Toto Wolff Kritik Pembalap MotoGP soal Polemik GP Qatar 2026
Toto Wolff mengkritik sikap pembalap MotoGP terkait GP Qatar 2026 dan mendukung keputusan manajemen kejuaraan melanjutkan balapan.
Harianjogja.com, JAKARTA -- Koneksi Wifi sekarang sudah semakin banyak digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan komunikasi. Lokasi seperti cafe, restoran hingga mall kini sudah lazim menyediakan akses internet gratis memakai koneksi Wifi.
Namun, koneksi Wifi ternyata juga memberikan resiko buruk bagi pengguna layanan telekomunikasi. Penggunaan frekuensi 2,4 Ghz di Wifi ditengarai sebagai salah satu penyebab gangguan layanan telekomunikasi yang kerap terjadi belakangan ini.
"Frekuensi Wifi kan juga pakai gelombang frekuensi di 2,4 Ghz. Semakin banyak akses Wifi tersedia resiko untuk mengganggu layanan telekomunikasi yang disediakan oleh operatot selular juga jadi semakin tinggi," ungkap Nonot Harsono, Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), seperti dilansir dari laman Liputan6.com, Selasa (2/12/2014).
Fasilitas pendukung kehadiran Wifi seperti antena atau kabel serta perangkat lainnya yang kurang baik beresiko untuk mengganggu jaringan yang disediakan oleh operator telekomunikasi.
"Antena dan kabel yang karatan atau kurang bagus bisa mengacaukan layanan telekomunikasi yang disediakan operator. Antena dan kabel bermasalah itu nantinya bisa lahirkan frekuensi liar yang masuk ke frekuensi sebelah. Frekuensi 2,1 Ghz sendiri kan dipakai untuk jaringan komunikasi operator, lokasi dekat sama 2,4 Ghz jadi semakin tinggi resiko gangguannya," papar Nonot.
Nonot pun menjelaskan, sekarang ini di satu lokasi terdapat minimal lima akses Wifi yang bisa diakses siapa saja. Bahkan, di lingkungan perkantoran, pusat perbelanjaan maupun lokasi keramaian lainnya akses Wifi yang tersedia bisa jauh lebih banyak.
"Coba sekali-sekali duduk di kawasan Monas dan buka laptop, berapa banyak akses Wifi di sana. Nah, di kantor saya sekarang saja sudah ada 20-an koneksi Wifi yang bisa diakses secara luas, kita kan gak tahu kualitas kabel dan antena yang mereka pakai mungkin saja bisa ganggu layanan komunikasi kita," jelasnya lagi.
Interferensi memang salah satu hal paling rentan yang mengganggu layanan telekomunikasi. Oleh sebab itu, Nonot selaku anggota BRTI mengingatkan agar para pengguna akses Wifi maupun operator telekomunikasi untuk tetap memperhatikan infrastruktur yang dimilikinya agar layanannya tetap berkualitas baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Toto Wolff mengkritik sikap pembalap MotoGP terkait GP Qatar 2026 dan mendukung keputusan manajemen kejuaraan melanjutkan balapan.
BPS menjelaskan alasan penduduk yang bekerja satu jam seminggu tetap masuk kategori bekerja berdasarkan standar ILO.
Sebanyak 30 lurah hasil Pilur Serentak 2026 Bantul resmi dilantik untuk masa jabatan 2026-2034. Lurah diminta inovatif dan merangkul seluruh warga.
Banyak lembaga antikorupsi belum menjamin pemberantasan korupsi efektif. Mantan penasihat KPK Suwarsono Muhammad mengungkap perlunya strategi khas Indonesia.
Kemenag menetapkan 52.325 guru sebagai peserta PPG Daljab 2026. Lapor diri dan unggah dokumen dijadwalkan 9–12 November.
Harianjogja.com, SLEMAN—PDAM Tirta Sembada Kabupaten Sleman berkomitmen memperkuat profesionalisme, inovasi, dan kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat