Irlandia vs Austria: Duel Pemuncak Grup B3 di Aviva Stadium
Irlandia vs Austria di Nations League 2 Oktober 2026. Simak jadwal, klasemen Grup B3, kondisi skuad, dan prediksi pertandingannya.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Kemunculan kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT mulai ikut memengaruhi cara anak muda memilih pekerjaan. Bukan hanya mempertimbangkan gaji dan peluang karier, sebagian lulusan baru di Amerika Serikat kini juga memikirkan seberapa besar pekerjaan mereka dapat terdampak otomatisasi.
Perubahan itu terlihat dari sejumlah pekerja muda yang meninggalkan pekerjaan kerah putih seperti pemasaran dan pengembangan perangkat lunak untuk masuk ke pendidikan, kesehatan, serta pekerjaan teknis. Namun, perubahan tersebut tidak berarti profesi-profesi itu sepenuhnya aman dari AI. Data yang ada lebih menunjukkan bahwa paparan terhadap AI berbeda-beda antarpekerjaan dan kelompok pekerja.
Salah satu gambaran datang dari Keon Davis, lulusan University of Wisconsin-Madison. Ia semula menekuni pemasaran, tetapi pengalaman magang membuatnya melihat langsung bagaimana AI dapat membantu mengotomatisasi pekerjaan seperti riset konsumen dan pembuatan email pemasaran.
Davis kemudian beralih ke dunia pendidikan dan menjadi guru kelas tiga di New York City melalui Teach For America. Ia menilai interaksi langsung dengan siswa menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
“Membangun kepercayaan dengan siswa dan memahami kebutuhan individu mereka adalah hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi,” ujar Davis, dikutip dari Washington Post.
Perubahan pilihan karier tersebut berlangsung ketika kekhawatiran anak muda terhadap dampak AI di pasar kerja ikut meningkat. Survei Pew Research Center pada Juni 2026 menunjukkan 73% warga Amerika Serikat berusia 18-29 tahun memperkirakan AI akan menyebabkan jumlah pekerjaan di AS berkurang dalam 20 tahun mendatang.
Angka tersebut naik dari 61% pada 2024. Pew juga mencatat 55% kelompok usia di bawah 30 tahun merasa lebih khawatir daripada bersemangat terhadap peningkatan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
Data tersebut menggambarkan persepsi masyarakat, bukan bukti bahwa AI pasti akan menghilangkan pekerjaan dalam jumlah tertentu. Kekhawatiran itu muncul bersamaan dengan perubahan nyata pada pasar kerja, terutama bagi pekerja yang baru memasuki dunia profesional.
Penelitian Stanford Digital Economy Lab menggunakan data penggajian ADP hingga Juni 2026 menemukan pekerja usia 22-25 tahun dalam pekerjaan yang sangat terpapar AI memiliki tingkat pekerjaan sekitar 19% lebih rendah dibandingkan kondisi hipotetis jika perkembangannya mengikuti pekerja sebaya dalam pekerjaan dengan paparan AI lebih rendah.
Stanford menekankan bahwa angka tersebut merupakan pola deskriptif dan belum dapat digunakan untuk membuktikan bahwa AI menjadi satu-satunya penyebab perubahan tersebut. Penurunan terutama terlihat melalui berkurangnya perekrutan pekerja muda, bukan lonjakan pemutusan hubungan kerja.
Temuan Stanford juga menunjukkan perbedaan antara pekerjaan yang banyak menggunakan pengetahuan terdokumentasi dengan pekerjaan yang lebih mengandalkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman, praktik, dan pendampingan. Pekerjaan dengan komponen pengetahuan tacit atau pengalaman langsung menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan pekerjaan yang lebih mudah dikodifikasi.
Perubahan tersebut ikut terlihat pada minat terhadap sejumlah jalur pendidikan dan pekerjaan. Data yang dikutip Hechinger Report menunjukkan jumlah peserta Teach For America meningkat 43% dari 2022 hingga 2025, sedangkan jumlah peserta berusia 24 tahun ke bawah dalam program Registered Apprenticeship naik 20% antara 2022 dan 2024.
Namun, kenaikan tersebut tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap AI. Kondisi pasar kerja, kebutuhan tenaga pengajar, kekurangan pekerja terampil, dan perubahan minat pendidikan juga dapat memengaruhi angka tersebut.
Di sektor pendidikan tinggi, National Student Clearinghouse mencatat pendaftaran pada bidang profesi kesehatan meningkat ketika minat terhadap ilmu komputer mengalami penurunan. Tren tersebut juga tidak secara otomatis membuktikan bahwa AI menjadi penyebab tunggal perubahan pilihan studi.
Bagi lulusan baru, perubahan ini menunjukkan bahwa memilih jurusan atau pekerjaan berdasarkan asumsi “aman dari AI” saja memiliki risiko. Teknologi terus berkembang, sementara jenis tugas yang dapat dibantu atau diotomatisasi AI juga berubah dari waktu ke waktu.
Perubahan jalur karier juga dialami Kevin Brough, 34. Setelah bekerja sebagai pengembang perangkat lunak dan terkena PHK pada Mei 2024, ia memilih mengikuti program teknologi otomotif di Rosedale Technical College.
Brough sebelumnya memiliki latar belakang teknik komputer. Ia kemudian melihat perkembangan AI dalam pemrograman dan memilih pekerjaan yang menurutnya lebih membutuhkan keterampilan langsung di lapangan.
Pengalaman tersebut menunjukkan salah satu konsekuensi yang harus dipertimbangkan pekerja ketika berpindah profesi. Pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan keterampilan fisik bukan berarti tanpa tantangan atau sepenuhnya terbebas dari perkembangan teknologi.
Meagan Acevedo, 33, misalnya, beralih dari bidang manajemen sumber daya manusia dan pekerjaan ritel menuju pelatihan sebagai teknisi listrik industri. Dalam pekerjaan barunya, ia harus beradaptasi dengan tuntutan fisik, termasuk mengangkat gulungan kabel seberat sekitar 34 kilogram dan memulai pekerjaan sejak pagi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan dari pekerjaan kantoran ke pekerjaan teknis juga membawa konsekuensi yang berbeda. Bagi pekerja yang mempertimbangkan perubahan karier, faktor seperti kondisi fisik, jam kerja, kebutuhan pelatihan, pendapatan, dan prospek industri tetap perlu diperhitungkan.
Di tengah perubahan tersebut, sejumlah perguruan tinggi tidak hanya mengarahkan mahasiswa menjauhi pekerjaan yang terpapar AI. Sebaliknya, sebagian kampus mulai menyiapkan mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi tersebut dalam bidang masing-masing.
Purdue University, misalnya, mulai menerapkan persyaratan kompetensi kerja AI bagi mahasiswa sarjana pada tahun akademik 2026-2027. Kampus tersebut menyatakan mahasiswa perlu memiliki kemampuan menggunakan alat AI, memahami keterbatasannya, serta menerapkan keterampilan berpikir kritis dalam penggunaannya.
Purdue menyiapkan sejumlah mata kuliah kompetensi AI yang mencakup berbagai bidang, bukan hanya ilmu komputer. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap perubahan teknologi tidak selalu berupa perpindahan ke pekerjaan yang dianggap tidak dapat digantikan AI, tetapi juga peningkatan kemampuan untuk bekerja dengan AI.
Perubahan kebutuhan tenaga kerja juga mendorong program pelatihan ulang. Departemen Tenaga Kerja AS pada Juni 2026 mengumumkan sekitar US$50 juta untuk Rapid Reskill Employment Recovery National Dislocated Worker Grants, yang diarahkan untuk membantu pekerja terdampak PHK memperoleh pelatihan dan kembali bekerja di sektor yang membutuhkan tenaga kerja. Program tersebut mencakup manufaktur, kedirgantaraan, energi, konstruksi, dan bidang lain yang dianggap penting dalam agenda pengembangan industri AS.
Artinya, perubahan akibat AI tidak hanya menjadi persoalan pilihan individu. Perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah juga mulai menghadapi kebutuhan untuk menyiapkan pekerja agar dapat beradaptasi dengan perubahan jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Bagi pekerja dan lulusan baru, perkembangan tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari perencanaan karier. Pekerjaan yang hari ini dianggap sulit diotomatisasi pun dapat berubah ketika teknologi, kebutuhan industri, dan cara perusahaan membagi tugas antara manusia dan AI ikut berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Irlandia vs Austria di Nations League 2 Oktober 2026. Simak jadwal, klasemen Grup B3, kondisi skuad, dan prediksi pertandingannya.
BPJS Kesehatan mengeluarkan lebih dari Rp100 triliun untuk 172,3 juta kasus penyakit jantung sepanjang 2015-2025.
Pengguna iPhone 18 Pro dan Pro Max mengeluhkan speaker berbunyi kresek, klik, dan letupan. Penyebabnya belum diketahui.
Prediksi susunan pemain Timnas Indonesia vs Bangladesh. John Herdman berpeluang memakai 3-4-3 untuk mengejar kemenangan dengan selisih gol.
Harta Listyo Sigit dalam LHKPN 2025 mencapai Rp15,34 miliar. Simak rincian tanah, kendaraan, kas, harta bergerak, dan utangnya.
Profil Nurisa Dian Ashrifah, pemanah Indonesia peraih emas Asian Games 2026 setelah mengalahkan Amaya Cojuangco 139-137