Gen Z Mulai Tinggalkan Chat Instan, Kirim Pesan Pakai Merpati

Jumali
Jumali Sabtu, 29 Agustus 2026 17:07 WIB
Gen Z Mulai Tinggalkan Chat Instan, Kirim Pesan Pakai Merpati

Siluet tangan seorang pria memegang ponsel di depan logo Telegram./Bloomberg

Harianjogja.com, JOGJA— Di tengah kebiasaan berkirim pesan yang semakin cepat, sebagian generasi Z justru memilih cara yang berlawanan. Mereka mulai tertarik pada aplikasi yang sengaja membuat pesan tidak langsung sampai kepada penerima, bahkan dengan kemungkinan pesan tersebut tidak pernah tiba.

Fenomena tersebut muncul melalui aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost. Alih-alih mengirim pesan secara instan seperti iMessage atau WhatsApp, kedua aplikasi tersebut menawarkan pengalaman berkirim pesan menggunakan konsep burung merpati virtual.

Dikutip dari laporan Yahoo Tech, pesan yang dikirim melalui aplikasi tersebut seolah-olah dibawa seekor merpati dari pengirim menuju penerima. Pengguna tidak hanya menekan tombol kirim, tetapi juga harus menunggu perjalanan pesan hingga sampai di tujuan.

Konsep tersebut terdengar tidak praktis di era komunikasi digital. Namun, justru ketidakpraktisan itulah yang menjadi daya tariknya.

Pesan Tak Langsung Sampai

Cara kerja aplikasi ini cukup berbeda dibandingkan layanan pesan instan pada umumnya.

Ketika pengguna mengirim pesan, aplikasi tidak langsung menampilkannya di perangkat penerima. Pesan akan dibawa oleh burung merpati virtual yang bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 177 kilometer per jam.

Untuk pesan yang dikirim dalam jarak dekat, waktu tunggunya mungkin hanya beberapa detik. Namun, pengiriman antarbenua dapat membuat penerima harus menunggu hingga berjam-jam.

Ada pula unsur ketidakpastian dalam sistem tersebut. Setiap pesan memiliki peluang sekitar 0,2 persen untuk gagal sampai karena burung virtual yang membawanya dianggap "hilang".

Bagi pengguna aplikasi pesan instan, sistem tersebut tentu terdengar merepotkan. Namun, bagi sebagian pengguna, ketidakpastian justru menjadi bagian dari kesenangan.

Pengguna dapat melihat perjalanan merpati melalui peta setelah pesan dikirim. Mereka kemudian menunggu hingga burung tersebut tiba di lokasi penerima.

Pengalaman seperti ini berbeda dari WhatsApp, Telegram, maupun layanan pesan instan lainnya yang dirancang untuk menghilangkan waktu tunggu.

Menunggu Justru Jadi Pengalaman

Aplikasi tersebut dikembangkan Noah Iarrobino hanya dalam waktu sekitar tiga minggu. Menariknya, sang pengembang tidak berusaha menyembunyikan kelemahan aplikasinya.

Dalam keterangan di toko aplikasi, aplikasi tersebut bahkan disebut "tidak berguna" dan "benar-benar tidak praktis".

Namun, konsep itulah yang justru membuatnya menarik bagi pengguna.

Dalam komunikasi digital modern, kecepatan sering dianggap sebagai keunggulan. Pesan dikirim dalam hitungan detik, notifikasi langsung muncul, dan penerima diharapkan segera memberikan respons.

Konsekuensinya, komunikasi terkadang terasa seperti aktivitas yang harus diselesaikan secepat mungkin.

Konsep merpati virtual menawarkan pengalaman yang berbeda. Ketika pesan dikirim, pengguna mengetahui bahwa penerima tidak akan langsung membacanya.

Ada jeda yang harus dilewati.

Jeda tersebut membuat aktivitas berkirim pesan terasa lebih disengaja. Pengirim memiliki waktu untuk memikirkan isi pesan, sementara penerima tidak dibebani tuntutan untuk segera memberikan balasan.

Roost Sudah Punya 300.000 Pengguna

Konsep komunikasi lambat tersebut ternyata tidak hanya menarik perhatian segelintir pengguna.

Aplikasi lain bernama Roost disebut telah mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna hanya dalam beberapa minggu setelah diluncurkan.

Jumlah tersebut menunjukkan adanya minat terhadap cara berkomunikasi yang berbeda dari pola komunikasi instan.

Fenomena tersebut juga dapat dibaca sebagai respons terhadap budaya digital yang selama ini menempatkan kecepatan sebagai standar utama.

Ketika pesan WhatsApp atau iMessage dapat dikirim hampir tanpa jeda, pengguna secara tidak langsung terbiasa mengharapkan respons cepat dari orang lain.

Pesan yang tidak segera dibalas dapat menimbulkan pertanyaan. Bahkan, sebagian orang bisa merasa tertekan karena menganggap dirinya harus selalu tersedia.

Gen Z Mencari Jeda dari Komunikasi Digital

Popularitas aplikasi semacam Carrier Pidge dan Roost memperlihatkan bahwa sebagian pengguna mulai mencari pengalaman komunikasi yang lebih santai.

Kecepatan ternyata tidak selalu membuat komunikasi menjadi lebih menyenangkan. Ketika semuanya dapat dilakukan secara instan, berkirim pesan bisa kehilangan sensasi menunggu dan rasa penasaran.

Dengan sistem pengiriman yang sengaja diperlambat, pesan kembali menjadi sesuatu yang dinantikan.

Pengirim tidak bisa memastikan kapan penerima akan membaca pesannya. Penerima pun tidak dituntut untuk memberikan jawaban dalam hitungan detik.

Dalam konteks tersebut, komunikasi lambat dapat menjadi bentuk kecil untuk mengambil jarak dari tekanan dunia digital.

Pesan yang datang beberapa saat kemudian memberikan ruang untuk berhenti sejenak, membaca dengan lebih tenang, kemudian menentukan respons.

Fenomena ini tidak berarti generasi Z benar-benar meninggalkan WhatsApp, iMessage, atau aplikasi pesan instan lainnya. Namun, munculnya aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost menunjukkan bahwa ada kelompok pengguna yang mulai menghargai pengalaman komunikasi, bukan hanya kecepatannya.

Di tengah dunia yang semakin terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat, menunggu justru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pesan tidak lagi sekadar notifikasi yang muncul seketika, tetapi menjadi sesuatu yang ditunggu kedatangannya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online