Lava Fountain Anak Krakatau Bikin Langit Merah, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumali
Jumali Sabtu, 05 September 2026 21:47 WIB
Lava Fountain Anak Krakatau Bikin Langit Merah, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi Lava Fountain/USGS

Harianjogja.com, JOGJA—Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kerap menghadirkan fenomena yang menarik perhatian masyarakat, terutama saat malam hari. Salah satu gejala yang paling mencolok adalah munculnya lava fountain atau air mancur lava, yakni semburan magma pijar yang melesat ke udara dari kawah gunung api.

Fenomena ini sering terlihat sebagai pancaran cahaya merah terang yang menjulang tinggi di atas puncak gunung. Selain memunculkan pemandangan dramatis, lava fountain biasanya juga disertai suara gemuruh dan getaran yang dapat dirasakan di kawasan sekitar gunung.

Secara ilmiah, lava fountain merupakan jenis letusan vulkanik ketika magma cair menyembur terus-menerus dari kawah akibat tekanan gas yang sangat besar di dalam perut bumi. Saat magma bergerak menuju permukaan, gas-gas vulkanik yang terperangkap di dalamnya ikut terdorong naik.

Ketika mencapai lubang kawah, gas tersebut dilepaskan secara cepat dan menghasilkan tekanan kuat yang mendorong magma keluar. Akibatnya, lava pijar dapat terlontar hingga puluhan bahkan ratusan meter ke udara, membentuk pola menyerupai pancuran air raksasa.

Fenomena ini umumnya terjadi pada gunung api yang memiliki magma dengan tingkat kekentalan rendah atau bersifat lebih cair. Kondisi tersebut memungkinkan gas keluar dengan lebih mudah tanpa terhalang oleh material magma yang terlalu padat.

Para ahli vulkanologi menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi terbentuknya lava fountain. Salah satunya adalah kandungan gas vulkanik yang tinggi di dalam kantong magma. Semakin besar tekanan gas yang terakumulasi, semakin kuat pula semburan yang dapat dihasilkan saat magma mencapai permukaan.

Selain itu, viskositas atau tingkat kekentalan magma juga berperan penting. Magma yang lebih cair memungkinkan pelepasan gas berlangsung lebih lancar sehingga menciptakan semburan lava yang berkelanjutan.

Saat terlontar ke udara, material lava panas akan pecah menjadi fragmen-fragmen kecil yang tetap berpijar. Sebagian material tersebut kemudian jatuh kembali ke sekitar kawah dan lereng gunung setelah mengalami pendinginan sebagian.

Tidak hanya menghasilkan efek visual yang spektakuler, lava fountain juga memunculkan suara gemuruh hingga dentuman yang terdengar dari jarak cukup jauh. Suara tersebut berasal dari pelepasan gas bertekanan tinggi dan pergerakan material vulkanik yang keluar melalui saluran kawah.

Dalam kondisi atmosfer tertentu, gelombang suara berfrekuensi rendah yang dihasilkan erupsi dapat merambat hingga puluhan kilometer dari pusat aktivitas gunung api. Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda kerap melaporkan suara dentuman ketika aktivitas Anak Krakatau meningkat.

Meski terlihat indah, fenomena lava fountain tetap menjadi bagian dari aktivitas vulkanik yang harus diwaspadai. Semburan lava menunjukkan adanya dinamika magma dan gas di dalam gunung yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Oleh sebab itu, masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait status aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kepatuhan terhadap rekomendasi radius aman menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Fenomena lava fountain pada akhirnya tidak hanya menjadi tontonan alam yang memukau, tetapi juga memberikan gambaran tentang kekuatan proses geologi yang terus berlangsung di dalam bumi. Anak Krakatau menjadi salah satu laboratorium alam yang memperlihatkan bagaimana tekanan magma dan gas dapat menghasilkan semburan lava spektakuler yang menarik perhatian dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online