Volkswagen Rugi Rp100 Triliun pada Kuartal III 2026, Ini Penyebabnya

Jumali
Jumali Senin, 02 November 2026 08:07 WIB
Volkswagen Rugi Rp100 Triliun pada Kuartal III 2026, Ini Penyebabnya

Logo Volkswagen/Ist-Car Logos

Harianjogja.com, JOGJA—Volkswagen menghadapi tekanan keuangan serius setelah mencatat kerugian operasional sebesar €5,9 miliar atau sekitar US$6,6 miliar pada kuartal III 2026. Kerugian tersebut menjadi yang terdalam dalam lebih dari satu dekade, di tengah melemahnya bisnis di China dan penurunan nilai investasi perusahaan pada Porsche.

Dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026), kerugian operasional Volkswagen pada periode Juli-September 2026 merupakan yang terbesar sejak kuartal IV 2015. Kala itu, produsen otomotif asal Jerman tersebut juga menanggung beban keuangan besar akibat skandal manipulasi emisi atau Dieselgate.

Kondisi keuangan tersebut mendorong manajemen Volkswagen untuk mempercepat perubahan strategi bisnis. Kepala Keuangan Volkswagen, Arno Antlitz, menegaskan perusahaan tidak memiliki banyak waktu untuk menunda langkah pembenahan.

"Kinerja keuangan kami tidak memberikan ruang untuk menunda," kata Antlitz.

Ia juga mendesak agar rencana restrukturisasi yang telah disepakati dewan direksi segera dilaksanakan. Rencana tersebut mencakup pemangkasan hingga 100.000 pekerjaan di seluruh grup dan kemungkinan penutupan empat pabrik di Jerman.

Bisnis Volkswagen di China Tertekan Persaingan

Salah satu faktor yang membebani kinerja Volkswagen adalah melemahnya bisnis di China. Perusahaan yang sebelumnya memiliki posisi kuat di pasar otomotif terbesar dunia itu kini menghadapi persaingan ketat dari produsen lokal.

Merek-merek otomotif China semakin diminati karena menawarkan teknologi yang lebih maju dengan harga relatif terjangkau. Perubahan preferensi konsumen tersebut membuat Volkswagen semakin sulit mempertahankan dominasi pasarnya.

Tekanan persaingan juga mulai terasa di Eropa. Produsen kendaraan listrik asal China memperluas jangkauan pasarnya di kawasan tersebut sehingga Volkswagen harus mempercepat pengembangan dan peluncuran mobil listrik dengan harga lebih terjangkau.

Namun, strategi tersebut tidak mudah dijalankan. Biaya produksi kendaraan listrik yang masih lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal turut menekan margin keuntungan perusahaan.

BMW dan Mercedes-Benz Juga Tertekan

Pelemahan pasar China bukan hanya menjadi persoalan Volkswagen. Dua produsen otomotif besar Jerman lainnya, BMW dan Mercedes-Benz, juga menghadapi tekanan bisnis di negara tersebut.

Kedua perusahaan itu dilaporkan telah memangkas target kinerja tahunan akibat kondisi pasar China yang melemah.

Situasi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi industri otomotif Jerman semakin besar. Persaingan dengan produsen lokal China, perubahan pasar kendaraan listrik, serta kebutuhan investasi untuk mengembangkan teknologi baru menjadi tekanan yang harus dihadapi para produsen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online