KTM Satu-satunya Tim Tanpa Juara Dunia di MotoGP 2027
Red Bull KTM jadi satu-satunya tim pabrikan tanpa juara dunia di MotoGP 2027. Alex Marquez dan Diggia diandalkan di era baru.
Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Peta persaingan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global mulai mengalami perubahan signifikan. Jika dalam beberapa tahun terakhir perusahaan berlomba menggunakan model AI paling canggih, kini fokus mereka bergeser ke efisiensi biaya.
Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mulai meninggalkan pendekatan yang mengutamakan model AI premium untuk semua kebutuhan. Sebaliknya, mereka memilih mengombinasikan berbagai model AI berdasarkan tingkat kesulitan pekerjaan dan biaya penggunaan.
Perubahan strategi tersebut dipandang sebagai salah satu pergeseran terbesar dalam industri AI sejak kemunculan teknologi generatif yang dipopulerkan OpenAI pada akhir 2022.
Salah satu perusahaan yang melihat perubahan itu secara langsung adalah Cursor, startup pengembang perangkat lunak berbasis AI untuk membantu pemrograman. Menurut Chief Field Technology Officer Cursor, Mike Saeks, banyak perusahaan kini menyadari bahwa model AI termahal tidak selalu menjadi pilihan paling rasional.
“Ibarat mengendarai Lamborghini hanya untuk pergi ke toko membeli susu, padahal mobil itu dirancang untuk balapan di lintasan,” ujar Saeks seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Saeks, beberapa bulan lalu banyak perusahaan justru bangga menunjukkan tingginya penggunaan token AI sebagai indikator produktivitas. Bahkan ada perusahaan yang membuat papan peringkat internal untuk karyawan dengan konsumsi token terbesar.
Kini situasinya berubah drastis. Fokus perusahaan beralih pada pengukuran return on investment (ROI) serta efisiensi penggunaan token yang menjadi satuan biaya utama dalam layanan AI modern.
Cursor menyebut pendekatan tersebut sebagai “tokenomics”, yakni strategi mengelola konsumsi token agar manfaat bisnis yang diperoleh lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan.
Perubahan pola pikir ini turut memengaruhi persaingan global antara pengembang AI asal Amerika Serikat dan China. Selama ini pasar didominasi model tertutup atau closed model seperti OpenAI dan Anthropic yang mengontrol penuh penggunaan teknologinya.
Di sisi lain, banyak perusahaan AI China mengembangkan model open-weight yang memungkinkan pengguna mengunduh, memodifikasi, dan menyesuaikan model sesuai kebutuhan internal perusahaan.
Pendekatan tersebut membuat model AI China semakin menarik bagi perusahaan yang ingin menekan biaya sekaligus memperoleh fleksibilitas lebih besar.
Beberapa startup China yang mulai banyak dibicarakan di industri antara lain DeepSeek, MiniMax, Moonshot AI, hingga Z.AI.
Meski demikian, penggunaan model AI China masih memunculkan perdebatan di Amerika Serikat. Sejumlah eksekutif OpenAI dan Anthropic telah memperingatkan potensi risiko keamanan dari penggunaan model tersebut.
Bahkan sebagian pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengusulkan pembatasan terhadap model AI asal China. Namun usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah perusahaan teknologi besar.
Pada Jumat lalu, Nvidia, Microsoft, dan Palantir menandatangani surat bersama yang mendukung pengembangan model AI terbuka serta meminta regulator berhati-hati sebelum menerapkan pembatasan.
Terlepas dari perdebatan tersebut, tren penggunaan AI berbiaya rendah diperkirakan akan terus berkembang. Banyak perusahaan mulai menerapkan strategi baru dengan memanfaatkan beberapa model AI sekaligus untuk tugas yang berbeda.
Cursor memberikan contoh bagaimana pendekatan tersebut mampu memangkas biaya secara signifikan. Dalam sebuah pengujian pembuatan peramban web dari nol, penggunaan GPT-5.5 milik OpenAI secara penuh membutuhkan biaya sedikit di atas US$10.000.
Namun ketika proses tersebut menggunakan kombinasi Composer milik Cursor dan Opus 4.8 dari Anthropic, total biaya turun menjadi hanya sekitar US$1.339.
“Dulu model terbaik untuk suatu pekerjaan berubah setiap beberapa bulan. Sekarang rasanya perubahan itu terjadi beberapa kali dalam seminggu,” kata Saeks.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai sektor industri.
CEO Pylon, Marty Kausas, mengatakan pelanggan saat ini tidak lagi menunjukkan loyalitas terhadap satu penyedia AI tertentu. Mereka memilih layanan berdasarkan kombinasi performa dan biaya yang paling menguntungkan.
“Saya tidak melihat ada loyalitas sama sekali. Rasanya seperti perang habis-habisan saat ini,” ujarnya.
Persaingan yang semakin ketat memaksa perusahaan AI menawarkan berbagai insentif besar. Menurut Kausas, Pylon menerima token gratis senilai sekitar US$1,6 juta dari satu penyedia AI sepanjang tahun ini, ditambah puluhan ribu dolar dari penyedia lainnya.
Microsoft juga disebut tengah mempertimbangkan integrasi model AI China, termasuk DeepSeek, ke dalam platformnya. Sementara berbagai startup AI mengaku semakin sering berdiskusi dengan perusahaan sektor keuangan, kesehatan, dan asuransi mengenai penggunaan model AI terbuka.
Perubahan strategi ini turut mendorong perusahaan besar mengembangkan sistem AI yang lebih fleksibel atau model agnostic. Dengan pendekatan tersebut, pengguna dapat berpindah dengan mudah antara OpenAI, Anthropic, Google, SpaceX, maupun pengembang AI China sesuai kebutuhan.
OpenAI dan Anthropic sendiri mulai merespons perubahan pasar tersebut. OpenAI menyatakan GPT-5.6 Sol dirancang agar lebih efisien dalam penggunaan token sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan kompleks dengan biaya lebih rendah.
Anthropic juga meluncurkan model baru yang lebih murah dan memberikan opsi bagi pengguna untuk memilih tingkat kecerdasan maupun biaya yang diinginkan.
Meski begitu, perubahan arah pasar ini menjadi tantangan tersendiri bagi kedua perusahaan yang selama bertahun-tahun membangun bisnis dengan menawarkan model AI premium berkemampuan tinggi.
Popularitas AI murah diperkirakan akan memengaruhi persaingan industri, strategi investasi, hingga valuasi perusahaan-perusahaan AI besar menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO).
Namun bagi sebagian pelanggan, kualitas tetap menjadi prioritas utama. Sejumlah perusahaan masih memilih OpenAI dan Anthropic untuk tugas-tugas yang membutuhkan tingkat kecerdasan dan akurasi tertinggi.
Meski demikian, tren terbaru menunjukkan bahwa masa depan AI kemungkinan tidak lagi ditentukan oleh satu model terbaik, melainkan kombinasi berbagai model yang mampu memberikan hasil optimal dengan biaya paling efisien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Red Bull KTM jadi satu-satunya tim pabrikan tanpa juara dunia di MotoGP 2027. Alex Marquez dan Diggia diandalkan di era baru.
Regulator China denda Trip.com Rp 13,7 triliun atas praktik monopoli. Perusahaan memaksa hotel eksklusif dan atur harga. Simak kasus lengkapnya.
Lonjakan bot jahat di Asia Pasifik mencapai 63% pada 2025. Pengguna e-commerce dan layanan AI menghadapi ancaman siber yang semakin besar.
Rekomendasi 6 speaker Bluetooth terbaik 2026 dari JBL, Sony, Bose, Marshall, Anker, hingga Tribit. Temukan speaker yang sesuai kebutuhan Anda!
Myanmar vs Malaysia di Piala AFF 2026 berakhir 2-1. Brace Paulo Josue bawa Harimau Malaya comeback setelah tertinggal lebih dulu
Justin Hubner dipastikan absen membela Timnas Indonesia di Kejuaraan ASEAN 2026 setelah Fortuna Sittard menolak melepas sang bek karena turnamen tidak masuk kal