Baterai Mobil Listrik 150.000 Km Masih Sehat, Ini Buktinya

Jumali
Jumali Jum'at, 04 September 2026 11:17 WIB
Baterai Mobil Listrik 150.000 Km Masih Sehat, Ini Buktinya

Ilustrasi mobil listrik

Harianjogja.com, JOGJA— Anggapan bahwa baterai mobil listrik akan cepat kehilangan kemampuan menyimpan energi setelah digunakan bertahun-tahun mulai mendapat bantahan dari data dunia nyata.

Studi terbaru perusahaan diagnostik baterai asal Austria, AVILOO, menunjukkan sebagian besar mobil listrik yang telah menempuh jarak hingga 150.000 kilometer masih memiliki kapasitas baterai yang relatif tinggi.

AVILOO menganalisis lebih dari 500.000 hasil pengujian baterai terhadap 20 model mobil listrik populer di berbagai negara. Data tersebut dikumpulkan sepanjang 2022 hingga 2026 dan mencakup kendaraan yang digunakan di Eropa, Amerika, Asia, serta Australia.

Hasilnya cukup menarik bagi calon pembeli mobil listrik bekas.

Pada jarak 50.000 kilometer, median kesehatan baterai atau State of Health (SoH) dari model-model yang diteliti berada di kisaran 91–97%.

Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 88–95% ketika kendaraan telah menempuh 100.000 kilometer.

Sementara setelah mencapai 150.000 kilometer, median SoH 20 model masih berada pada kisaran 87–94%. Bahkan, 16 dari 20 model yang dianalisis masih mencatat median SoH setidaknya 90% pada jarak tersebut.

Bukan Sekadar SoH Tinggi

Bagi konsumen, hasil penelitian tersebut menjadi kabar positif. Namun, ada satu hal yang justru menjadi temuan penting AVILOO dan tidak boleh diabaikan.

Kondisi baterai mobil listrik bekas ternyata tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan usia kendaraan atau angka pada odometer.

Dua mobil dengan model, tahun produksi, dan jarak tempuh yang sama dapat memiliki kondisi baterai yang berbeda cukup jauh.

AVILOO menemukan selisih kesehatan baterai antarunit dalam model yang sama bisa mencapai 13,5 poin persentase. Artinya, melihat angka rata-rata sebuah model saja belum cukup untuk mengetahui kondisi baterai mobil tertentu.

CEO AVILOO Marcus Berger menilai perbedaan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari iklim, kapasitas baterai, kebiasaan pengisian daya, hingga cara kendaraan digunakan dan diparkir.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan baterai secara independen menjadi semakin penting ketika seseorang hendak membeli mobil listrik bekas.

Nissan Leaf Punya Perbedaan Paling Lebar

Salah satu contoh paling jelas terlihat pada Nissan Leaf ZE1.

Mobil listrik tersebut menggunakan baterai berkapasitas 40 kWh dalam analisis AVILOO. Kapasitas yang lebih kecil membuat Leaf membutuhkan lebih banyak siklus pengisian untuk menempuh jarak tertentu dibandingkan kendaraan dengan baterai lebih besar.

Dalam analisis khusus AVILOO, median SoH Nissan Leaf ZE1 berada sekitar 90,8% pada 50.000 kilometer, kemudian turun menjadi 87,6% pada 100.000 kilometer dan sekitar 85,9% pada 150.000 kilometer.

Pada jarak 150.000 kilometer, perbedaan kondisi antarunit Leaf dapat mencapai 13,5 poin persentase.

AVILOO juga menghitung bahwa perbedaan tersebut berpengaruh terhadap jarak tempuh nyata. Pada Leaf ZE1, selisih kondisi baterai antarunit bisa berarti sekitar 30 kilometer per pengisian penuh.

Tesla Model Y dan Volkswagen ID.4

Variasi kondisi baterai tidak hanya terjadi pada mobil dengan baterai berkapasitas kecil.

Tesla Model Y, misalnya, memiliki median SoH sekitar 94,5% pada 50.000 kilometer dan turun menjadi 90,3% pada 150.000 kilometer.

Pada jarak tersebut, kondisi antarunit Model Y dapat berbeda sekitar 11 poin persentase. Dengan kata lain, dua Tesla Model Y yang sama-sama telah menempuh 150.000 kilometer belum tentu memiliki kemampuan jelajah yang sama.

Hal serupa ditemukan pada Volkswagen ID.4. Median SoH model tersebut berada sekitar 95,3% pada 50.000 kilometer dan 90,6% pada 150.000 kilometer. Variasi antarunit pada jarak tempuh tinggi berada di kisaran 11–12 poin persentase.

Hyundai Ioniq 5 juga menunjukkan hasil yang relatif baik. Dalam analisis AVILOO, model tersebut memiliki median SoH sekitar 97% pada 50.000 kilometer dan masih berada di kisaran 93% setelah 150.000 kilometer.

Kebiasaan Parkir Ikut Menentukan

Degradasi baterai tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah kilometer yang ditempuh.

AVILOO menyebut iklim panas dapat mempercepat proses degradasi. Kebiasaan pemilik ketika mengisi dan menyimpan kendaraan juga turut berpengaruh terhadap kesehatan baterai.

Salah satu kebiasaan yang disarankan untuk dihindari adalah meninggalkan mobil dalam kondisi baterai sangat tinggi dalam waktu lama.

AVILOO menyarankan pemilik menjaga tingkat pengisian baterai di kisaran 30–70% ketika kendaraan akan diparkir dalam jangka panjang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa gaya penggunaan mobil dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap kendaraan dengan model yang sama.

Baterai Jadi Faktor Penting Mobil Bekas

Bagi pasar mobil listrik bekas, hasil studi AVILOO dapat mengubah cara konsumen menilai sebuah kendaraan.

Pada mobil bermesin pembakaran, usia dan kilometer biasanya menjadi dua indikator utama ketika konsumen melihat mobil bekas.

Namun, pada mobil listrik, kondisi baterai menjadi komponen yang tidak kalah penting.

Odometer 100.000 kilometer tidak otomatis berarti baterai berada dalam kondisi buruk. Sebaliknya, kilometer rendah juga bukan jaminan baterai masih sangat sehat.

Kondisi sebenarnya baru bisa diketahui melalui pemeriksaan kesehatan baterai.

Inilah alasan sejumlah pelaku industri otomotif Inggris mendorong adanya sertifikasi kondisi baterai untuk mobil listrik bekas. Standar pemeriksaan yang seragam dinilai dapat membantu konsumen mengetahui kondisi kendaraan sebelum melakukan transaksi sekaligus meningkatkan transparansi pasar.

Pada akhirnya, studi AVILOO bukan hanya memberikan kabar baik bahwa baterai EV ternyata relatif awet.

Pesan yang lebih penting bagi calon pembeli mobil listrik bekas adalah jangan hanya melihat angka odometer.

Mobil yang telah berjalan 150.000 kilometer belum tentu memiliki baterai yang sudah mendekati akhir masa pakainya. Sebaliknya, mobil dengan kilometer lebih rendah juga belum tentu memiliki baterai dalam kondisi terbaik.

Kondisi baterai setiap unit perlu diperiksa secara langsung.

Sementara itu, masih terdapat ruang untuk penelitian yang lebih luas karena laporan AVILOO mencakup 20 model populer dan belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai seluruh merek serta model yang beredar di pasar global.

Khusus pasar Indonesia, menarik untuk melihat bagaimana performa baterai mobil listrik yang digunakan dalam kondisi iklim tropis dan pola pemakaian lokal. Terlebih, semakin banyak mobil listrik dari berbagai pabrikan, termasuk merek China, yang kini beredar di pasar nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online