PNBP Tembus Rp492,3 Triliun, Kemenkeu Antisipasi Beban Subsidi
PNBP mencapai Rp492,3 triliun hingga September 2026. Kemenkeu berupaya menambah penerimaan saat subsidi dan kompensasi naik menjadi Rp376,8 triliun.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA - Air adalah kunci kehidupan. Dalam sebuah penelitian yang disebut sebagai terobosan potensial, tim peneliti telah menemukan cara untuk menguji air di eksoplanet dan menemukan planet yang layak huni karena memiliki kandungan air yang cukup.
Studi ini telah dan dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters. Penelitian baru ini berasal dari Caltech, MIT, dan lembaga lainnya. Ilmuwan planet Renyu Hu di Jet Propulsion Laboratory NASA adalah penulis utamanya.
Dengan menggunakan model komputer baru, Hu dan timnya menemukan bahwa sekitar 10% hingga 20% sub-Neptunus dapat memiliki lautan dan berpotensi layak huni.
Para peneliti menciptakan model komputer dari planet yang tertutup lautan, mengorbit bintang katai merah untuk menentukan sub-Neptunus mana yang mungkin memiliki lautan dan bahkan layak huni.
Para peneliti juga melihat detail kimia atmosfer antara dunia dengan atmosfer tipis dan tebal.
Di Bumi, atmosfer kita dan lautan kita terhubung, mereka bertanggung jawab atas cuaca dan iklim dunia kita. Tidak mengherankan, mereka juga terhubung dengan planet ekstrasurya sub-Neptunus.
Bumi dan Neptunus dalam ukuran dan massa, dengan atmosfer karbon dioksida atau nitrogen yang lebih tipis akan menjadi yang paling mungkin memiliki lautan, menurut Hu dan timnya
Dengan atmosfer hidrogen atau helium yang lebih tebal akan menyebabkan suhu di dasar atmosfernya akan terlalu panas dan kecil kemungkinannya untuk keberadaan lautan.
Hu dan timnya berharap ilmuwan lain akan menggunakan pekerjaan mereka sebagai titik awal.
"Penemuan baru-baru ini dan karakterisasi awal dari planet ekstrasurya berukuran sub-Neptunus yang menerima radiasi bintang kira-kira Bumi meningkatkan prospek untuk menemukan planet yang dapat dihuni dalam dekade mendatang, karena beberapa dari planet beriklim sedang ini mungkin mendukung lautan air cair jika mereka tidak memiliki (hidrogen/helium) dan dengan demikian tidak terlalu panas di bagian bawah amplop." ujarnya dilansir dari Earthsky.
Penelitian terbaru lainnya menemukan bahwa mungkin ada kelas exoplanet yang menarik untuk diskusi ini, yang sekarang disebut planet Hycean.
Planet Hycean adalah Neptunus mini atau Bumi super yang berukuran hingga 2,6 kali diameter Bumi, dengan suhu hingga 200 derajat C (sekitar 400 derajat F) dan atmosfer hidrogen yang tebal. Dalam beberapa kasus, menurut penelitian, planet-planet ini juga dapat menampung lautan global.
Terdengar bertentangan, karena dunia dengan atmosfer tebal (seperti Neptunus) mungkin tidak memiliki lautan di bawah selimut awan tebalnya.
Ini adalah bidang baru, dan para astronom masih belajar dan memperdebatkan beberapa hal. Secara keseluruhan, ada banyak yang harus dipelajari tentang seperti apa jenis planet ini sebenarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
PNBP mencapai Rp492,3 triliun hingga September 2026. Kemenkeu berupaya menambah penerimaan saat subsidi dan kompensasi naik menjadi Rp376,8 triliun.
Inflasi Indonesia mencapai 3,28% pada September 2026. Tito Karnavian meminta pemda mengawasi harga beras, telur, dan daging ayam ras.
Karhutla membakar lahan di Sulawesi dan Ternate, sementara banjir di Aceh Tamiang merendam empat kecamatan dan memaksa 222 KK mengungsi.
Dispusip Bantul menargetkan skor Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 8,6 dan Tingkat Kegemaran Membaca 60 pada 2026.
Sebanyak 60.177 personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan karhutla di enam provinsi, dengan fokus utama Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.
PSS Sleman menang 3-0 atas PSM Makassar, tetapi Pieter Huistra menegaskan evaluasi tetap diperlukan sebelum menghadapi Persebaya.