Timnas Indonesia Diperkuat Pemain Eropa, Media Vietnam Waspada
Media Vietnam menyoroti kekuatan Timnas Indonesia jelang FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Garuda berpeluang diperkuat pemain diaspora dari Eropa.
Ilustrasi mobil listrik
Harianjogja.com, JOGJA—Baterai lithium iron phosphate (LFP) yang selama ini dikenal unggul dari sisi biaya dan keamanan mulai menembus batas baru dalam kepadatan energi. Teknologi LFP generasi keempat di Tiongkok dikabarkan mampu melewati 200 Wh/kg, capaian yang dapat membuka ruang baru bagi pengembangan kendaraan listrik.
Terobosan tersebut disampaikan akademisi Chinese Academy of Sciences sekaligus profesor Tsinghua University, Ouyang Minggao, dalam World Power Battery Conference (WPBC) 2026 di Yibin, Sichuan.
Teknologi yang dikembangkan menggunakan pendekatan high-compaction LFP. Metode tersebut ditujukan untuk meningkatkan jumlah material aktif katoda yang dapat ditempatkan dalam volume tertentu.
Perkembangan ini menjadi penting karena LFP sudah menjadi teknologi baterai yang sangat dominan di pasar kendaraan listrik Tiongkok. Pada semester pertama 2026, pemasangan baterai kendaraan listrik di negara tersebut mencapai 335,6 GWh, dengan LFP menyumbang 272 GWh atau sekitar 81 persen dari total pemasangan.
Kepadatan Energi LFP Terus Didorong
Kunci pengembangan LFP generasi keempat berada pada tingkat pemadatan material. Kepadatan material LFP yang dipadatkan disebut berada pada kisaran 2,65 hingga 2,80 gram per sentimeter kubik. Pada saat yang sama, kepadatan energi volumetriknya dapat melampaui 430 Wh/liter.
Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan parameter pada tingkat material dan sel baterai. Nilainya tidak sama dengan kepadatan energi pada satu paket baterai kendaraan yang sudah lengkap.
Paket baterai masih membutuhkan berbagai komponen lain, seperti sistem pendingin, struktur penyangga, sambungan listrik, serta komponen pendukung lainnya. Seluruh bagian tersebut menambah bobot sekaligus menggunakan ruang di dalam paket.
Meski demikian, peningkatan pada tingkat sel tetap penting karena menjadi salah satu fondasi untuk menghasilkan paket baterai yang lebih ringan dan efisien.
LFP Sudah Menguasai Pasar Tiongkok
Pengembangan tersebut berlangsung ketika LFP telah menjadi salah satu teknologi utama dalam industri kendaraan listrik Tiongkok.
Carnews China mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, total pemasangan baterai kendaraan listrik di Tiongkok tercatat 335,6 GWh. Dari angka tersebut, 272 GWh merupakan baterai LFP atau sekitar 81 persen dari keseluruhan pemasangan.
Dominasi tersebut membuat peningkatan performa LFP memiliki arti penting bagi industri kendaraan listrik. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada material sel, tetapi juga pada cara sel tersebut disusun menjadi satu paket baterai.
Salah satu pendekatan yang telah digunakan adalah cell-to-pack atau CTP. Teknologi ini mengurangi sejumlah komponen tidak aktif di antara sel sehingga ruang dalam paket dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
CATL telah mengembangkan pendekatan CTP, sedangkan BYD memiliki konsep serupa melalui Blade Battery. CATL sendiri menjelaskan bahwa teknologi CTP meningkatkan efisiensi pemanfaatan volume paket baterai. Pada Qilin generasi ketiga, CATL mencatat efisiensi pemanfaatan volume mencapai 72 persen.
Karena optimalisasi struktur paket semakin mendekati batas tertentu, perhatian kemudian kembali diarahkan pada peningkatan kepadatan energi di tingkat sel.
Bagaimana Posisi LFP Dibandingkan Baterai Lain?
LFP masih menghadapi perbedaan kepadatan energi jika dibandingkan dengan baterai ternary berbasis nikel tinggi.
Dalam naskah sumber, BYD Blade Battery generasi kedua disebut memiliki beberapa format sel. Short Blade mempunyai kepadatan energi sekitar 160 Wh/kg, sedangkan Long Blade dapat mencapai sekitar 210 Wh/kg.
Angka sekitar 200 Wh/kg masih relatif jarang ditemukan secara luas pada baterai LFP. Karena itu, capaian LFP generasi keempat di atas angka tersebut menunjukkan adanya ruang pengembangan lebih jauh untuk teknologi berbasis besi-fosfat.
Di sisi lain, baterai berbasis nikel tinggi masih mempunyai kepadatan energi lebih tinggi. Naskah sumber menyebut sel berbasis nikel tinggi pada CATL Qilin dapat mencapai sekitar 285 Wh/kg.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa LFP belum sepenuhnya menyamai baterai nikel tinggi dari sisi kepadatan energi. Namun, LFP mempunyai keunggulan dari sisi rantai pasok yang telah matang serta penggunaan yang sangat luas di Tiongkok.
Faktor tersebut menjadikan LFP tetap menarik bagi produsen kendaraan listrik yang membutuhkan teknologi baterai dengan biaya lebih stabil dan penggunaan yang telah berkembang luas.
Dampaknya bagi Jarak Tempuh Mobil Listrik
Kepadatan energi berhubungan langsung dengan jumlah energi yang dapat disimpan dalam baterai berdasarkan bobot tertentu.
Ketika kepadatan energi meningkat, produsen dapat memasukkan lebih banyak energi ke dalam baterai dengan bobot yang sama. Bagi kendaraan listrik, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menambah jarak tempuh tanpa harus memperbesar dan memperberat paket baterai.
Pilihan lainnya adalah mempertahankan jarak tempuh kendaraan tetapi menggunakan baterai dengan ukuran atau bobot lebih kecil. Paket yang lebih ringan dapat berkontribusi terhadap efisiensi kendaraan secara keseluruhan.
Namun, manfaat tersebut baru akan semakin nyata jika LFP dengan kepadatan di atas 200 Wh/kg dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang tetap kompetitif.
Jika kondisi itu tercapai, produsen kendaraan listrik mempunyai pilihan untuk menawarkan jarak tempuh lebih jauh tanpa harus sepenuhnya mengandalkan baterai berbasis nikel tinggi yang memiliki biaya lebih mahal.
Perkembangan tersebut juga berlangsung ketika porsi biaya baterai terhadap keseluruhan biaya produksi kendaraan listrik dilaporkan berada pada kisaran 40–50 persen.
Pemadatan Elektroda Punya Tantangan
Meningkatkan kepadatan material LFP bukan hanya persoalan memasukkan lebih banyak material ke dalam ruang yang sama.
Struktur elektroda yang semakin padat dapat mengurangi ruang pori. Kondisi tersebut berpotensi membuat pergerakan elektrolit dan ion di dalam elektroda menjadi lebih sulit.
Karena itu, produsen perlu mengoptimalkan sejumlah bagian secara bersamaan. Formulasi elektroda, ukuran partikel, jalur konduktif, dan proses manufaktur menjadi bagian yang harus diperhatikan agar performa baterai tetap optimal dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, peningkatan kepadatan energi tidak cukup hanya mengejar angka Wh/kg. Kemampuan baterai mempertahankan performa dan keandalan juga menjadi bagian dari tantangan pengembangan.
Produksi Sel Juga Makin Cepat
Perkembangan industri baterai Tiongkok tidak hanya terjadi pada material dan sel. Proses produksinya juga terus dikejar agar semakin cepat.
Dalam WPBC 2026 dipaparkan teknologi mesin otomatis yang mampu melakukan proses winding hingga 7,5 sel prismatik per menit. Angka tersebut dibandingkan dengan acuan sebelumnya sekitar 4,4 sel per menit.
Jika dibandingkan dengan angka tersebut, kecepatan proses winding meningkat sekitar 70,5 persen.
Namun, angka 7,5 sel per menit tidak dapat diartikan sebagai kapasitas produksi keseluruhan sebuah pabrik. Winding hanya merupakan salah satu tahap dalam proses pembuatan baterai.
Masih terdapat tahapan lain seperti formation, ageing, inspeksi, hingga perakitan. Karena itu, peningkatan kecepatan pada satu proses tetap harus berjalan bersama pengendalian kualitas dan tingkat keberhasilan produksi.
Kecepatan produksi yang tinggi tidak akan memberikan keuntungan maksimal apabila konsistensi kualitas dan reliabilitas produk akhir tidak dapat dipertahankan.
LFP Belum Ditinggalkan di Tengah Tren Solid-State
Munculnya LFP generasi keempat juga menunjukkan bahwa industri baterai Tiongkok masih memberikan perhatian besar terhadap teknologi lithium-ion konvensional.
Hal tersebut terjadi ketika pengembangan solid-state battery juga terus berlangsung. Alih-alih hanya mengandalkan teknologi baterai generasi baru, industri masih mencari cara untuk meningkatkan kemampuan teknologi LFP yang telah matang.
Pengembangan tersebut mencakup kepadatan energi, proses manufaktur, biaya, dan keselamatan. Dengan basis industri serta rantai pasok yang sudah berkembang, peningkatan bertahap pada LFP masih mempunyai ruang untuk memberikan perubahan terhadap kendaraan listrik.
Pada akhirnya, pencapaian lebih dari 200 Wh/kg bukan berarti LFP langsung menggantikan semua teknologi baterai dengan kepadatan energi lebih tinggi. Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi berbasis besi-fosfat masih terus dikembangkan, bahkan ketika industri baterai mulai bergerak menuju teknologi generasi berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Media Vietnam menyoroti kekuatan Timnas Indonesia jelang FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Garuda berpeluang diperkuat pemain diaspora dari Eropa.
Hujan tipis mulai turun di Bantul setelah kemarau panjang. Pajangan belum hujan sejak Juni dan warga masih menghadapi persoalan air bersih.
Hearts2Hearts batal tampil di ITA 2026 dan fansign Jakarta ditunda akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengganggu penerbangan.
Anak Krakatau erupsi 25 jam. Indonesia memiliki 101 gunung api Holosen dan 71 aktif sejak 1800, terbanyak di dunia untuk kategori tersebut.
Abu vulkanik dapat mencemari makanan dan air serta berdampak pada kesehatan. Kenali risiko dan cara mengurangi paparannya.
Banhubda Kepri memperkuat literasi wawasan kebangsaan dan kecakapan digital masyarakat Kepri di Jogja.