Anak Krakatau Erupsi 25 Jam, Seberapa Besar Ancaman Gunung Api RI?

Jumali
Jumali Senin, 07 September 2026 19:47 WIB
Anak Krakatau Erupsi 25 Jam, Seberapa Besar Ancaman Gunung Api RI?

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi\r\n

Harianjogja.com, JOGJA— Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026 kembali mengingatkan besarnya risiko vulkanik yang dihadapi Indonesia. Negara kepulauan ini memang bukan pemilik gunung api Holosen terbanyak di dunia, tetapi memiliki jumlah gunung api yang tercatat aktif sejak 1800 paling tinggi.

Data Global Volcanism Program (GVP) per 31 Maret 2026 mencatat Indonesia memiliki 101 gunung api Holosen. Dari jumlah tersebut, 71 tercatat aktif sejak 1800 dan 55 aktif sejak 1960.

Angka 71 tersebut merupakan yang tertinggi di dunia untuk kategori gunung api yang aktif sejak 1800. Amerika Serikat berada di bawah Indonesia dengan 63 gunung api, disusul Jepang 61 dan Rusia 46.

Sementara berdasarkan jumlah seluruh gunung api Holosen, Indonesia berada di posisi keempat setelah Amerika Serikat dengan 165 gunung api, Jepang 116, dan Rusia 106.

Anak Krakatau Erupsi Menerus Selama 25 Jam

Perhatian terhadap aktivitas vulkanik Indonesia kembali mengarah ke Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus gunung api tersebut dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut kemudian berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Dengan demikian, episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakter erupsi Strombolian.

Berakhirnya episode erupsi menerus tersebut tidak berarti aktivitas Anak Krakatau langsung berhenti. Pemantauan tetap dilakukan karena dinamika gunung api dapat berubah berdasarkan perkembangan parameter kegunungapian.

Anak Krakatau juga masih tercatat berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan pembaruan pemantauan hingga 7 September 2026, gunung ini menjadi salah satu dari lima gunung api di Indonesia yang berada pada status tersebut.

Indonesia Berada di Kawasan Vulkanik Aktif

Banyaknya gunung api di Indonesia tidak terlepas dari kondisi geologis wilayah Nusantara yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik dan jalur Cincin Api Pasifik.

Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki konsentrasi gunung api yang tinggi sekaligus aktivitas kegempaan dan vulkanik yang intens.

GVP mencatat 101 gunung api Holosen di Indonesia. Istilah Holosen digunakan untuk gunung api yang memiliki riwayat aktivitas dalam periode Holosen, yakni sekitar 11.700 tahun terakhir hingga sekarang.

Namun, angka 101 tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah gunung yang sedang aktif atau sedang erupsi. Klasifikasi “aktif sejak 1800” dan “aktif sejak 1960” merupakan kategori berdasarkan catatan erupsi dalam periode tertentu.

Karena itu, angka 71 gunung api aktif sejak 1800 menunjukkan panjangnya sejarah aktivitas vulkanik Indonesia, bukan berarti 71 gunung tersebut sedang meletus pada waktu yang sama.

Lima Gunung Api Berstatus Siaga

Selain Anak Krakatau, masih ada empat gunung api lain yang berada pada Level III atau Siaga berdasarkan pembaruan data hingga 7 September 2026.

Kelima gunung tersebut adalah Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Merapi, Semeru, dan Sinabung.

Gunung Merapi berada di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung ini menjadi salah satu gunung api yang aktivitasnya terus dipantau karena memiliki sejarah erupsi dan berada dekat dengan kawasan permukiman.

Di Sumatera Utara, Gunung Sinabung juga berstatus Level III. Status tersebut diberlakukan setelah peningkatan aktivitas gunung api tersebut pada akhir Agustus 2026. Berdasarkan pemantauan hingga 6 September, status Sinabung masih berada pada Level III.

Gunung Semeru di Jawa Timur juga masih berada pada Level III. Pada Minggu, 6 September 2026, Semeru kembali mengalami erupsi dengan kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru.

Sementara itu, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur juga masih berstatus Level III atau Siaga.

Status Siaga tidak berarti seluruh gunung tersebut sedang mengalami erupsi besar. Level III menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang semakin nyata atau kondisi gunung api yang sedang mengalami erupsi berdasarkan pengamatan visual dan instrumental.

Krakatau 1883 Jadi Salah Satu Erupsi Paling Mematikan

Riwayat Krakatau menjadi bagian penting dalam memahami risiko vulkanik di kawasan Selat Sunda.

Pada 1883, letusan Krakatau menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan dalam sejarah. USGS mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal akibat bencana tersebut, dengan tsunami menjadi penyebab utama korban.

Letusan tersebut juga menghasilkan dampak yang dirasakan jauh dari pusat erupsi. Peristiwa Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu erupsi paling terkenal dalam sejarah vulkanologi modern.

Anak Krakatau kemudian tumbuh dari kawasan kaldera Krakatau dan kembali menjadi sumber aktivitas vulkanik di Selat Sunda.

Pada 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan memicu tsunami yang menerjang pesisir di sekitar Selat Sunda. Peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa bahaya gunung api di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari material erupsi secara langsung, tetapi juga dapat berkaitan dengan perubahan pada tubuh gunung dan lingkungan laut di sekitarnya.

Ancaman Vulkanik Harus Diikuti Kesiapsiagaan

Tingginya jumlah gunung api yang memiliki riwayat aktivitas membuat mitigasi menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia.

Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api perlu memahami status aktivitas, kawasan rawan bencana, jalur evakuasi, serta rekomendasi yang dikeluarkan otoritas terkait.

Perubahan status gunung api dapat terjadi berdasarkan hasil pemantauan terbaru. Karena itu, informasi mengenai aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh dari sumber resmi seperti PVMBG, MAGMA Indonesia, Badan Geologi, dan pemerintah daerah.

Erupsi Anak Krakatau selama sekitar 25 jam pada awal September 2026 menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik dapat kembali meningkat meski masyarakat telah lama hidup berdampingan dengan gunung api.

Data GVP menunjukkan Indonesia memiliki 71 gunung api yang tercatat aktif sejak 1800. Angka tersebut bukan berarti puluhan gunung sedang erupsi bersamaan, tetapi menunjukkan besarnya rekam aktivitas vulkanik yang harus diperhitungkan dalam pengelolaan risiko bencana di Indonesia.

Karena itu, kewaspadaan tidak cukup dilakukan ketika erupsi sudah terjadi. Pemantauan, sistem peringatan dini, pemahaman masyarakat terhadap zona bahaya, serta kesiapan evakuasi menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak ketika aktivitas gunung api kembali meningkat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online