Pusat Data AI Dikecam, Warga Eropa Khawatir Air dan Energi Terkuras

Jumali
Jumali Jum'at, 06 November 2026 12:47 WIB
Pusat Data AI Dikecam, Warga Eropa Khawatir Air dan Energi Terkuras

Ilustrasi server - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Ekspansi pusat data untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi perlawanan dari masyarakat di berbagai negara Eropa. Warga khawatir pembangunan fasilitas komputasi berskala besar itu justru menambah tekanan terhadap pasokan listrik, air bersih, lingkungan, hingga biaya hidup.

Kekhawatiran tersebut akan disuarakan melalui aksi lintas negara bertajuk Stop Dirty Data Centres pada Jumat-Sabtu (6-7/11/2026). Lebih dari 100 organisasi masyarakat sipil dan kelompok hak asasi manusia dari 15 negara Eropa dijadwalkan terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Mereka mendesak pemerintah di tingkat Eropa, nasional, maupun daerah memberlakukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan pusat data berskala besar. Jeda pembangunan dinilai diperlukan agar aturan pengawasan, kebutuhan sumber daya, dan dampak proyek terhadap masyarakat dapat diperiksa secara menyeluruh.

Sejumlah negara yang menjadi lokasi aksi antara lain Irlandia, Polandia, Denmark, Finlandia, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Inggris. Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari demonstrasi, pertemuan publik, pengumpulan petisi, tur berjalan kaki, bersepeda, hingga pembacaan puisi.

Koordinator StopDirtyDataCentres.eu, Owen Espley, mengatakan persoalan pusat data kini semakin mendapat perhatian masyarakat. Warga yang sebelumnya menyampaikan keberatan terhadap pembangunan fasilitas tersebut di lingkungan tempat tinggal mereka mulai membawa tuntutan ke ruang politik Eropa.

"Hari ini, masyarakat di seluruh Eropa yang selama ini menentang pembangunan pusat data yang rakus energi, air, dan lahan di lingkungan mereka mulai membawa persoalan ini ke panggung politik Eropa," kata Espley dikutip dari Euronews.

Menurut penyelenggara, pembangunan pusat data dalam skala besar berpotensi menambah beban infrastruktur publik. Persoalan yang disorot tidak hanya menyangkut ketersediaan listrik dan air, tetapi juga penggunaan lahan, perumahan, lapangan kerja, serta biaya hidup.

Dampaknya juga dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut. Mereka mengeluhkan kebisingan mesin yang beroperasi sepanjang waktu, polusi udara dari generator cadangan, serta peningkatan lalu lintas kendaraan selama proses konstruksi.

Kebutuhan air dan listrik menjadi perhatian utama karena pusat data harus menjaga perangkat komputasi tetap beroperasi selama 24 jam. Air juga dibutuhkan dalam sejumlah sistem pendinginan untuk mengendalikan suhu peralatan yang bekerja secara intensif.

Jika pembangunan fasilitas baru tidak diimbangi pengelolaan sumber daya dan pengawasan yang memadai, masyarakat khawatir persaingan memperoleh listrik dan air semakin berat. Pada akhirnya, persoalan itu berpotensi memengaruhi layanan publik maupun pengeluaran rumah tangga.

Espley menilai aksi serentak di berbagai negara dapat memperkuat suara komunitas yang selama ini berhadapan dengan perusahaan teknologi besar. Menurut dia, kelompok masyarakat perlu menunjukkan bahwa ekspansi pusat data bukan persoalan yang hanya bisa diputuskan oleh pemerintah dan pelaku industri.

"Dengan bersatu, berbagai kelompok kampanye yang menghadapi perjuangan berat melawan kekuatan perusahaan teknologi besar, yang terlalu sering mendapat dukungan para pengambil keputusan, menunjukkan bahwa mereka mampu melawan perlombaan pembangunan pusat data," ujarnya.

Ia mengatakan para peserta aksi meminta pemimpin politik menerapkan moratorium pembangunan pusat data berskala besar. Dengan demikian, kekhawatiran warga dapat ditindaklanjuti dan dampak lingkungan maupun sosial dari setiap proyek bisa diperiksa lebih dahulu.

Investasi Pusat Data di Eropa Terus Membesar

Gelombang penolakan tersebut berlangsung ketika Eropa justru mempercepat pembangunan infrastruktur pusat data. Kawasan ini berupaya mengejar Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan serta penerapan teknologi kecerdasan buatan.

Besarnya investasi menunjukkan bahwa ekspansi tersebut bukan proyek berskala kecil. Data dalam laporan State of European Data Centres 2026 dari European Data Centre Association (EUDCA) memperkirakan investasi tahunan untuk pusat data skala besar di Eropa berada pada kisaran 25-26 miliar euro.

Dengan asumsi kurs Rp20.254 per euro, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp506,35 triliun hingga Rp526,60 triliun per tahun. Laporan yang sama memperkirakan total investasi pusat data di Eropa mencapai 176 miliar euro selama periode 2026-2031, atau setara sekitar Rp3.565,30 triliun dengan asumsi kurs tersebut.

Besarnya modal yang mengalir ke sektor ini memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi pemerintah Eropa. Di satu sisi, pusat data menjadi infrastruktur penting bagi pengembangan AI dan layanan digital. Di sisi lain, kebutuhan energi, air, dan lahan dalam jumlah besar memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang menanggung dampaknya.

Isu tersebut juga mendapat perhatian dalam kontestasi politik di Amerika Serikat. Perdebatan mengenai pembangunan pusat data, penggunaan energi, dampaknya terhadap komunitas lokal, serta pengaruh perusahaan teknologi besar mengemuka dalam pemilihan paruh waktu AS pada pekan ini.

Rangkaian aksi di Eropa menunjukkan bahwa perdebatan mengenai masa depan AI tidak hanya berkutat pada kemampuan teknologi dan besarnya investasi. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek, persoalan ketersediaan air, pasokan listrik, kebisingan, dan kualitas lingkungan menjadi bagian penting dari pembahasan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online