London Kesulitan Tagih Denda Supercar Sultan dari Negara Teluk

Jumali
Jumali Kamis, 03 September 2026 10:47 WIB
London Kesulitan Tagih Denda Supercar Sultan dari Negara Teluk

Supercar berpelat negara-negara Teluk/DailyMail

Harianjogja.com, JOGJA—Denda parkir ratusan poundsterling ternyata belum tentu membuat pemilik supercar bergeming. Di London, kendaraan mewah berpelat negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Arab Saudi kerap menjadi sorotan karena pelanggaran parkir, sementara sebagian besar denda sulit ditagih.

Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian ketika kawasan elite London dipenuhi Ferrari, Lamborghini, McLaren, Bentley hingga Rolls-Royce berpelat asing selama musim panas. Sejumlah kendaraan dilaporkan diparkir di lokasi terlarang, termasuk area bongkar muat, halte bus, pangkalan taksi, trotoar, hingga ruas dengan marka garis kuning ganda.

Masalah bagi otoritas bukan sekadar pelanggaran parkir. Ketika kendaraan menggunakan pelat dari negara di luar Eropa, proses mengejar pemilik dan menagih denda menjadi jauh lebih rumit.

Data Westminster City Council menunjukkan betapa besarnya persoalan tersebut. Dalam periode 2018-2022, otoritas setempat berupaya menagih 13.423 denda parkir kepada kendaraan yang terdaftar di UEA. Namun, tingkat pembayarannya hanya 1 persen.

Harrods Jadi Titik Sorotan

Kawasan Knightsbridge, Mayfair, dan Belgravia menjadi lokasi yang paling identik dengan fenomena supercar dari kawasan Teluk.

Salah satu titik yang banyak disorot adalah sekitar Harrods, pusat perbelanjaan mewah di Knightsbridge. Kendaraan dengan harga fantastis terlihat berseliweran di kawasan tersebut, terutama ketika pemiliknya datang ke London pada musim panas.

Menurut laporan terbaru, kendaraan berpelat Qatar juga mencatat angka pelanggaran yang tinggi. Sepanjang tahun terakhir yang dikutip dalam laporan tersebut, kendaraan terdaftar Qatar menerima 2.570 tiket parkir di Westminster, angka yang menempatkannya di atas negara asing lainnya. Empat negara Teluk secara keseluruhan menyumbang sekitar 41 persen dari tiket yang diberikan kepada kendaraan asing di Westminster.

Kondisi itu menjadi paradoks. Di satu sisi, pemilik kendaraan rela mengeluarkan biaya besar untuk membawa mobil pribadi ke London. Di sisi lain, denda parkir yang nilainya jauh lebih kecil justru kerap tidak memberikan efek jera.

Laporan Carscoops yang mengutip Wall Street Journal menyebut biaya pengiriman mobil mewah dari kawasan Teluk ke London dapat mencapai sekitar US$34.000 atau sekitar Rp500 jutaan sekali jalan, tergantung biaya dan kondisi pengiriman.

Ferrari Sudah Didenda, Pemilik Tetap Pergi

Salah satu kejadian yang menjadi gambaran fenomena tersebut melibatkan sebuah Ferrari yang diparkir secara ilegal di sekitar Harrods.

Mobil tersebut sudah mendapatkan surat denda yang ditempelkan pada kaca depan. Ketika pengemudinya ditanya apakah denda tersebut akan dibayar, ia menjawab, "Tentu saja," sebelum kemudian meninggalkan lokasi dengan surat denda masih menempel di mobil.

Bagi otoritas London, persoalannya bukan hanya soal perilaku pengemudi. Ada hambatan administratif yang membuat penegakan denda terhadap kendaraan asing jauh lebih sulit.

Mengapa Denda Sulit Ditagih?

Kendaraan yang terdaftar di luar Inggris membutuhkan mekanisme berbeda ketika otoritas ingin mengejar pemilik setelah pelanggaran terjadi.

Salah satu kendalanya adalah akses terhadap informasi pemilik kendaraan. Untuk kendaraan yang terdaftar di negara-negara di luar Eropa, otoritas Inggris tidak selalu dapat memperoleh alamat pemegang kendaraan yang diperlukan untuk proses penagihan utang sipil.

Pemerintah daerah sebenarnya dapat menggunakan agen penagihan internasional setelah kendaraan meninggalkan Inggris. Namun, langkah tersebut membutuhkan proses tambahan dan belum tentu menghasilkan pembayaran.

Data Westminster menggambarkan kesenjangan tersebut. Dalam laporan resminya, tingkat pembayaran denda kendaraan UEA hanya tercatat 1 persen untuk kasus yang masuk ke proses manajemen utang pada periode 2018-2022. Sebagai pembanding, kendaraan terdaftar Prancis memiliki tingkat pembayaran 10 persen, sedangkan Qatar 6 persen.

Artinya, menerbitkan surat denda relatif mudah. Memastikan uang denda benar-benar masuk ke kas pemerintah justru menjadi persoalan yang jauh lebih kompleks.

Westminster Mulai Angkat Supercar

Ketika denda tidak cukup memberikan efek jera, Westminster mengambil pendekatan berbeda.

Pada Desember 2025, Westminster City Council menderek sebuah Rolls-Royce berpelat Arab Saudi yang nilainya hampir £250.000 dari Grosvenor Square. Kendaraan tersebut diparkir secara ilegal di trotoar dekat Chancery Rosewood Hotel.

Langkah tersebut diambil setelah dewan menerima keluhan mengenai kendaraan mewah yang menghalangi jalur pejalan kaki. Westminster sebelumnya mengakui denda parkir senilai £160 tidak cukup membuat sebagian pemilik kendaraan mewah jera.

Dengan menderek kendaraan, persoalannya berubah. Pemilik tidak lagi hanya menghadapi secarik kertas di kaca depan, tetapi harus mencari kendaraannya dan menyelesaikan persoalan dengan otoritas.

Langkah ini menunjukkan perubahan pendekatan dari sekadar memberikan sanksi finansial menjadi tindakan yang langsung menyentuh kendaraan.

London Perketat Penindakan Mobil Mewah

Persoalan di London juga tidak terbatas pada parkir. Pemerintah daerah dan kepolisian menghadapi masalah car cruising, balapan jalanan, kebut-kebutan, serta aksi berkendara yang mengganggu warga di sejumlah kawasan elite.

Pada 2026, Westminster City Council bersama mitranya berhasil mendapatkan perintah sementara dari High Court yang melarang sejumlah aktivitas berkendara berbahaya dan car meet di kawasan seperti Knightsbridge, Belgravia, Hyde Park, St James's, dan West End.

Perintah tersebut berlaku untuk aktivitas tertentu pada malam hari dan mencakup larangan balapan, aksi stunt, berkendara berbahaya, konvoi tertentu, hingga penyelenggaraan atau promosi car meet. Pelanggaran terhadap perintah pengadilan dapat berujung pada penangkapan dan konsekuensi hukum lainnya.

Namun, penting dicatat bahwa perintah High Court tersebut bukan aturan khusus untuk pemilik supercar dari negara Teluk dan bukan pula mekanisme penagihan denda parkir. Perintah itu ditujukan untuk menangani perilaku berkendara antisosial dan berbahaya di kawasan tertentu.

Bukan Soal Mobilnya, tetapi Perilakunya

Kehadiran supercar dari kawasan Teluk sebenarnya bukan persoalan utama bagi London.

Yang menjadi masalah adalah ketika kendaraan tersebut digunakan dengan cara yang melanggar aturan dan mengganggu pengguna jalan lain. Pemerintah daerah tetap harus menegakkan aturan parkir dan keselamatan jalan tanpa memandang harga kendaraan atau asal pelat nomor.

Kasus ini sekaligus memperlihatkan tantangan penegakan hukum di kota global. Sebuah kendaraan dapat dengan mudah berpindah negara, sedangkan proses mengejar pemilik dan menagih sanksi administratif tidak selalu dapat mengikuti pergerakan kendaraan tersebut.

Bagi pemilik Ferrari atau Lamborghini, denda parkir mungkin hanya menjadi biaya kecil dibandingkan ongkos membawa mobil pribadi ke London. Namun, bagi otoritas kota, setiap denda yang tidak tertagih tetap menjadi persoalan penegakan aturan.

Karena itu, Westminster kini tidak hanya mengandalkan surat denda. Penderekan kendaraan dan penindakan terhadap perilaku berkendara berbahaya menjadi bagian dari upaya memastikan jalan, trotoar, dan ruang publik tetap dapat digunakan masyarakat.

Fenomena supercar berpelat Teluk di London pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang mobil mahal dan pemilik kaya. Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih besar, yakni seberapa efektif sebuah kota dapat menegakkan aturan ketika pelanggar dan kendaraan yang digunakan terdaftar di negara lain.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online