per saham Meta hanya mencapai 6,18 dolar AS atau sekitar Rp111.532, lebih rendah dari proyeksi Wall Street sebesar 7,14 dolar AS atau sekitar Rp128.852 per lembar saham. Menyusul diterbitkannya laporan keuangan itu, saham Meta sempat turun hampir 8 persen dalam perdagangan setelah penutupan bursa, sebuah sinyal bahwa investor merespons negatif terhadap meningkatnya pengeluaran perusahaan.

Pengeluaran Melonjak, Capex AI Membengkak

Chief Financial Officer Meta, Susan Li, mengungkapkan bahwa perusahaan kini memperkirakan total belanja operasional sepanjang tahun mencapai 165 miliar hingga 169 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.978 triliun hingga Rp3.050 triliun, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 162 miliar hingga 169 miliar dolar AS.

Meta juga menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi 130 miliar hingga 145 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.346 triliun hingga Rp2.617 triliun. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk membangun infrastruktur AI yang masif, termasuk pusat data, server, dan jaringan pendukung lainnya.

Selain investasi AI, Meta juga mencatat beban hukum sebesar 2,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp43,3 triliun pada kuartal II-2026 yang turut meningkatkan total pengeluaran perusahaan. Kombinasi dari berbagai faktor ini menekan margin laba Meta secara signifikan.

Visi Personal Superintelligence Zuckerberg

Sehari sebelum laporan keuangan dirilis, Zuckerberg gencar mempromosikan visi AI perusahaan melalui artikel opini di Wall Street Journal dan wawancara dengan sejumlah media. Dalam opininya, Zuckerberg menegaskan bahwa AI supercerdas seharusnya dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya dikuasai oleh segelintir perusahaan besar.

"Saya rasa sangat kecil kemungkinan bahwa lima tahun dari sekarang tidak akan ada miliaran orang yang memiliki agen pribadi yang memahami tujuan mereka dan bekerja untuk mereka selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, " ujar Zuckerberg dalam paparan kinerja kuartalan yang dikutip dari The Guardian.

Ia meyakini bahwa ke depan, agen AI tidak lagi difungsikan sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan pengguna, melainkan berkembang menjadi asisten digital yang mampu memahami tujuan pengguna dan membantu menyelesaikan berbagai aktivitas sehari-hari secara mandiri. Visi ini sejalan dengan investasi besar-besaran yang dilakukan Meta untuk membangun infrastruktur AI yang mumpuni.

Tantangan Mengejar Ketertinggalan dari Kompetitor

Besarnya belanja kecerdasan buatan menjadi perhatian investor, karena hingga kini Meta masih berupaya mengejar ketertinggalan dari OpenAI dan Anthropic dalam pengembangan model AI. Kedua perusahaan tersebut telah lebih dulu merilis model AI generatif yang canggih dan digunakan secara luas oleh publik dan korporasi.

Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Meta juga tengah menyiapkan bisnis cloud AI untuk memonetisasi investasi infrastruktur yang telah dibangun. Langkah ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru yang signifikan bagi perusahaan di masa depan, sekaligus membuktikan bahwa investasi besar yang dilakukan saat ini akan membuahkan hasil jangka panjang.

Dampak bagi Pengguna di Indonesia

Bagi pengguna media sosial di Indonesia, investasi besar Meta di bidang AI menjanjikan pengalaman yang lebih personal dan cerdas di masa depan. Fitur-fitur seperti rekomendasi konten yang lebih akurat, asisten digital yang mampu membantu mengatur jadwal, hingga kemampuan untuk membuat konten kreatif dengan bantuan AI akan semakin canggih.

Namun, pertanyaan besar yang masih menggantung adalah apakah Meta mampu mengubah investasi besar ini menjadi keuntungan yang berkelanjutan, atau justru akan terus membebani kinerja keuangan perusahaan. Jawabannya akan sangat menentukan arah pengembangan produk Meta di masa depan, termasuk bagaimana pengguna di Indonesia akan merasakan manfaat dari teknologi AI yang sedang dibangun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online