Advertisement
Honda Tertekan, Rugi Triliunan Akibat Gagal Proyek Mobil Listrik
Honda Civid Turbo. - JIBI
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kinerja Honda tengah berada di bawah tekanan berat setelah proyek mobil listriknya mengalami kegagalan besar. Dampaknya tidak main-main: potensi kerugian tahunan pertama dalam puluhan tahun.
Reuters menyebut, produsen otomotif asal Jepang tersebut harus menanggung penurunan nilai aset (impairment) hingga 2,5 triliun yen atau sekitar Rp266 triliun. Beban ini muncul setelah sejumlah proyek kendaraan listrik (EV) yang sebelumnya digadang-gadang justru dibatalkan menjelang peluncuran.
Advertisement
Langkah agresif dalam mengembangkan mobil listrik dinilai tidak diimbangi kesiapan strategi. Ketika kompetitor seperti Tesla dan BYD sudah melaju cepat, Honda justru tertinggal dan akhirnya melakukan koreksi besar-besaran terhadap rencana bisnisnya.
CEO Toshihiro Mibe sebelumnya menargetkan kontribusi penjualan EV mencapai 40 persen pada 2030, namun target itu kini dipangkas menjadi 20 persen. Bahkan, beberapa model yang sudah dinanti pasar seperti seri 0 EV dan Acura RSX listrik untuk pasar Amerika Serikat dilaporkan dibatalkan.
BACA JUGA
Tekanan tidak hanya datang dari sektor kendaraan listrik. Penjualan mobil berbahan bakar bensin (ICE) juga mengalami perlambatan. Dalam empat kuartal terakhir, divisi otomotif Honda terus mencatat kinerja negatif. Di pasar Amerika Serikat, pertumbuhan penjualan hanya naik tipis sekitar 0,5 persen.
Di Indonesia, penurunan lebih terasa. Penjualan Honda dilaporkan turun signifikan hingga 35 persen. Pada kuartal pertama 2026, penjualan hanya mencapai sekitar 13.530 unit, jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang menembus lebih dari 22.000 unit.
Sementara itu, tekanan paling besar terjadi di pasar China. Penjualan Honda di negara tersebut terus merosot selama dua tahun terakhir. Konsumen mulai beralih ke kendaraan listrik pintar produksi lokal, membuat posisi Honda semakin terdesak.
Akibat kondisi ini, perusahaan mulai mengurangi kapasitas produksi, termasuk rencana penutupan beberapa pabrik di China. Kapasitas produksi kendaraan berbahan bakar bensin bahkan dipangkas hingga setengahnya.
Di sisi lain, proyek ambisius kerja sama dengan Sony melalui Sony Honda Mobility juga ikut terdampak. Pengembangan mobil listrik Afeela dilaporkan dihentikan, dan pesanan konsumen mulai dikembalikan.
Di tengah tren kendaraan ramah lingkungan, Honda juga dinilai tertinggal dalam segmen hybrid. Pilihan produk yang terbatas membuat mereka kalah bersaing dengan produsen lain yang sudah lebih dulu menguasai pasar ini.
Dengan tekanan dari berbagai lini, Honda kini dihadapkan pada tantangan besar untuk merumuskan ulang strategi bisnisnya di era elektrifikasi. Bagi konsumen, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk lebih cermat mempertimbangkan pilihan sebelum membeli kendaraan baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Geng Remaja di Bantul Diduga Culik dan Siksa Korban hingga Tewas
- Remaja Tenggelam di Parangtritis Ditemukan Meninggal Dunia
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- Disiapkan 12 Hektare, Proyek Kantor Terpadu Pemkab Gunungkidul Lanjut
- Embarkasi Hotel Kulonprogo Siap Dipakai Perdana Besok
Advertisement
Advertisement







