Arsenal Bangkit dari Ketertinggalan, Leeds Tumbang 2-1 di Emirates
Arsenal bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Leeds United 2-1. Gol Riccardo Calafiori dan Bruno Guimarães memastikan tiga poin bagi The Gunners.
Gerhana matahari./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Gerhana Matahari Total (GMT) akan menghiasi langit pada 2 Agustus 2027. Fenomena astronomi ini menjadi perhatian karena menawarkan fase totalitas hingga sekitar 6 menit 23 detik di lokasi tertentu, termasuk sejumlah wilayah di Afrika Utara dan Timur Tengah.
Momen tersebut terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga piringan Matahari tertutup sepenuhnya jika diamati dari jalur totalitas. Saat fase ini berlangsung, langit dapat meredup seperti senja meskipun peristiwa terjadi pada siang hari.
Menurut perhitungan astronomi NASA, durasi totalitas terpanjang pada gerhana 2 Agustus 2027 diperkirakan mencapai 6 menit 23 detik. Durasi yang dialami setiap kota berbeda-beda, bergantung pada posisi pengamat terhadap jalur bayangan inti Bulan.
Gerhana ini kerap disebut sebagai salah satu fenomena langit paling menarik pada 2027. Meski demikian, gerhana tersebut bukan gerhana Matahari total terlama sepanjang abad ke-21. Gerhana pada 22 Juli 2009 memiliki durasi totalitas yang lebih panjang, sekitar 6 menit 39 detik.
Jalur totalitas Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 melintasi sejumlah wilayah, termasuk bagian selatan Spanyol, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, dan sebagian wilayah Timur Tengah.
Beberapa kota yang menjadi perhatian pengamat antara lain Cadiz dan Malaga di Spanyol, Tangier di Maroko, serta sejumlah wilayah di Mesir dan Arab Saudi.
Mekah menjadi salah satu lokasi yang menarik perhatian karena berada di kawasan yang dapat menyaksikan fase totalitas. Namun, durasi dan waktu terjadinya gerhana di setiap lokasi tidak sama.
Luxor di Mesir juga diperkirakan menjadi salah satu tujuan pengamatan. Kawasan tersebut berada dekat jalur yang memungkinkan pengamat menikmati fase totalitas dengan durasi panjang, bergantung pada titik pengamatan yang dipilih.
Pengamat yang ingin menyaksikan gerhana secara penuh perlu memeriksa peta jalur totalitas dan waktu lokal untuk lokasi tujuan. Kota yang berada di luar jalur tersebut hanya akan mengalami gerhana sebagian, sehingga Matahari tidak tertutup sepenuhnya.
Keistimewaan gerhana ini terletak pada durasi totalitas yang panjang dan jalur pengamatan yang melewati sejumlah wilayah daratan. Kondisi tersebut memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk merencanakan pengamatan tanpa harus berada di tengah laut atau kawasan terpencil.
Saat fase totalitas, piringan terang Matahari tertutup oleh Bulan sehingga korona, lapisan terluar atmosfer Matahari, dapat terlihat. Korona tampak seperti cahaya tipis yang mengelilingi piringan gelap Bulan.
Dalam kondisi langit cerah, sejumlah benda langit terang juga berpotensi terlihat ketika langit meredup. Namun, kemunculan bintang atau planet bergantung pada kondisi atmosfer, posisi benda langit, dan tingkat kegelapan di lokasi pengamatan.
Durasi gerhana yang panjang juga membuat fenomena ini menarik bagi peneliti dan penggemar astronomi. Pengamatan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari korona Matahari dan perubahan lingkungan selama gerhana, termasuk perubahan cahaya serta suhu udara.
Meski demikian, perubahan cuaca dan suhu tidak sama di setiap tempat. Kondisi awan juga dapat memengaruhi apakah fase totalitas bisa diamati dengan jelas.
Keselamatan mata perlu menjadi perhatian utama ketika mengamati gerhana. Pada fase parsial, saat sebagian piringan Matahari masih terlihat, pengamat wajib menggunakan kacamata gerhana khusus atau alat pengamat Matahari yang aman.
Kacamata gerhana harus memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Kacamata hitam biasa, meskipun berwarna sangat gelap, tidak cukup untuk melindungi mata saat melihat Matahari secara langsung.
Pengamat juga tidak boleh melihat Matahari melalui kamera, teropong, atau teleskop tanpa filter Matahari khusus yang dipasang dengan benar pada bagian depan perangkat optik.
Perlindungan mata hanya boleh dilepas selama fase totalitas, ketika piringan terang Matahari benar-benar tertutup Bulan dan pengamat berada di dalam jalur totalitas. Begitu bagian terang Matahari kembali terlihat, pelindung mata harus segera digunakan kembali.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena ini, persiapan sebaiknya dilakukan dengan memeriksa lokasi pengamatan, prakiraan cuaca, waktu gerhana setempat, dan ketersediaan alat pelindung mata yang sesuai standar.
Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 menjadi kesempatan untuk menyaksikan salah satu fenomena astronomi yang langka dan memukau. Dengan perencanaan yang tepat dan prosedur keselamatan yang benar, pengamatan dapat dilakukan dengan lebih aman dan optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Arsenal bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Leeds United 2-1. Gol Riccardo Calafiori dan Bruno Guimarães memastikan tiga poin bagi The Gunners.
Cek tilang ETLE online melalui portal resmi Korlantas Polri. Simak data yang diperlukan, cara konfirmasi pelanggaran, pembayaran denda, dan tips menghindari pen
Operasional gerai KDMP di Bantul masih menunggu petunjuk teknis pusat. DPRD mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial dan pendampingan pengurus.
Timnas Indonesia dijadwalkan melawan Yordania pada 13 November 2026 di Amman. Simak jadwal FIFA Matchday dan peluang Garuda di ranking FIFA.
Veda Ega Pratama finis keenam di Moto3 Mandalika 2026. Hiroshi Aoyama memuji kecepatannya setelah sempat bersaing di posisi kedua.
Gerhana Matahari Total terjadi 2 Agustus 2027. Simak daerah yang dilintasi, durasi totalitas, dan cara aman menyaksikan fenomena langit ini.