Ferrari Luce Jadi EV Pertama Picu Saham Anjlok Tajam di Bursa

Jumali
Jumali Rabu, 27 Mei 2026 14:57 WIB
Ferrari Luce Jadi EV Pertama Picu Saham Anjlok Tajam di Bursa

Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Harianjogja.com, JOGJA—Pabrikan mobil sport mewah asal Italia Ferrari resmi memperkenalkan mobil listrik perdananya yang disebut Ferrari Luce di Roma, Selasa (26/5/2026). Peluncuran ini awalnya dipandang sebagai tonggak penting transisi elektrifikasi perusahaan, namun justru memicu reaksi negatif di pasar keuangan.

Tak lama setelah peluncuran, saham Ferrari yang tercatat di Bursa Milan mengalami tekanan signifikan. Di pasar Amerika Serikat, pergerakan saham juga ikut terkoreksi, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah strategi elektrifikasi perusahaan di segmen supercar.

Saham terkoreksi tajam usai peluncuran

Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, saham Ferrari sempat turun hingga sekitar 7 persen pada perdagangan awal, menjadikannya salah satu penurunan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir. Koreksi ini disebut sebagai respons cepat pasar terhadap peluncuran Ferrari Luce.

Investor menilai kehadiran mobil listrik tersebut belum sepenuhnya meyakinkan, terutama karena kekhawatiran bahwa Ferrari dapat kehilangan karakter khasnya yang selama ini identik dengan mesin pembakaran internal berperforma tinggi.

Kritik desain dan arah elektrifikasi

Sejumlah analis juga menyoroti desain Ferrari Luce yang disebut lebih minimalis dibandingkan model supercar Ferrari sebelumnya. Kritik muncul karena sebagian pihak menilai mobil tersebut terlalu jauh dari identitas desain agresif yang selama ini melekat pada merek tersebut.

Ferrari Luce juga disebut melibatkan kolaborasi desain dengan studio yang dikaitkan dengan mantan desainer Apple, Jony Ive, yang semakin menambah sorotan terhadap pendekatan desain yang diambil.

Harga eksklusif tetap dipertahankan

Meski menuai kritik, Ferrari tetap mempertahankan strategi harga premium. Ferrari Luce dibanderol mulai sekitar €550.000 atau setara Rp9,4 miliar, menegaskan posisinya sebagai produk ultra-mewah dengan produksi terbatas.

Strategi ini menunjukkan bahwa Ferrari tidak beralih menjadi produsen massal, melainkan tetap mengandalkan eksklusivitas, margin tinggi, dan citra prestise sebagai nilai utama bisnisnya.

Tantangan elektrifikasi di segmen supercar

Kekhawatiran investor juga dipengaruhi oleh perubahan target elektrifikasi Ferrari yang sebelumnya menargetkan porsi besar mobil listrik pada 2030, namun kemudian direvisi menjadi lebih konservatif. Perubahan ini mencerminkan dinamika pasar supercar yang masih didominasi mesin hybrid dan pembakaran internal.

Situasi serupa juga terjadi di industri sejenis, di mana beberapa produsen supercar lain memilih menunda atau menyesuaikan strategi kendaraan listrik karena permintaan pasar yang belum stabil di segmen tersebut.

Barometer baru industri supercar

Ferrari Luce kini menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah masa depan mobil listrik di segmen supercar mewah. Respons pasar terhadap model ini akan menjadi acuan apakah elektrifikasi dapat berjalan tanpa mengorbankan identitas performa dan eksklusivitas brand.

Bagi industri otomotif, peluncuran ini membuka pertanyaan besar tentang bagaimana merek supercar mempertahankan emosi berkendara sekaligus beradaptasi dengan tuntutan teknologi kendaraan listrik.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online