Advertisement
Smartphone Diproyeksi Naik Harga, Penjualan Terancam Turun
Foto ilustrasi pabrik ponsel pintar. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) memperkirakan konsumen akan cenderung menunda pembelian smartphone seiring proyeksi kenaikan harga perangkat pada 2026. Kenaikan harga tersebut diprediksi berdampak signifikan terhadap volume penjualan, terutama di segmen menengah ke bawah.
Ketua Umum Idiec Tesar Sandikapura mengatakan, meskipun smartphone masih menjadi kebutuhan penting masyarakat, tekanan harga membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian.
Advertisement
“Oleh sebab itu, konsumen cenderung menunda pembelian,” kata Tesar kepada Bisnis, Jumat (23/1/2026).
Selain menunda pembelian, konsumen juga berpotensi beralih ke merek lain, memilih model lama, atau turun ke segmen harga yang lebih rendah. Menurut Tesar, pasar smartphone Indonesia relatif tetap resilien, namun semakin sensitif terhadap faktor harga, khususnya pada kelas menengah dan entry level.
BACA JUGA
Ia menjelaskan, kenaikan harga smartphone dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, terjadi kelangkaan pasokan semikonduktor akibat alokasi kapasitas produksi chipset yang lebih besar untuk industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pusat data, dan komputasi berkinerja tinggi.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan biaya logistik, serta tingginya ketergantungan terhadap impor komponen turut memperbesar tekanan harga perangkat.
Tesar memprediksi, kenaikan harga smartphone dan keterbatasan pasokan komponen global berpotensi menekan penjualan di Indonesia sekitar 5%–10% secara tahunan.
“Secara umum, kenaikan harga berada di kisaran 5%–15%, dengan dampak paling terasa pada segmen menengah dan flagship,” ujarnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Idiec mendorong produsen melakukan efisiensi rantai pasok dan diversifikasi sumber komponen, mengoptimalkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta perakitan lokal, hingga menghadirkan varian produk dengan spesifikasi seimbang dan harga lebih kompetitif.
Produsen juga dinilai perlu menawarkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel bagi konsumen. Sementara dari sisi pemerintah, Tesar menilai peran strategis diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memperbaiki iklim impor komponen strategis, memberikan insentif bagi industri perakitan dan manufaktur lokal, serta mempercepat penguatan ekosistem semikonduktor nasional dalam jangka menengah hingga panjang.
Sebelumnya, pada November 2025, manajemen Xiaomi telah memperingatkan potensi kenaikan harga smartphone secara global seiring meningkatnya harga chip memori akibat lonjakan permintaan dari sektor kecerdasan buatan. Presiden Xiaomi Lu Weibing menyebut tekanan biaya pada industri smartphone diperkirakan lebih besar pada 2026 dibandingkan 2025.
“Secara keseluruhan, konsumen kemungkinan akan melihat kenaikan harga ritel produk yang cukup signifikan,” kata Lu Weibing, dikutip dari laman GSM Arena, 19 November 2025.
Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1% pada 2026. Penurunan tersebut dipicu kenaikan biaya komponen yang membebani produsen sekaligus melemahkan daya beli konsumen. Segmen pasar dengan harga di bawah US$200 atau sekitar Rp3,3 juta disebut menjadi yang paling terdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tujuh Tewas dalam Longsor Disertai Banjir Bandang di Cisarua Bandung
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Masih Ada 982 Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer SMA-SMK di DIY
- Warga Kalibawang Diduga Tewas, Kerangka Ditemukan di Gunung Tugel
- PDIP DIY Gelar Merawat Pertiwi, Jaga Hubungan Manusia dan Alam
- Bus Wisata Dilarang Masuk Sumbu Filosofi, Pemkot Jogja Siapkan Lokasi
- Polisi Ungkap Modus Curanmor Basemen Mal di Sleman
Advertisement
Advertisement



