Hujan Meteor Orionid Puncak 2122 Oktober 2026, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya

Jumali
Jumali Selasa, 13 Oktober 2026 22:37 WIB
Hujan Meteor Orionid Puncak 2122 Oktober 2026, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya

Ilustrasi hujan meteor./Twitter

Harianjogja.com, JOGJA—Hujan meteor Orionid akan mencapai puncaknya pada malam 21 Oktober hingga menjelang pagi 22 Oktober 2026. Fenomena tahunan yang berasal dari debu Komet Halley ini bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan meteor melesat di langit tanpa bantuan teleskop.

Menurut NASA, hujan meteor Orionid berlangsung pada 2 Oktober hingga 7 November. Dalam kondisi pengamatan yang ideal, fenomena ini berpotensi menampilkan sekitar 10–20 meteor per jam. Namun, jumlah meteor yang benar-benar terlihat bergantung pada cuaca, kondisi langit, polusi cahaya, dan terang Bulan.  

Tahun ini, cahaya Bulan yang berada dalam fase cembung membesar berpotensi mengganggu pengamatan karena dapat menyamarkan meteor yang lebih redup. Karena itu, waktu terbaik untuk mencoba melihat Orionid adalah menjelang subuh, terutama setelah Bulan terbenam dan langit menjadi lebih gelap.  

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikannya, memilih lokasi yang aman dengan pandangan langit luas dan minim cahaya buatan menjadi langkah penting. Tidak perlu menyiapkan teleskop atau teropong karena meteor dapat diamati dengan mata telanjang.

Orionid berasal dari debu Komet Halley

Hujan meteor Orionid terjadi ketika Bumi melintasi jalur puing-puing yang ditinggalkan Komet Halley. Material berupa debu dan partikel kecil itu masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, kemudian memanas dan menghasilkan kilatan cahaya yang dikenal sebagai meteor atau bintang jatuh.

Menurut NASA, meteor Orionid melaju dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik. Kecepatan tinggi tersebut membuat sebagian meteor tampak sebagai garis cahaya yang melesat cepat. Beberapa di antaranya juga dapat meninggalkan jejak bercahaya sesaat di langit.  

Komet Halley merupakan sumber material bagi dua hujan meteor tahunan, yakni Orionid pada Oktober dan Eta Aquariid yang biasanya muncul pada Mei. Meski berasal dari komet yang sama, keduanya terlihat pada waktu berbeda karena Bumi melintasi bagian jalur debu yang berbeda dalam perjalanannya mengelilingi Matahari.  

Nama Orionid berasal dari rasi bintang Orion, yang menjadi arah titik radian atau titik semu tempat meteor tampak bermunculan. Meski demikian, meteor tidak hanya terlihat di dekat rasi tersebut. Kilatan cahaya dapat melintasi berbagai bagian langit sehingga pengamat sebaiknya tidak terpaku pada satu titik.

Cara melihat hujan meteor Orionid dari Indonesia

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan agar kesempatan menyaksikan Orionid lebih baik.

1. Pilih waktu menjelang subuh

Malam puncak berlangsung pada 21–22 Oktober. Pengamat dapat mulai memperhatikan langit setelah tengah malam dan mencoba kembali menjelang subuh. Pada 2026, waktu setelah Bulan terbenam menjadi penting karena cahaya Bulan berpotensi mengurangi jumlah meteor redup yang terlihat. Waktu terbenam Bulan berbeda-beda menurut lokasi, sehingga pengamat sebaiknya memeriksa informasi astronomi untuk kota masing-masing.  

2. Cari lokasi yang minim polusi cahaya

Lampu jalan, bangunan, papan iklan, dan penerangan luar ruangan dapat mengurangi kemampuan mata menangkap meteor yang redup. Jika memungkinkan, pilih tempat terbuka yang aman dan jauh dari sumber cahaya terang. Pastikan lokasi tersebut dapat diakses dengan aman, terutama jika pengamatan dilakukan pada dini hari.

3. Beri waktu bagi mata untuk beradaptasi

Setelah tiba di lokasi, hindari langsung menatap layar ponsel yang terang. Duduk atau berbaring dengan nyaman, kemudian beri waktu sekitar 20–30 menit agar mata terbiasa dengan kondisi gelap. Semakin luas area langit yang bisa diamati, semakin besar peluang menangkap meteor yang melintas.

4. Jangan hanya melihat ke arah Orion

Rasi Orion menjadi petunjuk untuk mengetahui asal semu hujan meteor, bukan satu-satunya area tempat meteor akan terlihat. Arahkan pandangan ke area langit yang luas di sekitarnya. Meteor yang terlihat jauh dari titik radian bahkan dapat meninggalkan jejak yang lebih panjang.

5. Siapkan diri menghadapi cuaca

Awan tebal dan hujan dapat menghalangi pengamatan. Periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat dan pilih tempat dengan pandangan langit yang tidak terhalang pepohonan atau bangunan tinggi. Jika langit berawan pada malam puncak, pengamatan pada malam-malam lain selama periode aktif Orionid masih bisa dicoba, meski aktivitasnya tidak selalu sebanyak saat puncak.

6. Jangan berharap jumlah meteor selalu mencapai 20 per jam

Angka 10–20 meteor per jam merupakan perkiraan untuk kondisi ideal, bukan jaminan jumlah meteor yang akan terlihat setiap orang. Di kawasan perkotaan yang terang atau ketika Bulan masih terlihat, jumlah meteor yang tertangkap mata bisa jauh lebih sedikit. Kesabaran dan kondisi langit yang mendukung menjadi faktor penting dalam pengamatan.

Dengan persiapan sederhana, masyarakat dapat mencoba menyaksikan hujan meteor Orionid dari lokasi yang sesuai. Meski cahaya Bulan menjadi tantangan pada 2026, pengamatan menjelang subuh setelah Bulan terbenam memberikan peluang lebih baik untuk menangkap kilatan meteor dari sisa material Komet Halley.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online