Indonesia Darurat Spam Telepon, Begini Cara Memblokirnya
Panggilan spam semakin marak di Indonesia. Simak cara memblokir nomor tidak dikenal di Android, iPhone, dan WhatsApp agar lebih aman dari penipuan.
Foto ilustrasi obat. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic resmi memperluas aktivitasnya ke sektor kesehatan dengan meluncurkan program riset penemuan obat internal. Langkah tersebut menandai babak baru bagi perusahaan pengembang model AI Claude yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam industri kecerdasan buatan generatif.
Melalui program tersebut, Anthropic tidak hanya berperan sebagai penyedia teknologi pendukung penelitian, tetapi juga mulai terlibat langsung dalam proses pengembangan kandidat obat. Keputusan ini menjadikan Anthropic sebagai salah satu perusahaan teknologi terbaru yang mencoba masuk ke industri farmasi yang selama ini didominasi perusahaan bioteknologi dan kesehatan.
Berbeda dengan banyak riset farmasi yang berfokus pada penyakit dengan pasar besar, Anthropic memilih mengarahkan programnya ke penyakit-penyakit yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian investasi industri. Kelompok penyakit tersebut sering disebut sebagai penyakit terabaikan atau neglected diseases karena memiliki potensi keuntungan komersial yang terbatas meskipun berdampak pada jutaan orang di berbagai negara.
Kepala Divisi Ilmu Hayati Anthropic, Eric Kauderer-Abrams, mengatakan perusahaan ingin memperoleh pengalaman langsung dalam proses penemuan obat sehingga dapat memahami kebutuhan industri kesehatan secara lebih mendalam.
Menurut dia, keterlibatan langsung dalam penelitian memungkinkan pengembang AI memperoleh umpan balik yang lebih akurat dibandingkan hanya berperan sebagai penyedia perangkat lunak.
“Kami percaya untuk membangun model dan alat yang tepat bagi industri ini, kami perlu menjalaninya bersama para pelaku di bidang tersebut,” ujarnya dalam acara yang digelar di San Francisco, sebagaimana dikutip CNBC.
Anthropic menilai kecerdasan buatan berpotensi mempercepat sejumlah tahapan penelitian obat. Teknologi AI dapat membantu peneliti menganalisis data biologis dalam jumlah besar, mengidentifikasi senyawa yang berpotensi menjadi obat, hingga memprediksi efektivitas kandidat terapi sebelum memasuki tahap pengujian lebih lanjut.
Meski demikian, perusahaan mengakui proses pengembangan obat tetap membutuhkan tahapan panjang. Kandidat obat yang ditemukan melalui bantuan AI tetap harus melalui serangkaian pengujian laboratorium, uji praklinis, hingga uji klinis yang memerlukan waktu bertahun-tahun serta biaya yang tidak sedikit.
Hingga saat ini Anthropic belum mengungkap strategi lanjutan apabila berhasil menemukan kandidat obat yang menjanjikan. Perusahaan juga belum menjelaskan apakah akan membangun fasilitas pengembangan farmasi sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi yang telah memiliki pengalaman dalam proses komersialisasi obat.
Seorang juru bicara Anthropic mengatakan perusahaan masih berada pada tahap awal pelaksanaan program tersebut. Namun, status Anthropic sebagai public benefit company memungkinkan perusahaan mempertimbangkan proyek berdasarkan manfaat sosial yang lebih luas, termasuk untuk penyakit yang selama ini kurang diminati pasar.
Langkah Anthropic mengikuti jejak sejumlah perusahaan teknologi besar yang sebelumnya telah masuk ke sektor kesehatan. Alphabet melalui berbagai unit bisnisnya, Apple dengan perangkat kesehatan digital, hingga Amazon melalui layanan kesehatan dan farmasi telah lebih dulu mengembangkan strategi di bidang tersebut.
Meski demikian, pendekatan Anthropic memiliki karakter berbeda karena menempatkan penyakit terabaikan sebagai fokus utama penelitian. Strategi tersebut dinilai dapat membuka peluang baru bagi pengembangan terapi untuk penyakit yang selama ini belum mendapatkan investasi memadai dari industri farmasi global.
Program ini juga menjadi bagian dari pengembangan produk Anthropic untuk sektor ilmu hayati. Perusahaan tengah membangun dan memasarkan berbagai perangkat AI yang ditujukan bagi perusahaan farmasi, laboratorium penelitian, dan organisasi kesehatan.
Apabila berhasil, pemanfaatan AI dalam penemuan obat berpotensi memangkas waktu penelitian yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri farmasi. Teknologi tersebut juga dapat membantu menekan biaya pengembangan sekaligus memperluas peluang ditemukannya terapi baru untuk penyakit yang belum memiliki pengobatan efektif.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian penting karena sejumlah penyakit tropis dan penyakit langka masih menghadapi keterbatasan pilihan terapi. Kehadiran teknologi AI dalam proses penelitian membuka harapan baru agar pengembangan obat dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau kebutuhan kesehatan yang selama ini kurang menjadi prioritas pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Panggilan spam semakin marak di Indonesia. Simak cara memblokir nomor tidak dikenal di Android, iPhone, dan WhatsApp agar lebih aman dari penipuan.
Pengenalan produk ini dikemas secara eksklusif melalui sesi Regional Press Gathering yang diselenggarakan pada Selasa, 30 Juni 2026 bertempat di Astra Motor Saf
Ronald Koeman resmi mundur sebagai pelatih Timnas Belanda usai De Oranje tersingkir di Piala Dunia 2026. Ia mengungkap alasan pribadi terkait kondisi kesehatan
Musim kemarau membuat ular lebih sering masuk permukiman di Sleman. Damkar mencatat 1.176 evakuasi hewan liar dan meminta warga meningkatkan kewaspadaan.
PSIM Jogja resmi mengakhiri kerja sama dengan bek tengah Andy Setyo setelah kontraknya berakhir pada penghujung musim.
petugas mengamankan dua tersangka dengan barang bukti ganja seberat 232 gram dan tembakau sintetis seberat 148 gram.