6 Tanda Ban Kendaraan Harus Diganti, Jangan Tunggu Pecah

Jumali
Jumali Sabtu, 03 Oktober 2026 08:27 WIB
6 Tanda Ban Kendaraan Harus Diganti, Jangan Tunggu Pecah

Ban Kendaraan - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Ban menjadi salah satu komponen yang langsung menentukan daya cengkeram kendaraan terhadap jalan. Ketika ban sudah aus atau mengalami kerusakan, kemampuan kendaraan untuk mengerem, bermanuver, dan menjaga stabilitas, terutama di jalan basah, dapat ikut menurun.

Masalahnya, kondisi ban yang sudah tidak layak pakai tidak selalu langsung terlihat. Pengendara perlu memperhatikan kedalaman alur, kondisi dinding ban, tekanan angin, hingga perubahan getaran atau suara saat kendaraan digunakan.

Berikut sejumlah tanda yang dapat menjadi alasan untuk memeriksa atau mengganti ban kendaraan.

1. Alur Ban Sudah Menyentuh TWI

Salah satu cara paling mudah memeriksa keausan ban adalah melihat Tread Wear Indicator (TWI) atau indikator keausan yang berada di dalam alur telapak ban. Tonjolan tersebut menjadi penanda batas keausan yang perlu diperhatikan pengendara.

Jika permukaan telapak sudah sejajar dengan indikator TWI, kedalaman alur telah mencapai batas keausan. Bridgestone menggunakan batas 1,6 milimeter untuk ban mobil dan merekomendasikan penggantian ketika tapak sudah mencapai indikator tersebut.

Ban yang semakin aus juga memiliki kemampuan lebih rendah dalam menghadapi jalan basah. Karena itu, pengendara sebaiknya tidak menunggu sampai permukaan ban benar-benar terlihat botak untuk melakukan pemeriksaan.

2. Dinding Ban Retak atau Rusak

Jangan hanya memeriksa bagian telapak. Dinding samping atau sidewall juga perlu diperhatikan karena retakan, sobekan, sayatan, atau kerusakan lain dapat menandakan kondisi struktur ban yang bermasalah.

Retakan pada dinding ban dapat berkaitan dengan penuaan, paparan panas, sinar matahari, ozon, atau faktor lingkungan lainnya. Michelin menyebut retakan pada sidewall sebagai tanda penuaan ban dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.

Jika ditemukan kerusakan yang terlihat pada dinding ban, jangan menganggapnya hanya sebagai masalah kosmetik. Ban yang rusak perlu diperiksa oleh tenaga profesional untuk menentukan apakah masih dapat digunakan atau harus diganti.

3. Muncul Benjolan pada Ban

Benjolan atau bulge pada permukaan ban merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Kondisi tersebut dapat muncul setelah ban mengalami benturan keras, misalnya ketika menghantam lubang atau trotoar.

Bridgestone menyebut benjolan dapat mengindikasikan kerusakan pada struktur internal ban. Karena kerusakan semacam ini berhubungan dengan integritas struktur ban, pengguna disarankan segera memeriksakannya dan mengganti ban jika dinyatakan tidak layak.

Michelin juga menyarankan pemeriksaan profesional ketika terdapat tonjolan pada ban. Pengendara sebaiknya tidak terus menggunakan ban yang mengalami kerusakan tersebut hanya karena alurnya masih terlihat tebal.

4. Tekanan Angin Sering Berkurang

Ban yang kehilangan tekanan secara perlahan perlu diperiksa, terutama jika pengendara harus berulang kali mengisi angin dalam waktu singkat. Penyebabnya tidak selalu karena usia karet, tetapi dapat berasal dari kebocoran, katup, roda, atau bagian ban yang mengalami kerusakan.

Michelin menyebut kehilangan sekitar 2 psi dalam sebulan masih dapat terjadi secara alami, tetapi jika pengendara harus menambah tekanan setiap beberapa hari, ban, roda, dan katup sebaiknya diperiksa.

Tekanan yang tidak sesuai juga dapat mempercepat keausan atau menyebabkan keausan tidak merata. Michelin menyebut tekanan terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan struktur ban yang bersifat permanen.

Karena itu, jangan langsung mengganti ban hanya berdasarkan dugaan bahwa karet sudah “porous”. Cari terlebih dahulu sumber kebocoran agar masalah dapat ditangani dengan tepat.

5. Usia Ban Sudah Lama

Usia ban memang perlu diperhatikan, tetapi tidak tepat jika semua ban yang berumur lebih dari tiga tahun langsung dianggap wajib diganti. Kondisi pemakaian, penyimpanan, paparan lingkungan, kerusakan, dan keausan juga menentukan kelayakan sebuah ban.

Bridgestone merekomendasikan ban diperiksa secara berkala setelah lima tahun penggunaan. Untuk ban yang telah mencapai usia 10 tahun sejak tanggal produksi, Bridgestone merekomendasikan penggantian meskipun secara visual masih terlihat dapat digunakan.

Kode produksi dapat ditemukan pada dinding ban. Pada kode empat digit seperti 2423, dua angka pertama menunjukkan minggu produksi, sedangkan dua angka terakhir menunjukkan tahun produksi, sehingga kode tersebut berarti ban dibuat pada minggu ke-24 tahun 2023.

Namun, usia bukan satu-satunya patokan. Ban yang mengalami kerusakan, keausan berlebihan, atau masalah akibat kondisi penggunaan dapat perlu diganti jauh sebelum mencapai batas usia tersebut.

6. Muncul Getaran atau Suara yang Tidak Biasa

Perubahan sensasi ketika berkendara juga patut diperhatikan. Getaran pada kemudi, suara dengungan yang semakin keras, atau perjalanan yang terasa tidak normal dapat berkaitan dengan keausan ban yang tidak merata maupun masalah lain pada kendaraan.

Michelin menyebut suara keras pada ban sering berkaitan dengan pola keausan yang tidak merata atau tidak teratur. Sementara itu, getaran dapat berasal dari ban, sistem kemudi, atau suspensi sehingga pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Keausan tidak merata juga dapat dipicu tekanan angin yang tidak tepat, ketidaksejajaran roda, atau masalah pada kendaraan. Karena itu, penggantian ban saja belum tentu menyelesaikan masalah jika sumber keausan berasal dari komponen lain.

Jangan Tunggu Ban Rusak di Jalan

Pemeriksaan ban sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama sebelum perjalanan jauh. Perhatikan TWI, kondisi dinding ban, adanya benjolan atau retakan, tekanan angin, serta pola keausan di seluruh permukaan ban.

Jika menemukan kerusakan fisik seperti retakan parah, sobekan, atau benjolan, pengendara sebaiknya tidak memaksakan perjalanan sebelum ban diperiksa. Bridgestone menegaskan kerusakan ban dapat menyebabkan kegagalan ban secara tiba-tiba, sementara Michelin menyarankan ban yang rusak tidak digunakan dan diperiksa oleh tenaga ahli.

Untuk pengguna kendaraan di Jogja, pemeriksaan kondisi ban juga penting sebelum melintasi jalan dengan permukaan basah atau perjalanan antarkota. Ban yang masih terlihat memiliki alur belum tentu berada dalam kondisi optimal jika sudah mengalami kerusakan pada dinding, benjolan, kebocoran, atau keausan tidak merata.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online