Paparan Instagram Diduga Pengaruhi Cara Otak Mengenali Wajah

Jumali
Jumali Selasa, 23 Juni 2026 13:17 WIB
Paparan Instagram Diduga Pengaruhi Cara Otak Mengenali Wajah

Instagram - StokCake

Harianjogja.com, JOGJA— Selama ini Instagram kerap dituding memicu kecemasan terhadap penampilan dan menurunnya citra tubuh. Namun, sebuah studi ilmiah terbaru mengungkap dampak yang lebih dalam: paparan jangka panjang terhadap media sosial berbasis visual tersebut diduga dapat memengaruhi cara otak mengenali dan membedakan wajah diri sendiri dengan wajah orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior ini mengajukan konsep “Digital Erosion of Bodily Identity” atau erosi digital identitas tubuh. Studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Università Cattolica del Sacro Cuore di Milan, Italia yang dipimpin oleh Giuseppe Riva bersama Maria Sansoni.

Para peneliti menemukan adanya indikasi bahwa semakin lama seseorang menggunakan Instagram, semakin besar kemungkinan otak mengalami kebingungan persepsi dalam mengenali wajah sendiri dalam lingkungan virtual. Dalam kondisi tertentu, wajah orang asing dapat dipersepsikan sebagai wajah diri sendiri ketika berada dalam simulasi digital.

Menurut para ilmuwan, rasa memiliki terhadap tubuh bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dibentuk terus-menerus oleh otak melalui integrasi sinyal internal seperti detak jantung dan posisi tubuh, serta sinyal eksternal dari penglihatan dan sentuhan. Proses ini membentuk kesadaran dasar bahwa tubuh adalah milik diri sendiri.

Namun, paparan jangka panjang terhadap lingkungan visual di Instagram yang dipenuhi standar kecantikan seragam dan penggunaan filter dianggap dapat mengganggu proses tersebut. Kondisi ini membuat batas persepsi antara diri sendiri dan orang lain menjadi lebih kabur, terutama pada aspek wajah yang merupakan elemen kunci identitas manusia.

Dalam eksperimen yang melibatkan 95 partisipan dewasa muda dengan rata-rata usia 25,8 tahun, peneliti menggunakan teknologi realitas virtual (VR). Peserta diminta menyaksikan wajah orang asing di layar VR, sementara sentuhan fisik dilakukan secara bersamaan pada wajah asli dan virtual. Ilusi kepemilikan tubuh kemudian muncul ketika stimulus dilakukan secara sinkron.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan Instagram selama bertahun-tahun berkorelasi dengan meningkatnya sensasi “kepemilikan” terhadap wajah orang asing dalam simulasi VR. Rata-rata partisipan telah menggunakan Instagram selama 7,7 tahun dengan durasi penggunaan sekitar 62,8 menit per hari.

Menariknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan langsung antara penggunaan Instagram dengan tingkat ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh atau gangguan interosepsi. Artinya, dampak yang muncul bukan pada persepsi kepuasan tubuh, melainkan pada mekanisme lebih dasar dalam pembentukan identitas diri visual.

Para peneliti menekankan bahwa wajah memiliki peran sentral dalam identitas manusia karena menjadi elemen utama pengenalan diri di cermin maupun interaksi sosial. Oleh karena itu, gangguan pada “pengakuan wajah” di tingkat otak dianggap menyentuh aspek paling fundamental dari kesadaran diri manusia.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat cross-sectional sehingga hanya menunjukkan hubungan korelasional, bukan sebab-akibat langsung. Selain itu, para responden merupakan generasi yang tumbuh bersama media sosial, sehingga dampak jangka panjang pada generasi yang lebih muda masih perlu diteliti lebih lanjut.

Temuan ini membuka diskusi baru mengenai dampak teknologi digital terhadap cara kerja otak manusia dalam membangun identitas diri. Di tengah meningkatnya penggunaan media sosial berbasis visual, riset ini menyoroti pentingnya memahami konsekuensi psikologis dan neurologis jangka panjang dari budaya digital yang semakin dominan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online