Bandar Antariksa di Biak, Rusia Tegaskan Belum Ada Kerja Sama

Newswire
Newswire Kamis, 27 Agustus 2026 13:37 WIB
Bandar Antariksa di Biak, Rusia Tegaskan Belum Ada Kerja Sama

Ilustrasi stasiun luar angkasa./Magnific

Harianjogja.com, JAKARTA—Rusia dan Indonesia masih berada pada tahap awal pembahasan mengenai potensi kolaborasi pengembangan bandar antariksa di Biak, Papua. Duta Besar (Dubes) Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menegaskan belum ada perjanjian kerja sama yang ditandatangani, sekaligus membantah isu bahwa fasilitas tersebut akan digunakan sebagai pangkalan militer Rusia.

Menurut Tolchenov, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengundang serta berdiskusi dengan badan antariksa Rusia, Roscosmos, mengenai kemungkinan kerja sama pengembangan bandar antariksa di Biak.

“Kami bahkan belum sampai pada tahap awal kerja sama, pertemuan itu baru sebatas diskusi awal,” kata Tolchenov dalam media briefing di Jakarta, Rabu.

Belum Ada Perjanjian Rusia dan Indonesia

Tolchenov mengonfirmasi hingga kini belum ada satupun perjanjian kerja sama yang ditandatangani antara Rusia dan Indonesia terkait proyek tersebut.

Ia juga menyebut ada kemungkinan BRIN sedang melakukan pembahasan serupa dengan negara lain untuk mencari mitra pengembangan bandar antariksa.

Meski prosesnya masih berupa diskusi awal, Rusia tetap menyatakan komitmennya untuk mendukung rencana pengembangan bandar antariksa pertama milik Indonesia. Tolchenov menilai Rusia memiliki teknologi yang sudah teruji di bidang keantariksaan.

"Keputusan sepenuhnya ada di tangan BRIN untuk memilih mitra. Namun jika Roscosmos dan Rusia yang dipilih, kami akan sangat senang dan saya yakin kami mampu mewujudkan proyek ini untuk Indonesia," ucapnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan mengenai mitra pengembangan bandar antariksa Biak berada di tangan BRIN. Rusia, melalui Roscosmos, menyatakan kesiapan apabila nantinya dipilih untuk terlibat dalam proyek tersebut.

Rusia Bantah Isu Pangkalan Militer di Biak

Selain menjelaskan status pembicaraan dengan Indonesia, Tolchenov juga menanggapi isu mengenai pemanfaatan bandar antariksa Biak sebagai pangkalan udara Rusia.

Ia menyangkal isu tersebut dan menegaskan fasilitas keantariksaan di Biak merupakan murni milik Indonesia. Menurut dia, fasilitas itu tidak memiliki fungsi ganda untuk kepentingan pihak asing.

Tolchenov percaya Indonesia sebagai negara yang berdaulat tidak akan pernah memperbolehkan wilayahnya menjadi pangkalan militer bagi negara lain.

“Kalaupun nanti Indonesia menggunakan bandar antariksa itu untuk meluncurkan satelit militer atau fasilitas keantariksaan lainnya, itu adalah keputusan Indonesia,” kata Tolchenov.

Indonesia Percepat Pengembangan Bandar Antariksa

Pemerintah Indonesia saat ini tengah berupaya mempercepat pengembangan bandar antariksa di Biak. Salah satu langkah yang telah dilakukan ialah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa pada Mei 2026.

Pengembangan bandar antariksa tersebut tidak hanya dikaitkan dengan Rusia. Indonesia juga sedang menjajaki kerja sama di bidang keantariksaan dengan India.

Pembahasan dengan India terungkap dalam kunjungan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi ke Jakarta pada awal Juli lalu.

Dengan demikian, pembicaraan Indonesia dengan Rusia melalui BRIN dan Roscosmos masih berada pada tahap diskusi awal. Belum ada satupun perjanjian kerja sama yang ditandatangani, sementara keputusan mengenai mitra pengembangan bandar antariksa Biak sepenuhnya berada di tangan BRIN.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online