Jangan Asal Beli Tiket Konser Online, Kenali Modus Penipuannya
Waspadai penipuan tiket konser online. Kenali modus tiket palsu, situs tiruan, pembayaran langsung, hingga cara melaporkan jika sudah tertipu.
Ilustrasi Harvest Moon/Reuters
Harianjogja.com, JOGJA— Fenomena Harvest Moon menghiasi langit Indonesia pada Sabtu (26/9/2026) malam. Purnama yang dikenal sebagai Bulan Panen tersebut dapat diamati dengan aman tanpa alat pelindung mata khusus.
Di tengah kemunculan fenomena astronomi itu, beredar pula kekhawatiran yang mengaitkan Harvest Moon dengan potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung api.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, meminta masyarakat tidak menghubungkan kemunculan Harvest Moon dengan ancaman bencana tanpa dasar ilmiah.
Menurut Daryono, Harvest Moon pada dasarnya merupakan istilah tradisional untuk purnama yang waktunya berdekatan dengan ekuinoks September. Secara fisika, fenomena tersebut tidak memiliki mekanisme khusus yang dapat memicu bencana.
“Harvest Moon tidak memicu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem,” kata Daryono.
BMKG juga menjelaskan bahwa Harvest Moon merupakan sebutan tradisional untuk fase Bulan purnama yang terbit paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara. Piringan Bulan yang tampak bulat penuh dapat diamati dengan mata telanjang.
Salah satu anggapan yang kerap muncul adalah gravitasi Bulan ketika purnama dapat menggerakkan lempeng tektonik hingga memicu gempa.
Daryono menjelaskan bahwa gaya gravitasi Bulan dan Matahari memang menghasilkan fenomena earth tides atau pasang bumi. Kondisi tersebut menyebabkan deformasi yang sangat kecil pada kerak Bumi.
Namun, efek tersebut tidak dapat dijadikan parameter untuk memprediksi terjadinya gempa.
“Tidak ada mekanisme fisika yang membuat nama Harvest Moon mempunyai kemampuan khusus menghasilkan bencana,” ujarnya.
Dengan demikian, kemunculan Harvest Moon tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa bumi atau tsunami akan segera terjadi.
Penjelasan serupa berlaku untuk aktivitas gunung api. Dinamika erupsi berkaitan dengan kondisi internal sistem vulkanik, termasuk pergerakan magma, tekanan fluida, dan gas di dalam gunung.
Karena itu, cahaya Bulan ataupun posisi purnama tidak dapat dianggap sebagai penyebab langsung gunung api mengalami letusan.
Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dari lembaga berwenang, bukan mengaitkannya dengan kemunculan fenomena astronomi.
Meski tidak berkaitan dengan pemicu gempa maupun erupsi, konfigurasi Matahari, Bumi, dan Bulan ketika purnama memang memiliki dampak fisik yang nyata terhadap pasang surut laut.
Fenomena tersebut dikenal sebagai spring tide atau pasang purnama. Pada kondisi ini, gaya pembangkit pasut dari Matahari dan Bulan dapat menghasilkan rentang pasang-surut yang lebih tinggi.
Fenomena pasang purnama sendiri merupakan siklus normal yang terjadi dua kali dalam satu bulan lunar. Jadi, peningkatan pasang bukan merupakan efek khusus dari nama Harvest Moon.
Yang perlu diperhatikan masyarakat pesisir adalah ketika pasang tinggi bertepatan dengan kondisi laut dan cuaca yang kurang bersahabat.
Purnama tidak otomatis menyebabkan banjir rob di seluruh wilayah pesisir. Risiko genangan juga dipengaruhi faktor lain, seperti angin, tinggi gelombang, kondisi garis pantai, tekanan udara, serta kondisi cuaca dan laut setempat.
Untuk periode 26-30 September 2026, BMKG memang mengeluarkan peringatan potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir. Di Nusa Tenggara Barat, misalnya, masyarakat pesisir diminta mewaspadai potensi rob pada periode tersebut.
Karena itu, kewaspadaan terhadap rob tetap diperlukan, tetapi penyebabnya harus ditempatkan secara tepat. Risiko tersebut berkaitan dengan kondisi pasang laut dan faktor oseanografi serta meteorologi, bukan karena Harvest Moon membawa bencana.
Daryono mengingatkan masyarakat untuk membedakan fenomena astronomi dengan risiko kebencanaan. Harvest Moon merupakan fenomena alam yang dapat dinikmati dan tidak perlu ditakuti.
Namun, warga yang tinggal di kawasan pesisir rendah tetap disarankan memantau peringatan dini dari BMKG dan informasi resmi pemerintah daerah, terutama ketika terjadi pasang tinggi.
Masyarakat juga dapat mengantisipasi potensi rob dengan mengamankan kendaraan dan barang dari lokasi yang biasa tergenang serta menghindari aktivitas di bibir pantai apabila pasang tinggi disertai cuaca laut buruk.
Dengan demikian, Harvest Moon dapat dinikmati sebagai fenomena astronomi, sementara potensi risiko di wilayah pesisir tetap diantisipasi berdasarkan informasi kebencanaan yang terukur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Waspadai penipuan tiket konser online. Kenali modus tiket palsu, situs tiruan, pembayaran langsung, hingga cara melaporkan jika sudah tertipu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.
HP mulai bermasalah? Kenali tanda pada layar, baterai, dan suhu sebelum memutuskan mengganti perangkat.
Bangun siang bisa memengaruhi ritme sirkadian, jadwal tidur, konsentrasi, suasana hati, hingga rutinitas harian. Ini 13 dampaknya.
iPhone 18 Pro 1TB dan 2TB dilaporkan memakai QLC, sedangkan 256GB dan 512GB menggunakan TLC. Simak hasil uji performanya.