Advertisement

Mayoritas Kreator Hidup di Bawah Bayang Ketidakpastian Finansial

Jumali
Minggu, 04 Januari 2026 - 13:17 WIB
Jumali
Mayoritas Kreator Hidup di Bawah Bayang Ketidakpastian Finansial Foto ilustrasi Youtube. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Di balik gemerlap dunia influencer, mayoritas kreator konten justru menghadapi ketidakpastian finansial akibat persaingan ketat dan pendapatan yang timpang.

Clint Brantley adalah potret nyata anomali dunia digital. Menjadi kreator konten purnawaktu sejak 2021 dengan lebih dari 400.000 pengikut di TikTok, YouTube, dan Twitch, ia ternyata mengantongi pendapatan di bawah gaji median pekerja Amerika Serikat (AS) yang sebesar US$58.084 atau sekitar Rp900 juta per tahun.

Advertisement

Di usia 29 tahun, Brantley masih tinggal bersama ibunya di Washington karena ketidakpastian finansial. "Saya sangat rentan," ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal.

Saat ini, platform media sosial tidak lagi "royal" dalam membagikan komisi atau insentif. Di sisi lain, perusahaan atau brand kini jauh lebih selektif dalam memilih influencer untuk kerja sama promosi.

Kecemasan para kreator semakin memuncak seiring ancaman pemblokiran TikTok di AS pada 2025. Bagi banyak kreator, kehilangan TikTok berarti kehilangan salah satu sumber pendapatan utama yang sulit digantikan dalam waktu singkat.

Laporan Goldman Sachs (2023) memperkirakan terdapat sekitar 50 juta orang di seluruh dunia yang mencari nafkah sebagai kreator konten. Angka ini diprediksi tumbuh 10–20% per tahun hingga 2028.

Namun, distribusi pendapatannya sangat timpang. Data menunjukkan:

- 48% Kreator: Berpenghasilan di bawah US$15.000 (Rp230 jutaan) per tahun.

- Hanya 14% Kreator: Yang mampu meraih lebih dari US$100.000 (Rp1,5 miliar) per tahun.

Kesuksesan sebagai influencer tidak terjadi secara instan. Faktor penentu meliputi durasi berkarier, jenis konten, hingga momentum tren. Namun, pekerjaan ini sangat menguras energi dan mental. Kreator dituntut untuk selalu kreatif, konsisten berinteraksi dengan audiens, dan "tunduk" pada algoritma platform yang terus berubah.

Program insentif besar dari TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels mulai dipangkas. Kini, syarat untuk mendulang uang semakin berat:

- TikTok: Minimal 10.000 pengikut dan 100.000 penayangan (views) per bulan.

- YouTube Shorts: Minimal 1.000 subscriber dan 10 juta penayangan dalam 90 hari untuk bagi hasil iklan 45%.

Banyak kreator mengeluhkan pendapatan per penayangan (AdSense/Payout) yang terus menurun meski jumlah pengikut mereka terus bertambah.

Kreator seperti Danisha Carter, yang memiliki 1,9 juta pengikut di TikTok, mulai menyuarakan tuntutan pembayaran yang lebih transparan. Carter mengaku hanya mendapatkan US$12.000 dari TikTok, sehingga ia terpaksa beralih menjual merchandise untuk menutupi kebutuhan hidup.

"Kreator harus dibayar sesuai dengan persentase pendapatan yang diraih aplikasi," tegas Carter.

Perjuangan para kreator kini bukan lagi sekadar mencari ketenaran, melainkan memperjuangkan keadilan ekonomi di tengah ekosistem digital yang semakin raksasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Top Ten News Harianjogja.com pada Senin 5 Januari 2026

Top Ten News Harianjogja.com pada Senin 5 Januari 2026

News
| Senin, 05 Januari 2026, 10:27 WIB

Advertisement

Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali

Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali

Wisata
| Minggu, 04 Januari 2026, 22:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement