Sprint Race MotoGP Inggris Malam Ini, Marc Marquez Mulai Jadi Ancaman
Sprint race MotoGP Inggris 2026 digelar malam ini di Silverstone, 22.00 WIB live Vidio. Marc Marquez mulai ancam Jorge Martin di puncak klasemen. Bezzecchi siap
Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Kecerdasan buatan (AI) kembali mencatatkan lompatan besar di dunia sains. Tim peneliti dari Universitas Stanford dan Arc Institute, Amerika Serikat, berhasil menggunakan AI untuk merancang virus baru yang tidak pernah ditemukan di alam.
Terobosan tersebut dinilai membuka peluang lahirnya terapi biologis generasi baru untuk menghadapi ancaman bakteri kebal antibiotik atau superbug yang semakin mengkhawatirkan di berbagai negara.
Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science pada Kamis (6/8/2026). Dalam riset tersebut, para ilmuwan menunjukkan bahwa AI kini tidak hanya mampu menghasilkan teks, gambar, atau kode komputer, tetapi juga dapat membantu merancang sistem biologis utuh hingga tingkat genom.
AI Merancang Kode Genetik Virus
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan memanfaatkan dua model bahasa genom bernama Evo 1 dan Evo 2. Cara kerjanya mirip dengan model AI generatif yang digunakan pada chatbot modern.
Jika model bahasa seperti ChatGPT memprediksi susunan kata untuk membentuk kalimat, Evo 1 dan Evo 2 memprediksi urutan basa genetik untuk membentuk genom organisme.
Model tersebut dilatih menggunakan jutaan data genom alami dari berbagai makhluk hidup, termasuk virus, bakteri, tumbuhan, hingga hewan. Dengan bekal data biologis dalam jumlah besar, AI mampu mempelajari pola-pola genetik yang selama ini terbentuk melalui proses evolusi alam.
Dari hasil rancangan digital yang dibuat AI, para peneliti kemudian mensintesis hampir 300 genom secara kimiawi di laboratorium.
Eksperimen tersebut menghasilkan 16 bakteriofag buatan yang berhasil berkembang dan menunjukkan karakteristik biologis yang berbeda-beda.
Apa Itu Bakteriofag?
Bakteriofag atau fag merupakan virus yang secara khusus menginfeksi bakteri. Berbeda dengan virus yang menyerang manusia, fag hanya menargetkan sel bakteri tertentu.
Karena kemampuannya membunuh bakteri, fag telah lama dipelajari sebagai alternatif pengobatan untuk mengatasi infeksi yang tidak lagi mempan terhadap antibiotik.
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi fag kembali mendapat perhatian dunia medis karena meningkatnya kasus resistansi antibiotik yang menyebabkan munculnya superbug.
Lebih Efektif Membunuh E. coli
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah performa virus hasil rancangan AI yang mampu mengungguli virus alami.
Berdasarkan pengujian laboratorium, sejumlah bakteriofag sintetis tersebut menunjukkan kemampuan lebih agresif dalam menginfeksi dan menghancurkan bakteri Escherichia coli (E. coli).
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa AI tidak hanya meniru desain biologis yang sudah ada di alam, tetapi juga mampu menghasilkan kombinasi genom baru dengan kemampuan yang lebih baik.
Pencapaian ini dinilai melampaui sejumlah pendekatan genomika sintetis yang selama ini digunakan, termasuk teknik evolusi terarah (directed evolution) maupun rekayasa genetik rasional.
Harapan Baru Melawan Superbug
Para peneliti menilai desain genom berbasis AI dapat menjadi fondasi bagi pengembangan terapi biologis yang lebih cepat dan presisi.
Salah satu potensi terbesar teknologi ini adalah menciptakan terapi fag adaptif yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan bakteri patogen yang terus berevolusi.
Kemampuan tersebut sangat penting mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama memperingatkan ancaman resistansi antimikroba sebagai salah satu tantangan kesehatan global terbesar pada abad ini.
Jika teknologi ini terus berkembang, AI berpotensi membantu ilmuwan merancang virus terapeutik, mikroorganisme sintetis, hingga sistem biologis kompleks yang dapat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit di masa depan.
Tetap Perlu Pengawasan Ketat
Meski menjanjikan, para ilmuwan menekankan bahwa pengembangan teknologi desain genom berbasis AI harus dilakukan dengan pengawasan ketat.
Riset semacam ini menyentuh aspek biosekuriti dan etika ilmiah karena melibatkan penciptaan organisme biologis baru yang tidak ditemukan di alam.
Karena itu, berbagai tahap pengujian keamanan dan regulasi tetap diperlukan sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas dalam dunia medis.
Namun demikian, keberhasilan tim Stanford dan Arc Institute menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan mulai memainkan peran penting dalam membuka babak baru biologi sintetis dan pengobatan modern. Apa yang sebelumnya hanya menjadi konsep dalam laboratorium kini mulai mendekati kenyataan, dengan harapan menghadirkan solusi baru untuk menghadapi penyakit yang semakin sulit ditangani oleh teknologi medis konvensional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sprint race MotoGP Inggris 2026 digelar malam ini di Silverstone, 22.00 WIB live Vidio. Marc Marquez mulai ancam Jorge Martin di puncak klasemen. Bezzecchi siap
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Sabtu 8 Agustus 2026. Emas Antam 1 gram turun Rp31.000 menjadi Rp2,756 juta.
Pelatih Singapura Gavin Lee bangga timnya menahan Indonesia 1-1 dan lolos ke semifinal Piala AFF 2026. Ia memuji mental pemain yang tetap fokus di tengah tekana
Jadwal SEA V Cup 2026: Timnas Voli Putri Indonesia hadapi Thailand hari ini pukul 16.30 WIB. Usai kalahkan Vietnam 3-2, skuad Merah Putih incar kemenangan kedua
Check-in bagasi domestik di Bandara Haneda Jepang wajib 30 menit sebelum berangkat mulai 1 September 2026. Berlaku untuk ANA, JAL, dan 4 maskapai lainnya.
Sebanyak 188 kelompok tani di Bantul menerima bantuan APBN 2026, mayoritas untuk penguatan irigasi. Program ini diharapkan mempercepat tanam dan meningkatkan pr