Daftar Kapolri dari Masa ke Masa, Suyudi Ario Seto Jadi yang ke-26
Daftar Kapolri dari masa ke masa sejak 1945. Suyudi Ario Seto menjadi Kapolri ke-26 setelah menggantikan Listyo Sigit Prabowo.
Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Agen kecerdasan buatan (AI) Muse milik Meta menjadi sorotan setelah dilaporkan membagikan alamat rumah seorang pengguna kepada calon pembeli di Facebook Marketplace tanpa persetujuan yang dipahami pengguna tersebut. Kasus ini memperlihatkan risiko ketika agen AI diberi kewenangan untuk berkomunikasi dan bernegosiasi atas nama pemilik akun.
Kasus tersebut dialami YouTuber teknologi asal Amerika Serikat, Matt Robb. Ia sebelumnya mengaktifkan Muse untuk membantu menangani aktivitas jual beli di Facebook Marketplace, tetapi kemudian mengetahui bahwa agen AI tersebut telah berkomunikasi dengan calon pembeli tanpa sepengetahuannya.
Laporan The Guardian menyebut masalah bermula ketika seorang calon pembeli bernama Usman menanyakan keyboard yang dijual Robb di Facebook Marketplace. Usman mengira dirinya sedang berkomunikasi langsung dengan Robb karena menerima jawaban cepat mengenai ketersediaan barang dan kemudian melakukan negosiasi harga.
Dalam percakapan tersebut, Muse kemudian memberikan alamat Robb di Toronto sebagai lokasi pengambilan barang. Usman akhirnya mendatangi lokasi yang diberikan.
Namun, Robb tidak berada di tempat dan tidak mengetahui bahwa calon pembeli tersebut sedang menuju kediamannya. Usman menunggu sekitar 20 menit sebelum akhirnya membatalkan transaksi karena tidak mendapat respons langsung dari penjual.
Situasi menjadi semakin membingungkan karena Muse kemudian mengirim pesan yang membuat Usman mengira dirinya sedang berbicara dengan Robb. Dalam pesan tersebut, pihak yang dianggap sebagai Robb meminta maaf karena tidak menemui pembeli.
Padahal, Robb mengatakan dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya transaksi tersebut pada saat kejadian. Ia baru mengetahui apa yang terjadi setelah mendapat informasi dari Usman.
Robb kemudian meminta maaf kepada calon pembeli tersebut dan menjelaskan bahwa ia telah mengaktifkan Muse untuk membantunya mengelola Facebook Marketplace.
“Aku mengaktifkan AI baru dari Meta, Muse, dan itu benar-benar mengambil alih Facebook Marketplace-ku dan memberikan alamatku kepadamu,” tulis Robb kepada Usman, sebagaimana dikutip The Guardian.
Robb juga mengatakan bahwa Muse tidak meminta persetujuan tambahan kepadanya ketika mengatur pertemuan dengan calon pembeli tersebut.
Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian dari David Singleton, CEO Meta Superintelligence Labs. Singleton menghubungi Robb untuk menelusuri bagaimana Muse bisa memberikan alamat tersebut dan berkomunikasi dengan pembeli.
Menurut Robb, persoalan tersebut berkaitan dengan pengaturan izin yang ia pilih ketika memberikan akses kepada Muse.
Robb mengatakan Muse memberinya dua pilihan, yakni “Allow On Time” dan “Allow Always”. Ia memilih “Allow Always” karena mengira Muse tetap akan meminta persetujuan sebelum mengambil keputusan penting berikutnya.
Namun, pemahamannya ternyata berbeda dengan cara sistem bekerja.
Menurut Robb, pilihan tersebut membuat Muse memiliki kewenangan untuk merespons pesan Marketplace atas namanya. Ia kemudian menyadari bahwa keputusan tersebut juga memungkinkan Muse menangani percakapan dengan calon pembeli tanpa konfirmasi tambahan yang ia kira masih diperlukan.
Meta mengatakan pihaknya tengah membantu menyelidiki kasus tersebut. Robb juga mengatakan tim Meta menyampaikan bahwa tampilan pengaturan izin akan diperjelas agar pengguna tidak salah memahami cakupan akses yang diberikan kepada Muse.
Yang menarik, dalam percakapan setelah kejadian, Muse sendiri disebut mengakui bahwa sistem salah menafsirkan dua informasi yang diberikan Robb.
Menurut penjelasan yang dibagikan Robb, ia sebelumnya memberikan lokasi pengambilan barang untuk kebutuhan transaksi dan secara terpisah menyetujui penggunaan balasan otomatis. Muse kemudian memperlakukan kedua informasi tersebut seolah-olah merupakan izin untuk memasukkan alamat rumah ke dalam balasan kepada pembeli.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya kemampuan AI untuk melakukan tindakan secara otomatis, tetapi juga bagaimana agen tersebut menerjemahkan konteks dan batas izin yang diberikan pengguna.
Meta sendiri memperkenalkan Muse sebagai agen AI personal yang memang dirancang untuk melakukan pekerjaan, bukan hanya memberikan jawaban. Dalam penjelasan resminya, Meta menyebut Muse dapat membuka browser, mengisi formulir, mengirim komunikasi, melakukan pemesanan, bahkan melakukan negosiasi atas nama pengguna.
Meta juga mengatakan pengguna dapat menentukan aplikasi yang terhubung dengan Muse dan seberapa besar akses yang diberikan. Untuk sejumlah tindakan sensitif, Meta menyebut Muse dirancang meminta persetujuan pengguna sebelum melakukannya.
Kasus Robb menunjukkan bahwa batas antara tindakan yang dianggap sudah diizinkan dan tindakan yang menurut pengguna masih membutuhkan persetujuan dapat menjadi persoalan penting dalam penggunaan agen AI.
Setelah mengetahui alamatnya telah dikirim kepada calon pembeli, Robb meminta Muse berhenti memberikan informasi tersebut. Ia kemudian melakukan pengujian bersama beberapa temannya untuk mengetahui apakah alamat tersebut masih dapat diperoleh melalui percakapan Marketplace.
Menurut Robb, dalam pengujian tersebut Muse kembali memberikan alamatnya kepada lima orang. Klaim tersebut juga menjadi bagian dari bukti yang ia bagikan melalui akun Threads.
Selain persoalan alamat, Robb juga menyoroti bahwa Muse memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Salah satunya ketika agen tersebut memberi kesan bahwa Robb berada di rumah dan menunggu calon pembeli, padahal Robb mengaku tidak berada di sana.
Bagi Robb, bagian tersebut menjadi persoalan tersendiri karena pembeli dapat mengira dirinya sedang berbicara langsung dengan pemilik barang, padahal komunikasi sebenarnya dilakukan oleh agen AI.
Meta dalam pengumuman awal Muse memang menjelaskan bahwa agen tersebut dapat bekerja secara mandiri dalam sejumlah tugas dan terus bekerja setelah pengguna menutup aplikasi. Pada saat yang sama, Meta mengatakan pengguna tetap dapat mengatur akses dan memutus koneksi layanan yang diberikan kepada Muse.
Muse diperkenalkan Meta pada 8 September 2026 sebagai agen AI personal yang dapat membantu pengguna mengerjakan berbagai tugas digital. Peluncuran awal dilakukan di Amerika Serikat melalui iOS, Android, dan situs Muse, sementara integrasi dengan perangkat lain kemudian diperluas oleh Meta.
Laporan pihak ketiga menyebut Muse telah mencapai sekitar tiga juta unduhan dalam periode awal setelah diluncurkan. Angka tersebut menunjukkan tingginya penggunaan awal layanan, tetapi sekaligus membuat persoalan mengenai izin, privasi, dan transparansi tindakan agen AI menjadi semakin relevan bagi pengguna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Daftar Kapolri dari masa ke masa sejak 1945. Suyudi Ario Seto menjadi Kapolri ke-26 setelah menggantikan Listyo Sigit Prabowo.
Eks Ketua MK Anwar Usman tiba di Istana jelang pelantikan Wantimpres. Ia mengaku belum tahu apakah akan dilantik sebagai anggota.
Response time Damkar Sleman menuju kebakaran Transhome tercatat 14 menit. Namun, capaian waktu tanggap secara keseluruhan baru 52,27 persen.
Pratikno menghadiri pelantikan Wantimpres di Istana. Soal posisi ketua, ia mengaku belum menerima salinan Keppres.
Mario Aji finis P25 di Practice Moto2 Jepang 2026 dan harus melewati Q1 setelah jatuh di akhir sesi. David Alonso menjadi yang tercepat.
AI Muse Meta memberikan alamat rumah pengguna kepada calon pembeli. Kasus ini bermula dari salah tafsir pengaturan izin.