Advertisement

Langit April Hadirkan Komet Langka yang Tak Kembali

Jumali
Selasa, 14 April 2026 - 20:47 WIB
Jumali
Langit April Hadirkan Komet Langka yang Tak Kembali Komet - Dok

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Langit malam sepanjang April 2026 menghadirkan pemandangan langka yang bisa dinikmati tanpa alat khusus, mulai dari komet yang hanya lewat sekali hingga hujan meteor yang memuncak di akhir bulan.

Fenomena ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk menikmati “pertunjukan alam” langsung dari langit, bahkan hanya dengan mata telanjang dari halaman rumah atau tempat terbuka.

Advertisement

Salah satu yang paling dinanti adalah kemunculan komet C/2025 R3 (PanSTARRS) yang mulai terlihat menjelang fajar. Bagi Anda yang ingin menyaksikannya, waktu terbaik adalah sebelum matahari terbit dengan mengarahkan pandangan ke arah timur.

"NASA merekomendasikan tanggal 17 April sebagai waktu terbaik untuk mengamatinya, saat komet berada pada posisi ideal sebelum mendekati titik terdekatnya dengan matahari," tulis IFL Science, Selasa (14/4/2026).

Meski tidak seterang komet legendaris seperti Hale-Bopp, kehadiran komet ini tetap menjadi momen spesial. Pasalnya, berdasarkan perhitungan orbit, komet ini diprediksi akan meninggalkan Tata Surya setelah melintas kali ini. Artinya, tidak akan ada kesempatan kedua untuk melihatnya.

Selain komet, fenomena menarik lain juga akan terjadi pada 19 April setelah matahari terbenam. Pada waktu tersebut, bulan sabit tipis akan tampak melintas di depan gugus bintang Pleiades di rasi Taurus, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai okultasi.

Pemandangan ini akan semakin indah karena planet Venus tampak bersinar terang di dekatnya. Bahkan, dengan teleskop sederhana, planet Uranus juga berpotensi terlihat di bawah posisi bulan.

Tak kalah menarik, hujan meteor Lyrid juga mulai aktif sejak pertengahan April hingga akhir bulan. Meteor ini berasal dari sisa debu komet C/1861 G1 Thatcher yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.

Puncak hujan meteor diperkirakan terjadi pada malam 21 hingga 22 April. Dalam kondisi langit cerah, pengamat dapat melihat sekitar 20 meteor per jam, jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan malam biasa.

Keistimewaan Lyrid terletak pada kilatan cahayanya yang terang dan cepat. Para astronom menyebut partikel kecil yang memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi mampu menghasilkan garis cahaya dramatis, bahkan jika ukurannya relatif kecil.

Tahun ini, kondisi pengamatan juga cukup ideal karena cahaya bulan tidak terlalu terang, sehingga langit relatif gelap dan mendukung aktivitas berburu meteor.

Agar pengalaman mengamati langit lebih maksimal, disarankan memilih lokasi yang jauh dari polusi cahaya, seperti di area perbukitan atau pinggiran kota. Momen ini juga bertepatan dengan International Dark Sky Week yang mengajak masyarakat menjaga kelestarian langit malam.

Dengan berbagai fenomena ini, April 2026 menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan menikmati keindahan alam semesta, baik bersama keluarga maupun komunitas pecinta astronomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Polemik Tempo, NasDem DIY Bantah Isi Laporan dan Tegaskan Sikap

Polemik Tempo, NasDem DIY Bantah Isi Laporan dan Tegaskan Sikap

News
| Rabu, 15 April 2026, 00:17 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement