Mengapa Hujan Memunculkan Aroma Tanah Basah? Ini Penjelasan Sains

Jumali
Jumali Senin, 02 November 2026 10:37 WIB
Mengapa Hujan Memunculkan Aroma Tanah Basah? Ini Penjelasan Sains

Foto ilustrasi hujan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Aroma tanah basah yang muncul ketika hujan pertama turun setelah musim kemarau memiliki daya tarik tersendiri. Wangi khas tersebut kerap menghadirkan kesan sejuk dan segar, bahkan membangkitkan kenangan tentang suasana hujan.

Aroma yang dikenal sebagai petrichor itu ternyata bukan sekadar hasil pertemuan air hujan dengan debu di permukaan tanah. Ada proses biologis dan fisika yang membuat wangi tersebut terlepas ke udara hingga bisa tercium manusia.

Salah satu unsur penting di balik aroma itu adalah geosmin, senyawa kimia yang dihasilkan mikroorganisme di dalam tanah. Selain itu, minyak alami dari tumbuhan dan proses tumbukan tetesan hujan juga ikut membentuk aroma khas setelah hujan.

Geosmin, Senyawa dari Bakteri Tanah

Geosmin merupakan salah satu senyawa utama yang berperan dalam menghasilkan aroma tanah basah. Senyawa ini diproduksi oleh mikroorganisme yang hidup di dalam tanah, termasuk bakteri dari kelompok Streptomyces.

Bakteri Streptomyces memiliki peran dalam proses penguraian bahan organik di tanah. Kelompok mikroorganisme ini juga dikenal dalam dunia medis karena sejumlah spesiesnya menghasilkan senyawa yang dimanfaatkan dalam pengembangan obat, termasuk antibiotik.

Geosmin sebenarnya sudah berada di dalam tanah sebelum hujan turun. Artinya, air hujan bukanlah pembentuk senyawa tersebut, melainkan membantu melepaskannya ke udara.

Kepekaan hidung manusia terhadap geosmin juga tergolong tinggi. Manusia disebut mampu mendeteksi senyawa ini pada konsentrasi sekitar 400 bagian per triliun atau parts per trillion (ppt). Hal itu menjelaskan mengapa aroma tanah basah bisa tercium meskipun jumlah senyawa yang dilepaskan sangat kecil.

Bagaimana Aroma Tanah Basah Bisa Terangkat ke Udara?

Keberadaan geosmin di dalam tanah belum cukup untuk menjelaskan mengapa aromanya langsung tercium ketika hujan turun. Proses tersebut berkaitan dengan cara tetesan air menghantam permukaan tanah.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications mengamati mekanisme ini menggunakan kamera berkecepatan tinggi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika tetesan hujan menumbuk permukaan berpori, seperti tanah liat atau tanah lempung berpasir, gelembung udara berukuran sangat kecil dapat terbentuk di dalam tetesan air.

Gelembung mikro tersebut kemudian bergerak menuju permukaan tetesan dan pecah. Peristiwa ini menghasilkan semburan partikel air mikroskopis yang terlepas ke udara. Partikel-partikel tersebut disebut aerosol.

Aerosol berperan membawa material dari permukaan tanah ke atmosfer, termasuk senyawa geosmin dan mikroorganisme. Material yang terangkat kemudian dapat terbawa aliran udara sehingga aromanya sampai ke indra penciuman manusia.

Dengan demikian, aroma setelah hujan tidak hanya berkaitan dengan kandungan tanah, tetapi juga proses fisika ketika air menghantam permukaan bumi.

Minyak Tumbuhan Ikut Membentuk Aroma Hujan

Selain geosmin, aroma khas setelah hujan juga dipengaruhi oleh minyak alami yang dilepaskan tumbuhan.

Selama musim kemarau, sejumlah tanaman melepaskan minyak organik yang kemudian menempel dan terkumpul di permukaan batuan maupun butiran tanah kering. Ketika hujan turun, perubahan kelembapan membantu melepaskan kembali komponen tersebut ke udara.

Badan Meteorologi Inggris atau Met Office menjelaskan bahwa petrichor merupakan perpaduan aroma dari minyak tumbuhan dan senyawa kimia yang dilepaskan bakteri tanah.

Perpaduan berbagai komponen tersebut membuat aroma setelah hujan memiliki karakter khas. Jadi, wangi yang sering dinikmati ketika hujan pertama membasahi tanah merupakan hasil interaksi antara mikroorganisme, tumbuhan, dan proses fisika tetesan air.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online