AI Peretas vs AI Pembela: OpenAI Luncurkan Model untuk Cari Zero-Day

Jumali
Jumali Rabu, 12 Agustus 2026 10:07 WIB
AI Peretas vs AI Pembela: OpenAI Luncurkan Model untuk Cari Zero-Day

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Sebuah paradoks menarik terjadi di dunia kecerdasan buatan (AI). Kemampuan AI untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan terus meningkat, menciptakan ancaman baru bagi infrastruktur digital global. Namun, di tangan yang tepat, senjata yang sama bisa menjadi perisai terkuat.

Dilansir dari Neowin, OpenAI merespons dilema ini dengan meluncurkan GPT-5.6-Cyber, model AI yang dirancang khusus untuk membantu para peneliti keamanan mendeteksi dan menambal kerentanan sebelum para peretas memanfaatkannya.

Model ini bukan sekadar versi "aman" dari GPT-5.6 Sol, andalan OpenAI. GPT-5.6-Cyber sengaja dibuat dengan pembatasan yang lebih longgar untuk tugas-tugas keamanan siber yang bersifat dual-use—istilah yang merujuk pada kemampuan yang dapat digunakan untuk tujuan keamanan, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menyerang sistem. Dengan kata lain, OpenAI memberikan "izin khusus" kepada model ini untuk melakukan hal-hal yang biasanya diblokir oleh filter keamanan standar.

Daybreak: Program Akses Dua Tingkat untuk Peneliti Keamanan

Untuk memastikan model canggih ini tidak jatuh ke tangan yang salah, OpenAI membatasi aksesnya melalui program bernama Daybreak. Program ini memiliki dua tingkat akses:

  • Daybreak Blue: Menggunakan model AI serbaguna OpenAI, termasuk GPT-5.6 Sol, dengan pengamanan yang disesuaikan untuk pekerjaan keamanan defensif. Akses ini ditujukan untuk kebutuhan keamanan yang lebih umum, seperti mencari celah dan memeriksa keamanan kode.
  • Daybreak Red: Menyediakan model khusus keamanan siber seperti GPT-5.6-Cyber. Tingkat ini ditujukan untuk penelitian kerentanan dan pengujian keamanan yang lebih lanjut, termasuk validasi eksploit dan penelitian kerentanan tingkat lanjut.

Kedua tingkat akses ini kini juga tersedia melalui AWS, memungkinkan mitra keamanan mengakses model-model tersebut di lingkungan cloud yang mereka percayai.

95% Tugas Keamanan Siber Terselesaikan

Seberapa mampukah GPT-5.6-Cyber? OpenAI mengklaim model ini mampu menyelesaikan 95 persen permintaan keamanan siber tingkat lanjut dalam evaluasi internal yang disebut Advanced Cybersecurity Completion Rate. Evaluasi ini menguji kemampuan model dalam mengerjakan berbagai tugas keamanan siber, termasuk exploit chain, melewati sistem autentikasi, dan meningkatkan hak akses (privilege escalation).

Angka ini jauh melampaui pendahulunya, GPT-5.5-Cyber, yang hanya mampu menyelesaikan 57,3 persen permintaan. Bahkan GPT-5.6 Sol—model flagship OpenAI yang sangat canggih—hanya mampu menyelesaikan 1,5 persen permintaan dengan sistem pengamanan normal, dan meningkat menjadi 2 persen ketika diakses melalui Daybreak Blue.

Bukti Nyata: Menemukan Dua Zero-Day di Chrome

GPT-5.6-Cyber bukan sekadar janji di atas kertas. OpenAI mengatakan model tersebut telah digunakan untuk menemukan kerentanan yang sebelumnya tidak diketahui pada perangkat lunak yang digunakan di dunia nyata.

Model ini berhasil menemukan dua kerentanan pada V8, mesin JavaScript yang digunakan oleh Chrome untuk mengeksekusi kode. Kedua kerentanan itu—yang kemudian diberi kode CVE-2026-15903—dapat digunakan secara berantai untuk merusak memori dan keluar dari heap sandbox V8, sebuah mekanisme keamanan yang dirancang untuk mengisolasi kode berbahaya. Google segera memperbaiki celah tersebut setelah dilaporkan oleh OpenAI.

Selain itu, GPT-5.6-Cyber juga disebut berhasil membantu menemukan ratusan kerentanan lain pada sistem operasi komputer dan ponsel, serta sejumlah sistem basis data.

Mengapa Ini Penting: Jendela Kerentanan yang Kian Sempit

Peluncuran GPT-5.6-Cyber terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kemampuan AI untuk melakukan serangan siber secara otonom. Semakin cepat AI dapat menemukan dan mengeksploitasi kerentanan, semakin sempit "jendela" yang dimiliki para pembela untuk menambal sistem mereka sebelum dieksploitasi.

Dengan memberikan alat yang sama kuatnya kepada para peneliti keamanan, OpenAI berharap dapat menyeimbangkan medan pertempuran. GPT-5.6-Cyber memungkinkan para pembela untuk menemukan kerentanan dengan kecepatan yang sama—atau bahkan lebih cepat—dari para penyerang. Ini adalah langkah berani yang mengakui realitas baru: di era AI, pertahanan terbaik adalah serangan proaktif.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online