Cara Membuat Kata Sandi Aman agar Akun Tak Mudah Diretas

Jumali
Jumali Selasa, 20 Oktober 2026 08:17 WIB
Cara Membuat Kata Sandi Aman agar Akun Tak Mudah Diretas

Ilustrasi password - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kata sandi sederhana “123456” diduga dimanfaatkan untuk menyalahgunakan akses ke basis data kependudukan Denmark yang menyimpan informasi milik sekitar 8,8 juta orang. Kasus ini menyoroti risiko keamanan ketika akun milik perusahaan pihak ketiga yang terhubung dengan sistem penting tidak dilindungi menggunakan kredensial yang memadai.

Dikutip dari The Register, seseorang yang mengaku bertanggung jawab atas peretasan tersebut menyebut kata sandi “123456” sebagai salah satu cara untuk memperoleh akses melalui perusahaan teknologi informasi (TI) yang memiliki izin mengakses Registri Pusat Penduduk Denmark atau Central Register of Persons (CPR).

Perusahaan yang dimaksud adalah Pays ApS, penyedia layanan TI dan data yang memiliki akses sah untuk melakukan pencarian informasi dalam sistem CPR, antara lain untuk membantu memvalidasi data pelanggan bisnis. Direktur perusahaan, Sophie Laursen, mengonfirmasi bahwa akses resmi Pays ApS telah disalahgunakan dalam serangan tersebut.

Meski demikian, dugaan penggunaan kata sandi “123456” berasal dari pengakuan pelaku yang diberitakan media, bukan pernyataan resmi pemerintah Denmark. Pemerintah telah mengonfirmasi penyalahgunaan akses terhadap CPR dan menyebut data sekitar 8,8 juta orang terdampak.

Kronologi Peretasan Data Kependudukan Denmark

Berdasarkan dokumen yang diperoleh penyiar Denmark TV 2 dan diberitakan The Register, aktivitas mencurigakan tersebut berlangsung pada September 2026. Pelaku disebut menjalankan sekitar 14 juta pencarian otomatis terhadap sistem CPR pada 10–20 September.

Insiden itu baru terdeteksi pada 2 Oktober 2026, ketika seorang pegawai pemerintah menemukan tagihan yang menunjukkan aktivitas pencarian data tidak biasa melalui Pays ApS. Dengan demikian, aktivitas tersebut baru diketahui sekitar 12 hari setelah rangkaian pencarian otomatis yang dilaporkan berakhir.

Pemerintah Denmark mengumumkan insiden tersebut pada 5 Oktober 2026. Informasi yang diakses tanpa izin mencakup nama, alamat, nomor identitas CPR, dan data terkait lainnya.

CPR merupakan registri kependudukan nasional Denmark yang menyimpan catatan lebih luas daripada jumlah penduduk yang saat ini tinggal di negara tersebut. Data di dalamnya juga mencakup orang yang telah meninggal dunia atau pindah ke luar negeri.

Orang yang mengaku melakukan peretasan menyatakan tidak berniat menjual atau menyebarkan informasi yang diperoleh. Namun, pernyataan tersebut belum menjamin data tidak akan disalahgunakan oleh pihak lain. Informasi identitas yang terekspos tetap berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan, penyamaran identitas, atau serangan rekayasa sosial.

Kasus Kata Sandi Lemah Juga Pernah Disorot di Indonesia

Risiko penggunaan kata sandi yang mudah ditebak juga menjadi perhatian dalam insiden Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) di Indonesia pada 2024.

Saat itu, dokumen yang diduga memuat kredensial untuk mengakses server pemerintah tersebar di internet. Salah satu kata sandi yang diberitakan adalah “Admin#1234”. Informasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengelolaan kredensial dan perlindungan infrastruktur digital pemerintah.

Namun, kata sandi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab pasti serangan ransomware terhadap PDNS. Pemberitaan mengenai kredensial yang beredar dan penyebab teknis serangan merupakan dua hal berbeda yang perlu dibuktikan melalui hasil investigasi. 

Insiden lain terjadi di Korea Selatan pada September 2025, ketika kebakaran di pusat data pemerintah menghancurkan sistem penyimpanan dokumen G Drive. Menurut kantor berita Yonhap, dokumen kerja sekitar 750.000 pegawai negeri terdampak karena sistem tersebut tidak memiliki pencadangan eksternal.

Peristiwa di Denmark, Indonesia, dan Korea Selatan memiliki karakteristik serta penyebab berbeda. Meski demikian, ketiganya memperlihatkan pentingnya pengamanan akses, pemantauan aktivitas sistem, dan pencadangan data agar gangguan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih luas.

AI Membantu Otomatisasi Serangan Siber

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut menambah tantangan dalam keamanan digital. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengotomatisasi sejumlah tahapan serangan, seperti memetakan sistem, mencari celah keamanan, dan menjalankan tugas berulang dengan lebih cepat.

Pada Agustus 2026, otoritas Taiwan melaporkan serangan terhadap lembaga pemerintah yang melibatkan agen AI. Sementara itu, laporan mengenai serangan terhadap sejumlah institusi keuangan Korea Selatan pada Oktober 2026 juga menyebut dugaan penggunaan perangkat berbasis AI. Investigasi atas serangkaian serangan tersebut masih menjadi bagian penting untuk memastikan metode dan pihak yang terlibat.

Meski kemampuan AI dapat mempercepat aktivitas pelaku, insiden Denmark menunjukkan bahwa risiko serius juga dapat muncul dari kelemahan keamanan yang mendasar. Kata sandi yang mudah ditebak, penggunaan kredensial yang sama di beberapa akun, serta lemahnya pemantauan aktivitas dapat membuka peluang penyalahgunaan akses.

Karena itu, keamanan tidak cukup hanya bergantung pada kecanggihan teknologi pertahanan. Organisasi juga perlu menerapkan pembatasan hak akses, autentikasi tambahan, pemantauan aktivitas tidak wajar, dan evaluasi keamanan terhadap mitra yang terhubung ke sistem mereka.

Lima Cara Membuat Kata Sandi Lebih Aman

Pengguna dapat mengurangi risiko pengambilalihan akun dengan menerapkan sejumlah langkah berikut.

1. Gunakan kata sandi yang panjang dan unik.

Pilih kata sandi panjang yang sulit diprediksi atau gunakan frasa sandi yang kuat. Panjang kata sandi dan ketidakpastian susunannya dapat membantu meningkatkan perlindungan terhadap upaya menebak secara otomatis.

2. Hindari kombinasi yang mudah ditebak.

Jangan menggunakan kombinasi seperti “123456”, “password”, tanggal lahir, nama sendiri, atau urutan angka sederhana. Informasi pribadi yang tersedia di media sosial juga sebaiknya tidak dijadikan bagian utama kata sandi.

3. Bedakan kata sandi untuk setiap akun.

Gunakan kata sandi berbeda untuk setiap layanan. Jika salah satu akun mengalami kebocoran, kata sandi yang sama tidak dapat langsung dicoba untuk mengambil alih akun lain.

4. Manfaatkan pengelola kata sandi.

Password manager dapat membantu membuat dan menyimpan kata sandi yang kuat serta berbeda untuk setiap akun. Pengguna tidak harus menghafal seluruh kombinasi secara manual, tetapi perlu melindungi akun utama pengelola kata sandi dengan baik.

5. Aktifkan autentikasi dua faktor.

Autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA) menambahkan lapisan verifikasi setelah kata sandi dimasukkan. Pilih metode autentikasi yang aman dan tersedia pada layanan terkait untuk mengurangi risiko ketika kata sandi diketahui orang lain.

Penerapan langkah tersebut perlu disertai kebiasaan memeriksa aktivitas masuk, memperbarui sistem, serta segera mengganti kredensial jika terindikasi bocor. Bagi organisasi, pengamanan juga harus mencakup pembatasan akses pihak ketiga sesuai kebutuhan dan sistem peringatan untuk mendeteksi aktivitas yang menyimpang.

Kasus Denmark menjadi pengingat bahwa satu akun dengan perlindungan lemah dapat menimbulkan risiko besar ketika terhubung ke basis data sensitif. Kata sandi yang kuat memang bukan satu-satunya unsur keamanan, tetapi menjadi langkah dasar yang perlu didukung pengawasan dan tata kelola akses yang memadai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online