Anthropic Vs OpenAI, Perang Chip AI Kian Panas di 2026

Jumali
Jumali Selasa, 11 Agustus 2026 09:57 WIB
Anthropic Vs OpenAI, Perang Chip AI Kian Panas di 2026

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA— Persaingan di industri kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi hanya tentang siapa yang memiliki model bahasa paling canggih. Setelah OpenAI mengumumkan chip kustomnya bernama Jalapeno, giliran Anthropic, perusahaan di balik chatbot AI Claude, yang resmi mengonfirmasi langkah serupa. Untuk pertama kalinya, mereka secara terbuka mengakui tengah membangun tim khusus yang akan merancang chip semikonduktor milik sendiri, sebuah langkah strategis yang menandai babak baru dalam persaingan teknologi AI global.

Konfirmasi ini disampaikan Anthropic bersamaan dengan unggahan lowongan kerja untuk posisi Silicon Engineer di portal karier resmi perusahaan. "Kami bekerja mulai dari level chip bersama mitra silikon kami, dan kini kami menambah investasi tersebut dengan membangun tim silikon kustom," demikian bunyi pengumuman resmi yang dipublikasikan di situs mereka. Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa Anthropic serius menekuni pengembangan perangkat keras untuk menunjang performa Claude di masa depan.

Tim Insinyur Elit dengan Gaji Fantastis


Lowongan yang dibuka Anthropic bukan untuk sembarang insinyur. Mereka mencari profesional berpengalaman di delapan bidang desain chip sekaligus, mulai dari front-end design, verifikasi pre-silicon, physical design, design-for-test, analog dan mixed-signal, teknologi dan foundry, infrastruktur desain, hingga packaging dengan integritas sinyal dan daya. Kandidat yang diharapkan punya pengalaman langsung merancang dan membuat desain semikonduktor hingga tahap rilis (shipping silicon).

Untuk menarik talenta terbaik, Anthropic menawarkan kisaran gaji yang fantastis: 320.000 hingga 485.000 dolar AS per tahun, atau setara dengan Rp5,76 miliar hingga Rp8,73 miliar. Ini menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam membangun tim chip kustom yang mumpuni.

Bukan untuk Lepas dari Nvidia, tapi Efisiensi Skala Besar

Anthropic menegaskan langkah ini bukanlah upaya untuk melepas ketergantungan pada Nvidia, yang GPU-nya masih mendominasi pasar akselerator AI. Sebaliknya, chip kustom mereka akan menjadi bagian dari ekosistem multi-vendor, bukan pengganti seluruh mitra chip yang sudah ada. Juru bicara perusahaan menyebutkan tujuan utamanya adalah merancang perangkat keras dan model AI secara bersamaan (co-design), sehingga Claude bisa berjalan lebih cepat dan efisien pada skala yang dibutuhkan pelanggan.

Dorongan ini sangat masuk akal mengingat skala bisnis Anthropic yang terus melesat. Perusahaan dilaporkan telah mencapai pendapatan tahunan (run-rate) sebesar 30 miliar dolar AS (sekitar Rp540 triliun) dan melayani miliaran permintaan token setiap harinya. Dengan volume sebesar itu, penghematan biaya dari chip yang dioptimalkan untuk beban kerja Claude akan sangat signifikan.

Strategi Tiga Platform dan Mitra Manufaktur

Anthropic saat ini menjalankan strategi tiga platform yang memakai Google TPU, Amazon Trainium, dan GPU Nvidia secara bersamaan, dengan AWS berperan sebagai mitra cloud utama untuk pelatihan model. Pada April 2026, perusahaan mengumumkan kesepakatan tambahan kapasitas hingga 5 gigawatt dengan AWS dan komitmen investasi lebih dari 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.800 triliun) ke teknologi AWS selama 10 tahun ke depan. Mereka bahkan berencana memakai sekitar 1 gigawatt kapasitas gabungan dari chip Trainium2 dan Trainium3 milik AWS hingga akhir 2026.

Untuk manufaktur chip kustom mereka, Samsung dilaporkan sempat dijajaki sebagai calon mitra potensial. Sejumlah laporan bahkan menyebut kemungkinan kesepakatan dengan Samsung ini bisa dirampungkan menjelang akhir 2026, mencakup proses 2nm dan kemasan canggih. Namun, Anthropic sendiri belum mengonfirmasi kabar tersebut secara resmi.

Persaingan dengan OpenAI dan Masa Depan Chip AI

Langkah Anthropic ini tidak terlepas dari persaingan dengan OpenAI yang telah lebih dulu merampungkan chip Jalapeno-nya. OpenAI disebut menyelesaikan chip tersebut dalam waktu sekitar sembilan bulan sejak tahap desain hingga siap produksi, dengan rencana penerapan awal mulai akhir 2026. Sebagai perbandingan, biaya pengembangan satu desain chip AI tingkat lanjut bisa mencapai sekitar 500 juta dolar AS (sekitar Rp9 triliun), termasuk kebutuhan rekayasa khusus dan proses produksinya.

Anthropic sendiri belum mengungkap kapan chip kustom pertamanya akan rampung, maupun apakah perusahaan akan menangani sendiri proses manufakturnya atau tetap bergantung pada mitra pabrikasi eksternal. Yang jelas, persaingan di industri chip AI semakin memanas, dan konsumenlah yang pada akhirnya akan menikmati model AI yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih murah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online