33 Negara Siapkan Pangan Darurat, Stok Beras Indonesia 25 Juta Ton
Mentan Amran menyebut ketersediaan beras Indonesia mencapai 25 juta ton saat 33 negara menyiapkan persediaan pangan untuk kondisi darurat.
Tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menghadirkan NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis AI yang dirancang untuk mendukung siswa tunanetra
Harianjogja.com, JAKARTA—Inovasi anak muda Indonesia hadir melalui teknologi yang menjawab persoalan di sekitar masyarakat. Mulai dari dinding lumut pintar untuk membantu menyaring polusi udara hingga aplikasi pembelajaran matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi siswa tunanetra.
Kedua inovasi tersebut menjadi karya terbaik dalam kompetisi Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta meraih juara pertama kategori SMA/SMK/MA melalui inovasi AeroSpora. Sementara tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menjadi juara pertama kategori perguruan tinggi dengan aplikasi NovaSight.
Samsung Electronics Indonesia mengumumkan para pemenang kompetisi tersebut di Jakarta, Minggu (1/11/2026). Kompetisi ini menjadi wadah bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan solusi berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
AeroSpora dikembangkan sebagai dinding lumut pintar yang memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan AI untuk membantu memurnikan udara. Sementara NovaSight dirancang untuk memudahkan siswa tunanetra memahami materi matematika yang selama ini sulit diakses melalui metode pembelajaran biasa.
Dinding Lumut Pintar untuk Membantu Mengatasi Polusi
Tim BryotechAlpha mengembangkan AeroSpora berangkat dari persoalan polusi udara di Jakarta. Mereka mencatat konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 41 mikrogram per meter kubik pada Oktober 2026. Angka tersebut sekitar 2,7 kali ambang batas harian 15 mikrogram per meter kubik yang direkomendasikan WHO.
AeroSpora memanfaatkan lumut sebagai penyaring udara alami. Perangkat ini dilengkapi sensor untuk memantau suhu, kelembapan udara, kelembapan media tanam, serta kadar partikel debu PM2.5 secara waktu nyata.
Teknologi TinyML yang ditanamkan pada mikrokontroler ESP32-S3 digunakan untuk memprediksi risiko kekeringan lumut. Ketika diperlukan, sistem pengabutan otomatis akan menjaga kelembapan tanaman. Menariknya, air kondensasi dari pendingin ruangan atau AC juga dimanfaatkan sebagai sumber air pengabutan.
Pengguna dapat memantau data melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), yakni stasiun pemantau yang memanfaatkan tablet bekas. Perangkat ini juga dilengkapi chatbot edukatif AeroSpora AI.
Dengan ukuran 120 x 50 sentimeter dan kebutuhan daya 15-25 watt, AeroSpora diklaim mampu menjangkau ruangan seluas 50-80 meter persegi.
Aplikasi Matematika untuk Siswa Tunanetra
Inovasi lainnya datang dari tim I-SEUNG Universitas Komputer Indonesia melalui NovaSight. Aplikasi berbasis AI ini dikembangkan untuk membantu siswa tunanetra mempelajari matematika secara lebih mandiri.
Gagasan tersebut muncul setelah tim melakukan wawancara di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi. Mereka menemukan siswa tunanetra masih menghadapi kesulitan memahami grafik dan diagram matematika. Di sisi lain, guru juga mengalami kendala ketika menilai tahapan pengerjaan soal oleh siswa.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat 4.229 siswa tunanetra yang bersekolah di SLB di seluruh Indonesia.
NovaSight menghadirkan lima fitur utama untuk mendukung proses belajar. Annoter mengubah modul matematika menjadi teks naratif agar dapat dibaca melalui teknologi pembaca layar. Scriber membantu siswa mencatat tahapan penyelesaian soal menggunakan papan ketik yang kompatibel dengan pembaca layar.
Ada pula Clarifier yang menjawab pertanyaan berdasarkan modul pembelajaran dan sumber terpercaya. Sementara Quizzer membantu guru menyusun soal beserta kunci jawaban, sedangkan Evaluaizer menganalisis tahapan pengerjaan siswa untuk menemukan kesalahan.
Dalam uji coba, siswa tunanetra mampu menjawab empat dari lima soal secara mandiri dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.
Perwakilan tim I-SEUNG, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja, mengatakan ide NovaSight berawal dari kepedulian terhadap kesulitan siswa tunanetra dalam memahami materi matematika.
“Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami belajar untuk mengembangkan ide tersebut menjadi solusi yang lebih matang, sekaligus memahami pentingnya kolaborasi dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kemenangan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menyempurnakan NovaSight agar dapat memberikan manfaat nyata bagi lebih banyak siswa,” ujar Regia.
Diikuti Lebih dari 4.000 Pendaftar
Samsung Solve for Tomorrow 2026 mengusung tiga tema, yakni teknologi untuk keberlanjutan lingkungan, teknologi untuk perubahan sosial melalui olahraga, serta transformasi pendidikan melalui STEM dan AI.
Kompetisi tahun ini menerima lebih dari 4.000 pendaftar. Sebanyak 2.600 peserta kemudian mengikuti Design Thinking Workshop. Dari proses tersebut, 40 tim melaju ke semifinal dan mendapatkan pelatihan teknis AI Amplification.
Pada tahap akhir, 10 tim terbaik dari masing-masing kategori SMA/SMK/MA dan perguruan tinggi mengikuti penjurian di hadapan dewan juri.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, mengapresiasi kreativitas dan kepedulian para peserta dalam mengembangkan solusi atas berbagai persoalan nyata.
“Kami bangga dan terinspirasi melihat generasi muda Indonesia mengubah tantangan di sekitar mereka menjadi ide dan solusi inovatif. Kami berharap pencapaian ini menjadi langkah awal bagi para pemenang untuk terus belajar, mengembangkan inovasi, dan menciptakan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat melalui pemanfaatan STEM dan AI,” ujar Anggi.
Perwakilan tim BryotechAlpha, Azkeanu Rhesa Ramadhan, mengatakan AeroSpora dikembangkan dari keinginan menghadirkan udara yang lebih bersih melalui perpaduan alam dan teknologi.
“Samsung Solve for Tomorrow memberikan pengalaman berharga bagi kami untuk berani berpikir lebih jauh. Selama program, kami juga mendalami STEM, AI, dan kerja sama tim,” kata Keanu.
Assoc. Prof. Suparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menilai kompetisi tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan inovasi sendiri, bukan hanya menjadi pengguna teknologi.
Dia berharap semakin banyak lembaga yang terlibat dalam pengembangan talenta inovatif agar gagasan anak muda dapat diarahkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, mengatakan keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pengetahuan yang diperoleh siswa, tetapi juga kemampuan menerapkannya untuk menjawab persoalan nyata.
Melalui program bertema “Together for Tomorrow! Enabling People”, Samsung berharap kompetisi Solve for Tomorrow terus mendorong pelajar dan mahasiswa untuk bereksperimen, berkolaborasi, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mentan Amran menyebut ketersediaan beras Indonesia mencapai 25 juta ton saat 33 negara menyiapkan persediaan pangan untuk kondisi darurat.
Satlantas Polresta Jogja merilis jadwal pelayanan SIM November 2026, mulai Satpas, SIM Keliling Alkid, SIM MAMI, hingga layanan Drive Thru.
Pelajar dan mahasiswa Indonesia menciptakan AeroSpora, dinding lumut pintar, dan NovaSight, aplikasi matematika berbasis AI untuk tunanetra.
Mario Aji gagal finis di Moto2 Malaysia setelah terjatuh pada lap kedua. Pembalap Indonesia itu kini membidik hasil lebih baik di Qatar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin, 2 November 2026. Ada 12 pilihan keberangkatan dari Palur, mulai pukul 05.00 hingga 20.42 WIB.
Sufmi Dasco Ahmad meminta kader Gerindra Banten memperkuat konsolidasi dan kekompakan untuk menghadapi Pemilu 2029 serta menyukseskan pemerintahan Prabowo.