Hashim Mundur dari WIFI, Internet Rakyat dan Spektrum 1,4 GHz Tetap Jalan

Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina Jum'at, 02 Oktober 2026 23:37 WIB
Hashim Mundur dari WIFI, Internet Rakyat dan Spektrum 1,4 GHz Tetap Jalan

Ilustrasi server internet - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pengunduran diri Hashim S. Djojohadikusumo dari posisi Komisaris Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan Internet Rakyat dan pemanfaatan spektrum 1,4 GHz. Pengamat telekomunikasi menilai perubahan jajaran pengurus tersebut tidak otomatis menghentikan proyek yang dikembangkan perusahaan.

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan kewajiban pembangunan melekat pada badan usaha pemegang izin, bukan pada figur tertentu di jajaran pengurus. Karena itu, menurut dia, pengembangan Internet Rakyat semestinya tetap berjalan meskipun Hashim mundur dari posisi Komisaris Utama.

WIFI melalui anak usahanya telah memperoleh spektrum 1,4 GHz untuk Regional I yang mencakup Jawa, Maluku, dan Papua. Sementara itu, Internet Rakyat dikembangkan menggunakan teknologi 5G fixed wireless access atau FWA.

“Pemerintah perlu memastikan komitmen pembangunan, cakupan layanan, investasi, dan target konektivitas tetap berjalan sesuai kewajiban perizinan dan kepentingan publik,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/10/2026).

Internet Rakyat Sudah Masuk Tahap Komersial

Heru mengatakan pengawasan pemerintah perlu diarahkan pada sejumlah aspek, mulai dari realisasi investasi, pembangunan jaringan, cakupan layanan, kualitas layanan, keterjangkauan harga, hingga optimalisasi penggunaan spektrum.

Internet Rakyat sendiri telah memasuki tahap komersial. Hingga Mei 2026, layanan tersebut disebut telah memiliki lebih dari 550 active sites, sementara perusahaan menargetkan pembangunan sebanyak 5.500 sites sepanjang 2026.

Menurut Heru, capaian pembangunan tersebut perlu menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Pemerintah dinilai perlu meminta tahapan pembangunan secara transparan dan melakukan pemantauan secara berkala, bukan hanya menunggu laporan dari perusahaan.

Dia juga menilai spektrum merupakan sumber daya publik. Karena itu, ukuran keberhasilan proyek menurutnya bukan figur yang berada di balik perusahaan, melainkan sejauh mana spektrum tersebut dapat menghasilkan layanan internet yang terjangkau dan merata.

Pandangan serupa disampaikan pengamat telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Agung Harsoyo. Dia menilai proyek Internet Rakyat (PIR) WIFI tetap berjalan karena berkaitan dengan program pemerintah melalui Komdigi untuk mendorong pemerataan dan keterjangkauan harga layanan pita-lebar atau broadband.

“Pak Hashim mengundurkan diri dari posisi Komut, tetapi dari informasi yang ada, perusahaannya tetap menjadi pemegang saham. Jadi, dugaan saya, pergantian Komut dan Direktur tidak 'menghambat' PIR," kata Agung.

Spektrum 1,4 GHz Tetap Harus Dimanfaatkan

Agung juga melihat adanya kepentingan ekonomi bagi WIFI untuk terus memanfaatkan spektrum 1,4 GHz. Menurut dia, perusahaan telah membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dengan nilai sekitar Rp400 miliar per tahun.

"Pita frekuensi 1.4GHz telah dibayar BHP Frekuensi-nya, kisaran 400 milyir rupiah per tahun, maka WIFI akan merugi jika tidak dimanfaatkan untuk melayani pelanggan Internet," ujarnya.

Selain kewajiban pembayaran biaya frekuensi, WIFI memiliki komitmen pembangunan yang diawasi oleh Komdigi. Agung menilai kewajiban tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan untuk terus melanjutkan pembangunan jaringan.

Sebagai penyelenggara telekomunikasi, WIFI atau Surge memiliki komitmen pembangunan yang berada dalam pengawasan Komdigi.

“Sebagai korporasi, Surge akan memenuhi komitmen ini, karena jika tidak, Komdigi dapat mempublikasikan; yang pasti akan berpengaruh pada kinerja perusahaan," tambah Agung.

Hashim Mundur, WIFI Siapkan RUPSLB

Hashim mengajukan pengunduran diri dari posisi Komisaris Utama WIFI melalui surat tertanggal 29 September 2026. Surat tersebut diterima manajemen pada 30 September 2026 dan pengunduran diri dinyatakan berlaku sejak surat ditandatangani.

Dalam surat tersebut, Hashim juga meminta perseroan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk mengambil keputusan sesuai dengan anggaran dasar perusahaan.

Pengunduran diri Hashim diikuti Henny Santoso yang melepas posisi Direktur. Surat pengunduran diri Henny diterima manajemen pada 1 Oktober 2026 dan berlaku sesuai ketentuan hukum serta keputusan RUPS.

Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, WIFI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Oktober 2026 untuk membahas perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi.

Manajemen Pastikan Bisnis WIFI Tetap Berjalan

Direktur Solusi Sinergi Digital Shannedy Ong menyatakan kegiatan bisnis emiten penyedia infrastruktur jaringan serat optik dan layanan digital tersebut tetap berjalan normal.

“Pengunduran diri tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan. Kegiatan usaha Perseroan dan entitas anak tetap berjalan sebagaimana biasa,” ujar Shannedy dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (2/10/2026).

Shannedy menambahkan fungsi pengawasan dan pengurusan emiten berkode saham WIFI akan tetap dijalankan oleh anggota Dewan Komisaris dan Direksi lainnya sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan serta ketentuan hukum yang berlaku.

Dengan demikian, pengunduran diri Hashim menjadi perubahan pada struktur pengurus WIFI, sementara operasional perusahaan dan entitas anak dinyatakan tetap berlangsung. Kelanjutan Internet Rakyat dan pemanfaatan spektrum 1,4 GHz selanjutnya tetap berkaitan dengan realisasi komitmen pembangunan, penggunaan spektrum, serta pengawasan regulator.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online