Mobil Listrik Bekas China Dijual 40 Persen Lebih Murah, Eropa Jadi Target

Jumali
Jumali Selasa, 27 Oktober 2026 15:57 WIB
Mobil Listrik Bekas China Dijual 40 Persen Lebih Murah, Eropa Jadi Target

Ilustrasi mobil listrik

Harianjogja.com, JOGJA—Mobil listrik bekas asal Tiongkok mulai menjadi alternatif di pasar otomotif Eropa. Selain menawarkan harga lebih rendah, kendaraan ini juga memiliki peluang masuk ke pasar Barat ketika mobil listrik baru dari negara tersebut menghadapi berbagai pembatasan perdagangan.

Data perusahaan importir dan eksportir China EV Marketplace (CEVM) menunjukkan penjualan mobil bekas asal Tiongkok di Uni Eropa melonjak 280% secara tahunan. Hingga September 2026, jumlah penjualannya mencapai 7.900 unit.

Tren ini menjadi tantangan bagi produsen otomotif Barat yang selama ini berupaya melindungi pasar domestik dari persaingan kendaraan listrik Tiongkok. Sejumlah mobil bekas bahkan ditawarkan dengan harga hingga 40% di bawah harga jual awalnya.

Tarif Mobil Baru Membuka Peluang bagi Kendaraan Bekas

Uni Eropa selama ini menerapkan tarif tambahan untuk mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) asal Tiongkok. Besaran tarif tersebut mencapai 45,3%.

Namun, menurut CEVM, mobil listrik bekas tidak terkena tarif tambahan BEV yang sama. Perbedaan perlakuan ini membuka peluang bagi kendaraan bekas untuk menjangkau konsumen Eropa.

Chief Operating Officer (COO) CEVM, Jakub Geršl, mengatakan kebijakan tarif impor telah memengaruhi permintaan terhadap mobil listrik baru asal Tiongkok di Eropa. Ia juga memperkirakan pembatasan impor mobil hibrida akan menambah tekanan terhadap penjualan mobil hibrida plug-in atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) baru.

"Mobil bekas dikecualikan dari tarif tambahan BEV dan kuota baru untuk mobil hibrida (PHEV). Karena itulah, kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis kami di Eropa," ujar Geršl kepada CarNewsChina.

CEVM saat ini mencantumkan lebih dari 2.600 unit mobil listrik bekas asal Tiongkok dalam daftar penjualannya. Pilihan yang tersedia berasal dari berbagai merek, termasuk BYD, Geely, dan Zeekr. Persediaan kendaraan tersebut diperbarui hampir setiap hari.

Harga Mobil Baru Turun, Kendaraan Bekas Ikut Terdampak

Selain kebijakan perdagangan, penurunan harga mobil baru turut menekan nilai jual kendaraan bekas. Tim CEVM yang berbasis di Shanghai secara aktif mencari mobil dengan harga yang dinilai menarik untuk dipasarkan kembali.

Geršl mengatakan pihaknya secara rutin menemukan kendaraan dengan jarak tempuh sekitar 6.000 kilometer yang dijual dengan harga 40% lebih rendah dibandingkan harga daftar awalnya di Tiongkok.

"Kami secara rutin menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dihargai 40 persen di bawah harga daftar aslinya di China," katanya.

Penurunan harga tersebut turut dipengaruhi pesatnya perkembangan teknologi kendaraan listrik Tiongkok. Banyaknya model baru dan pembaruan produk membuat kendaraan yang sebelumnya dipasarkan lebih cepat menghadapi persaingan dari model yang lebih baru.

Di pasar domestik Tiongkok, konsumen juga cenderung mengutamakan kendaraan keluaran terbaru. Kondisi ini ikut mendorong munculnya mobil listrik bekas dengan harga lebih rendah, yang kemudian menjadi peluang bagi perusahaan eksportir untuk memasarkannya ke Eropa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online