Tak Cuma Bikin AI, Anthropic Kini Bikin Obat Sendiri

Jumali
Jumali Rabu, 01 Juli 2026 17:07 WIB
Tak Cuma Bikin AI, Anthropic Kini Bikin Obat Sendiri

Foto ilustrasi obat. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic resmi memperluas aktivitasnya ke sektor kesehatan dengan meluncurkan program riset penemuan obat internal. Langkah tersebut menandai babak baru bagi perusahaan pengembang model AI Claude yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam industri kecerdasan buatan generatif.

Melalui program tersebut, Anthropic tidak hanya berperan sebagai penyedia teknologi pendukung penelitian, tetapi juga mulai terlibat langsung dalam proses pengembangan kandidat obat. Keputusan ini menjadikan Anthropic sebagai salah satu perusahaan teknologi terbaru yang mencoba masuk ke industri farmasi yang selama ini didominasi perusahaan bioteknologi dan kesehatan.

Berbeda dengan banyak riset farmasi yang berfokus pada penyakit dengan pasar besar, Anthropic memilih mengarahkan programnya ke penyakit-penyakit yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian investasi industri. Kelompok penyakit tersebut sering disebut sebagai penyakit terabaikan atau neglected diseases karena memiliki potensi keuntungan komersial yang terbatas meskipun berdampak pada jutaan orang di berbagai negara.

Kepala Divisi Ilmu Hayati Anthropic, Eric Kauderer-Abrams, mengatakan perusahaan ingin memperoleh pengalaman langsung dalam proses penemuan obat sehingga dapat memahami kebutuhan industri kesehatan secara lebih mendalam.

Menurut dia, keterlibatan langsung dalam penelitian memungkinkan pengembang AI memperoleh umpan balik yang lebih akurat dibandingkan hanya berperan sebagai penyedia perangkat lunak.

“Kami percaya untuk membangun model dan alat yang tepat bagi industri ini, kami perlu menjalaninya bersama para pelaku di bidang tersebut,” ujarnya dalam acara yang digelar di San Francisco, sebagaimana dikutip CNBC.

Anthropic menilai kecerdasan buatan berpotensi mempercepat sejumlah tahapan penelitian obat. Teknologi AI dapat membantu peneliti menganalisis data biologis dalam jumlah besar, mengidentifikasi senyawa yang berpotensi menjadi obat, hingga memprediksi efektivitas kandidat terapi sebelum memasuki tahap pengujian lebih lanjut.

Meski demikian, perusahaan mengakui proses pengembangan obat tetap membutuhkan tahapan panjang. Kandidat obat yang ditemukan melalui bantuan AI tetap harus melalui serangkaian pengujian laboratorium, uji praklinis, hingga uji klinis yang memerlukan waktu bertahun-tahun serta biaya yang tidak sedikit.

Hingga saat ini Anthropic belum mengungkap strategi lanjutan apabila berhasil menemukan kandidat obat yang menjanjikan. Perusahaan juga belum menjelaskan apakah akan membangun fasilitas pengembangan farmasi sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi yang telah memiliki pengalaman dalam proses komersialisasi obat.

Seorang juru bicara Anthropic mengatakan perusahaan masih berada pada tahap awal pelaksanaan program tersebut. Namun, status Anthropic sebagai public benefit company memungkinkan perusahaan mempertimbangkan proyek berdasarkan manfaat sosial yang lebih luas, termasuk untuk penyakit yang selama ini kurang diminati pasar.

Langkah Anthropic mengikuti jejak sejumlah perusahaan teknologi besar yang sebelumnya telah masuk ke sektor kesehatan. Alphabet melalui berbagai unit bisnisnya, Apple dengan perangkat kesehatan digital, hingga Amazon melalui layanan kesehatan dan farmasi telah lebih dulu mengembangkan strategi di bidang tersebut.

Meski demikian, pendekatan Anthropic memiliki karakter berbeda karena menempatkan penyakit terabaikan sebagai fokus utama penelitian. Strategi tersebut dinilai dapat membuka peluang baru bagi pengembangan terapi untuk penyakit yang selama ini belum mendapatkan investasi memadai dari industri farmasi global.

Program ini juga menjadi bagian dari pengembangan produk Anthropic untuk sektor ilmu hayati. Perusahaan tengah membangun dan memasarkan berbagai perangkat AI yang ditujukan bagi perusahaan farmasi, laboratorium penelitian, dan organisasi kesehatan.

Apabila berhasil, pemanfaatan AI dalam penemuan obat berpotensi memangkas waktu penelitian yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri farmasi. Teknologi tersebut juga dapat membantu menekan biaya pengembangan sekaligus memperluas peluang ditemukannya terapi baru untuk penyakit yang belum memiliki pengobatan efektif.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian penting karena sejumlah penyakit tropis dan penyakit langka masih menghadapi keterbatasan pilihan terapi. Kehadiran teknologi AI dalam proses penelitian membuka harapan baru agar pengembangan obat dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau kebutuhan kesehatan yang selama ini kurang menjadi prioritas pasar global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online