Harga MacBook dan iPad Naik! Saham Apple Merosot, Rp4.482 T Menguap

Jumali
Jumali Jum'at, 26 Juni 2026 15:07 WIB
Harga MacBook dan iPad Naik! Saham Apple Merosot, Rp4.482 T Menguap

MacBook Pro M2 - Apple

Harianjogja.com, JOGJA— Keputusan Apple menaikkan harga sejumlah produk andalannya pada Kamis (25/6/2026) langsung memicu gejolak di pasar saham global. Saham perusahaan teknologi asal Cupertino itu anjlok lebih dari 5 persen dan sempat menyentuh penurunan 6,5 persen dalam sesi perdagangan, menghapus sekitar 275 miliar dollar AS atau setara Rp4.482 triliun dari kapitalisasi pasar hanya dalam satu hari. Koreksi tajam ini tercatat sebagai yang terdalam sejak April 2025.

Kenaikan harga diberlakukan untuk lini MacBook dan iPad di seluruh dunia. MacBook Neo sebagai model termurah naik dari 599 dollar AS menjadi 699 dollar AS. MacBook Air meningkat dari 1.099 dollar AS menjadi 1.299 dollar AS, sementara MacBook Pro 14 inci entry-level kini dipatok 1.999 dollar AS, naik 300 dollar AS dari sebelumnya. Di segmen tablet, iPad Air 11 inci naik dari 599 dollar AS menjadi 749 dollar AS, dan iPad Pro 11 inci dari 999 dollar AS menjadi 1.199 dollar AS. Sementara itu, iPhone, Apple Watch, dan AirPods belum mengalami perubahan harga.

Perusahaan menyebut kebijakan ini sebagai langkah yang “unavoidable” atau tidak terhindarkan. CEO Tim Cook menggambarkan lonjakan harga chip memori sebagai “banjir seratus tahun” atau hundred-year flood, yang disebutnya belum pernah terjadi sepanjang lebih dari 40 tahun kariernya di industri teknologi. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, ia mengatakan,

“Saya belum pernah melihat sesuatu seperti ini di bidang mana pun selama lebih dari 40 tahun," dikutip dari Forbes.

Pemicu utama kenaikan harga ini adalah lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Microsoft, Meta Platforms, dan Alphabet Inc kini memborong chip memori dalam jumlah besar untuk membangun pusat data AI. Kondisi ini membuat produsen seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mengalihkan produksi ke high-bandwidth memory (HBM), sehingga pasokan DRAM dan NAND flash untuk perangkat konsumen menipis dan harganya melonjak.

Harga chip memori dilaporkan naik hingga empat kali lipat sejak 2025, dengan kenaikan DRAM mencapai 40 persen hanya dalam satu kuartal terakhir. Apple menegaskan bahwa selama ini perusahaan berusaha menyerap kenaikan biaya agar tidak langsung dibebankan ke konsumen, namun tekanan pasar membuat kebijakan itu tidak lagi memungkinkan.

Dari sisi pasar, analis Wedbush Securities, Dan Ives, masih mempertahankan rekomendasi outperform dengan target harga 400 dollar AS per saham. Sementara itu, Gene Munster dari Deepwater Asset Management menilai aksi jual tersebut sebagai reaksi berlebihan karena ekosistem Apple dinilai masih kuat dengan 1,5 miliar pengguna aktif.

Meski demikian, kekhawatiran investor belum mereda. Penurunan pengiriman iPhone ke Tiongkok sebesar 19 persen pada Mei turut memperburuk sentimen pasar. Apple juga mengisyaratkan kemungkinan penyesuaian harga lanjutan, termasuk pada lini iPhone, jika tekanan biaya chip memori terus berlanjut. Kondisi ini tidak hanya menekan Apple, tetapi juga produsen lain seperti Nintendo, Sony, Microsoft, Lenovo, Dell, dan HP yang sama-sama menaikkan harga produk akibat kelangkaan komponen.

Krisis chip memori yang dipicu lonjakan permintaan AI kini menjadi tantangan global baru bagi industri teknologi, dengan dampak langsung yang mulai dirasakan konsumen di seluruh dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online