Meta Paling Rakus Data, Kumpulkan 25 Jenis Informasi Pengguna

Jumali
Jumali Jum'at, 21 Agustus 2026 10:47 WIB
Meta Paling Rakus Data, Kumpulkan 25 Jenis Informasi Pengguna

Logo Meta. Ist

Harianjogja.com, JOGJA—Meta, induk Facebook dan Instagram, terpilih sebagai perusahaan teknologi paling rakus dalam mengumpulkan data pengguna. Riset terbaru dari Surfshark, penyedia layanan VPN dan keamanan siber, mengungkap bahwa aplikasi buatan Meta rata-rata mengumpulkan 25 dari 25 jenis data yang mungkin dikumpulkan. Angka ini tiga kali lebih besar dibandingkan rata-rata perusahaan teknologi besar lainnya seperti Apple dan Microsoft. Temuan ini tentu menjadi perhatian serius bagi miliaran pengguna media sosial di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Analisis Surfshark dilakukan berdasarkan informasi privasi yang tercantum di Apple App Store. Penelitian ini meneliti 171 aplikasi milik lima raksasa teknologi, yaitu Google, Microsoft, Apple, Amazon, dan Meta. Tim peneliti menghitung jenis data yang dikumpulkan aplikasi, bukan jumlah atau seberapa sering aplikasi mengumpulkan data, dan tidak berarti setiap kategori data dikumpulkan dari semua pengguna. Namun, temuan ini tetap memberikan gambaran jelas tentang seberapa besar ambisi perusahaan-perusahaan teknologi dalam mengumpulkan informasi pribadi pengguna.

Beberapa aplikasi milik Meta yang mengumpulkan banyak jenis data pengguna termasuk Facebook, Messenger, Meta AI, Meta Horizon, Meta Ads Manager, Meta Business Suite, dan Forum. Data yang dikumpulkan mencakup ID perangkat, interaksi produk, informasi performa, data crash, data lokasi presisi, dan riwayat pencarian. Dengan kata lain, hampir setiap jejak digital pengguna di ekosistem Meta terekam dan dikumpulkan untuk berbagai keperluan, mulai dari iklan hingga pengembangan produk.

Di peringkat kedua, Google menempati posisi dengan aplikasi yang rata-rata mengumpulkan 17 jenis data. Bahkan, 29 aplikasi milik Google masuk dalam daftar 40 aplikasi teratas yang paling banyak mengumpulkan data. Hal ini tidak mengherankan mengingat Google memang memiliki perwakilan paling banyak dalam sampel penelitian ini, yaitu 44 aplikasi. Dari mesin pencari, email, hingga peta digital, setiap layanan Google tampaknya dirancang untuk menggali informasi sebanyak mungkin dari penggunanya.

Sementara itu, Amazon berada di posisi ketiga dengan rata-rata 12 jenis data yang dikumpulkan. Menariknya, Amazon Alexa menjadi aplikasi non-Meta yang paling rakus data karena mengumpulkan 28 jenis data. Angka ini bahkan melampaui rata-rata aplikasi Meta. Asisten pintar ini ternyata mengumpulkan berbagai informasi dari penggunanya, termasuk kebiasaan berbicara, preferensi, hingga data lokasi.

Microsoft dan Apple masing-masing berada di posisi empat dan lima. Aplikasi Microsoft rata-rata mengumpulkan delapan jenis data, sedangkan aplikasi Apple rata-rata mengumpulkan tujuh jenis data. Kedua perusahaan ini tergolong lebih "ramah" dalam hal pengumpulan data dibandingkan Meta dan Google. Namun, angka tujuh hingga delapan jenis data tetap bukan jumlah yang kecil jika dikumpulkan dari jutaan pengguna di seluruh dunia.

"Riset kami menunjukkan bahwa model bisnis Big Tech sering kali dibangun di atas nafsu yang tak terpuaskan akan informasi pengguna," kata pemimpin riset Surfshark Dr. Luis Costa, seperti dikutip dari The Register, Jumat (21/8/2026).

"Ketika para raksasa ini menggabungkan riwayat penelusuran, kebiasaan berbelanja, dan koordinat GPS yang presisi dari puluhan aplikasi berbeda, mereka membangun peta digital kehidupan pengguna yang terperinci," sambungnya.

Pernyataan Dr. Costa ini menggambarkan betapa besar kekuatan yang dimiliki perusahaan-perusahaan teknologi tersebut. Dengan mengumpulkan dan menggabungkan data dari berbagai aplikasi, mereka mampu membangun profil pengguna yang sangat detail. Profil ini kemudian digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari menargetkan iklan yang lebih personal hingga mengembangkan produk dan layanan baru.

Bagi para pengguna internet di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat penting untuk lebih bijak dalam memberikan izin akses data kepada aplikasi. Setiap kali menginstal aplikasi baru, pengguna sering kali tanpa sadar memberikan izin untuk mengakses berbagai data pribadi. Padahal, data-data tersebut dapat dikumpulkan dan digunakan oleh perusahaan teknologi untuk berbagai kepentingan yang mungkin tidak selalu menguntungkan pengguna.

Surfshark sendiri adalah penyedia layanan VPN dan keamanan siber yang secara rutin melakukan riset tentang privasi digital. Temuan mereka tentang perusahaan paling rakus data ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya melindungi data pribadi di era digital. Di tengah maraknya kasus pelanggaran data dan penyalahgunaan informasi pribadi, pengetahuan tentang perusahaan mana yang paling agresif dalam mengumpulkan data menjadi sangat berharga.

Ke depan, pengguna diharapkan semakin kritis dalam memilih aplikasi dan layanan digital. Membaca kebijakan privasi, membatasi izin akses, dan menggunakan alat keamanan seperti VPN adalah langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi data pribadi. Perusahaan teknologi mungkin akan terus mengumpulkan data, tetapi pengguna memiliki kekuatan untuk mengontrol seberapa banyak data yang mereka berikan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online