Advertisement

Harga Minyak Dunia Melambung, Mobil Listrik Jadi Primadona Baru

Rizqi Rajendra
Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:27 WIB
Sunartono
Harga Minyak Dunia Melambung, Mobil Listrik Jadi Primadona Baru SPKLU Mobile dari PLN - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada peta industri otomotif nasional, di mana kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) kini diprediksi bakal semakin diminati masyarakat.

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi katalisator utama bagi konsumen untuk beralih dari mobil konvensional. Fenomena ini muncul di tengah kekhawatiran melambungnya harga minyak Brent yang menyentuh angka US100 hingga US117 per barel, serta tekanan depresiasi rupiah yang berada di level Rp16.900.

Advertisement

Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyoroti bahwa situasi global ini menciptakan tekanan ekonomi serius berupa cost-push inflation yang menggerus daya beli masyarakat.

Segmen menengah yang selama ini menjadi penyokong utama pasar mobil murah atau low cost green car (LCGC) kini cenderung menunda pembelian kendaraan baru dan beralih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok.

Berdasarkan data Gaikindo, lesunya pasar LCGC terlihat dari penurunan distribusi wholesales sebesar 21,5 persen pada Januari-Februari 2026, yang hanya mampu membukukan angka 22.106 unit.

Menariknya, pelemahan ekonomi ini tidak menyurutkan ambisi pasar kelas menengah atas yang justru merespons kondisi secara lebih rasional dengan melirik efisiensi kendaraan listrik. Pada dua bulan pertama tahun 2026, penjualan mobil listrik murni atau BEV meroket hingga empat kali lipat secara tahunan mencapai 22.508 unit, dengan penguasaan pangsa pasar menyentuh 15 persen.

Dominasi pertumbuhan ini disokong kuat oleh kehadiran berbagai model terjangkau dari pabrikan asal Tiongkok seperti BYD, Wuling, Changan, hingga Jaecoo yang menawarkan solusi hemat di tengah naiknya biaya operasional kendaraan berbahan bakar minyak.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa faktor total cost of ownership atau biaya kepemilikan total menjadi pertimbangan krusial, mengingat penggunaan kendaraan listrik diklaim mampu menghemat pengeluaran sekitar 60 persen hingga 70 persen.

Yannes berpendapat bahwa secara struktural, BEV akan keluar sebagai pemenang jangka panjang dalam lanskap industri otomotif tanah air seiring dengan percepatan transisi energi domestik. Konflik di Timur Tengah secara tidak langsung mengubah fungsi mobil listrik dari sekadar instrumen gaya hidup menjadi kebutuhan efisiensi yang mendesak bagi mobilitas masyarakat.

Guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor BBM, Indonesia kini terus memacu penguatan ekosistem kendaraan listrik melalui hilirisasi industri. Beberapa raksasa otomotif global bahkan telah merealisasikan komitmen investasinya, seperti BYD yang tengah menyiapkan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun.

Langkah serupa dilakukan oleh jenama asal Vietnam, VinFast, yang telah mengucurkan dana lebih dari US$300 juta untuk membangun fasilitas produksi di lahan seluas 171 hektare dengan target jangka menengah mencapai 350.000 unit kendaraan per tahun guna memenuhi pasar ekspor maupun domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

PP Tunas Berlaku, Menkomdigi Ultimatum Instagram hingga YouTube

PP Tunas Berlaku, Menkomdigi Ultimatum Instagram hingga YouTube

News
| Sabtu, 28 Maret 2026, 19:57 WIB

Advertisement

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Wisata
| Sabtu, 28 Maret 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement