Google Diminta Hentikan Proyek Pusat Data di Finlandia, Ada Apa?

Jumali
Jumali Jum'at, 30 Oktober 2026 15:37 WIB
Google Diminta Hentikan Proyek Pusat Data di Finlandia, Ada Apa?

Ilustrasi server internet - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Ekspansi pusat data Google di Finlandia menghadapi hambatan setelah pemerintah setempat memerintahkan penghentian sementara pekerjaan di dua lokasi proyek. Kebijakan ini diambil menyusul dugaan pembukaan lahan hutan tanpa didahului penilaian dampak lingkungan yang diwajibkan.

Dilansir dari Al Jazeera, Jumat (30/10/2026), Badan Pengawas Finlandia (LVV) meminta Tuike Finland, perusahaan yang mewakili Google, menghentikan kegiatan persiapan yang berpotensi mengubah kondisi lingkungan secara signifikan di lokasi proyek Muhos dan Kajaani.

Perintah penghentian tersebut harus dipatuhi paling lambat 23 Oktober 2026. LVV juga menyelidiki dugaan penebangan hutan hingga ratusan hektare di kedua wilayah itu tanpa melalui penilaian dampak lingkungan.

Kepala Departemen Lingkungan LVV, Tommi Muilu, mengungkapkan sejumlah pekerjaan telah dilakukan di lokasi proyek. Aktivitas tersebut meliputi penebangan pohon, pengangkatan lapisan tanah atas, pembangunan jalan dan area penyimpanan, serta perubahan sejumlah parit.

Ketua Asosiasi Konservasi Alam Finlandia, Hanna Halmeenpaa, mengatakan kepada AFP bahwa pembukaan lahan turut berdampak pada kawasan alam yang semestinya dilindungi. Luas hutan yang terdampak diperkirakan lebih dari 300 hektare atau sekitar 741 acre.

Google Akui Ada Kekurangan dalam Pelaksanaan Proyek

LVV memberikan tenggat hingga 14 Oktober kepada Tuike Finland untuk menyampaikan penjelasan dan rincian rencana kelanjutan proyek. Perusahaan tersebut juga diingatkan dapat menghadapi proses penegakan hukum apabila tidak mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

Menanggapi keputusan tersebut, juru bicara Google, Sondre Ronander, mengakui adanya kekurangan dalam pelaksanaan proyek. Dalam pernyataannya kepada AFP, ia mengatakan Google akan mempelajari temuan LVV dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Google juga menyatakan sedang menyiapkan rencana penataan lanskap dan perlindungan keanekaragaman hayati. Salah satu langkah yang direncanakan adalah menanam pohon di lahan seluas 130 hektare di Muhos.

Investasi Google di Finlandia Capai 13 Miliar Euro

Penghentian sementara pekerjaan di Muhos dan Kajaani menjadi perhatian di tengah rencana ekspansi besar-besaran Google di Finlandia.

Pada September 2026, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu mengumumkan investasi sebesar 13 miliar euro atau sekitar 14,6 miliar dolar AS untuk mengembangkan infrastruktur digital di Finlandia selama dua tahun ke depan.

Google menyebut proyek pusat data yang direncanakan di Muhos, Vaala, Kajaani, dan Hamina sebagai investasi tunggal terbesarnya di Eropa. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk mendukung pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Nordik menjadi tujuan pengembangan pusat data karena memiliki iklim sejuk, pasokan listrik rendah karbon yang melimpah, serta jaringan kelistrikan yang relatif andal.

Namun, pertumbuhan infrastruktur AI juga memunculkan perhatian masyarakat dan kalangan politik. Dampaknya terhadap kebutuhan energi dan lingkungan menjadi salah satu isu yang diperdebatkan.

Bulan lalu, sejumlah partai oposisi Finlandia mendesak pemerintah membentuk sistem perizinan nasional. Langkah itu dinilai perlu untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan listrik dan kenaikan harga energi akibat pertumbuhan pusat data.

Pemimpin Partai Tengah, Antti Kaikkonen, mengatakan kepada Reuters bahwa investasi pusat data pada dasarnya disambut baik. Meski demikian, Finlandia perlu memastikan ketersediaan pasokan listrik dan kapasitas transmisi sebelum menerima ekspansi infrastruktur dalam skala besar.

Partai Sosial Demokrat menyampaikan sikap serupa. Partai tersebut mendukung investasi pusat data, tetapi tetap mengkhawatirkan dampaknya terhadap peningkatan permintaan energi nasional.

Google Jalin Kesepakatan Energi dengan PLTN Loviisa

Selain investasi infrastruktur digital, kesepakatan Google di Finlandia juga mencakup perjanjian pembelian energi selama 22 tahun.

Melalui perjanjian tersebut, Google akan menyerap hingga 50% produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Loviisa di Finlandia.

Kesepakatan itu turut mendukung perpanjangan perkiraan masa operasional pembangkit hingga 2050. Sebelumnya, PLTN tersebut dijadwalkan berhenti beroperasi pada 2030.

Rencana pengembangan pusat data Google pun berada di tengah dua kepentingan besar: mendorong investasi infrastruktur digital dan memastikan kebutuhan energi serta perlindungan lingkungan tetap terjaga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online