BIGBANG Konser di Bangkok Akhir Pekan Ini, Cek Barang Wajib Dibawa
BIGBANG menggelar konser di Bangkok pada 7-8 November 2026. Simak daftar barang bawaan, aturan penonton, dan informasi pembelian tiket.
Ilustrasi mobil listrik
Harianjogja.com, JOGJA—Memilih mobil listrik atau mobil bensin tidak cukup hanya membandingkan harga beli dan biaya bahan bakar. Bagi konsumen yang berencana mengganti kendaraan setelah cicilan lima tahun lunas, nilai jual kembali atau resale value juga perlu masuk dalam perhitungan.
Mobil listrik menawarkan pengeluaran energi yang lebih rendah. Namun, potensi penurunan harga jual yang lebih besar bisa mengurangi keuntungan tersebut. Sebaliknya, mobil bensin membutuhkan biaya bahan bakar lebih tinggi, tetapi memiliki pasar kendaraan bekas yang relatif lebih mapan.
Perhitungan menggunakan asumsi harga kedua jenis mobil sama, yakni Rp300 juta dengan status on the road (OTR) Jakarta.
Pembelian dilakukan secara kredit dengan uang muka 20% atau Rp60 juta. Sisa pembayaran sebesar Rp240 juta dicicil selama 60 bulan atau lima tahun.
Jika menggunakan bunga flat 5% per tahun, total bunga yang harus dibayar mencapai Rp60 juta selama masa kredit. Dengan demikian, total pengeluaran untuk pembelian mobil, termasuk uang muka dan cicilan pokok beserta bunga, mencapai Rp360 juta.
Angka tersebut belum memasukkan biaya administrasi dan pengeluaran tambahan lainnya.
Dari sisi pemakaian energi, mobil listrik memiliki keunggulan. Dengan asumsi konsumsi listrik 14,5 kWh per 100 kilometer dan jarak tempuh 15.000 kilometer per tahun, kebutuhan listrik kendaraan mencapai sekitar 2.175 kWh setiap tahun.
Jika pengisian daya dilakukan di rumah dengan tarif listrik Rp1.444,70 per kWh, biaya energi yang dikeluarkan sekitar Rp3,14 juta per tahun.
Sementara itu, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 12 kilometer per liter membutuhkan sekitar 1.250 liter bahan bakar setiap tahun untuk menempuh jarak yang sama. Dengan asumsi harga Pertalite Rp10.000 per liter, pengeluaran bahan bakarnya mencapai Rp12,5 juta per tahun.
Selama lima tahun, biaya energi mobil listrik diperkirakan sekitar Rp15,7 juta. Adapun mobil bensin membutuhkan Rp62,5 juta.
Dengan perhitungan tersebut, penghematan biaya energi mobil listrik mencapai sekitar Rp46,8 juta dalam lima tahun. Keunggulan ini berlaku dengan asumsi jarak tempuh, tarif listrik, dan harga bahan bakar tidak berubah serta pengisian daya dilakukan di rumah.
Selain energi, biaya perawatan rutin turut menentukan total pengeluaran pemilik kendaraan.
Mobil bensin memerlukan penggantian oli mesin, filter, dan busi secara berkala. Mobil listrik tidak membutuhkan servis komponen tersebut, meskipun pemilik tetap perlu memperhatikan kondisi ban, rem, suspensi, serta sistem pendingin.
Dalam simulasi ini, biaya servis dan komponen rutin selama lima tahun diasumsikan mencapai Rp17 juta untuk mobil bensin. Sementara itu, mobil listrik membutuhkan sekitar Rp12 juta.
Perbedaan juga muncul pada komponen pajak. Biaya pajak mobil bensin diasumsikan sebesar Rp20 juta selama lima tahun.
Untuk mobil listrik di Jakarta, simulasi menggunakan asumsi pembebasan pokok Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) selama periode kepemilikan. Namun, penerapan fasilitas tersebut perlu disesuaikan dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Biaya asuransi justru diasumsikan lebih tinggi untuk mobil listrik. Selama lima tahun, premi mobil bensin diperkirakan Rp25 juta, sedangkan mobil listrik mencapai Rp30 juta.
Pengeluaran tambahan juga dimasukkan dalam perhitungan. Mobil bensin diasumsikan membutuhkan Rp3 juta untuk biaya administrasi kredit dan pengeluaran lainnya. Pada mobil listrik, angkanya mencapai Rp8 juta, termasuk instalasi fasilitas pengisian daya di rumah.
Besarnya penghematan biaya energi belum tentu membuat mobil listrik lebih menguntungkan. Faktor yang dapat mengubah hasil perhitungan adalah depresiasi atau penurunan nilai kendaraan setelah digunakan selama lima tahun.
Dalam simulasi tersebut, mobil bensin diasumsikan masih memiliki nilai jual kembali sebesar 60% dari harga awal. Dengan harga pembelian Rp300 juta, kendaraan itu diperkirakan bisa dijual kembali seharga Rp180 juta.
Sementara itu, mobil listrik diasumsikan memiliki nilai jual kembali 40% dari harga awal atau sekitar Rp120 juta.
Artinya, penurunan nilai mobil bensin mencapai Rp120 juta selama lima tahun. Pada mobil listrik, depresiasinya lebih besar, yakni Rp180 juta.
Perbedaan nilai jual kembali tersebut membuat keunggulan biaya energi mobil listrik tidak menghasilkan selisih biaya kepemilikan yang terlalu besar.
Berdasarkan seluruh komponen yang dihitung, total biaya kepemilikan bersih mobil bensin selama lima tahun mencapai sekitar Rp307,5 juta. Angka itu mencakup depresiasi, bunga kredit, energi, perawatan, pajak, asuransi, dan biaya tambahan.
Adapun total biaya kepemilikan mobil listrik diperkirakan Rp305,7 juta. Dengan demikian, mobil listrik hanya lebih hemat sekitar Rp1,8 juta selama lima tahun dalam simulasi tersebut.
Hasil simulasi memperlihatkan bahwa pilihan kendaraan tidak bisa ditentukan hanya dari biaya pengisian daya atau pembelian bahan bakar.
Mobil listrik berpotensi lebih hemat bagi konsumen yang menempuh jarak jauh dan rutin mengisi daya di rumah. Pengeluaran energi yang lebih rendah dapat memberikan keuntungan selama masa kepemilikan.
Namun, penghematan itu bisa tergerus jika nilai jual kembali kendaraan turun lebih besar. Biaya asuransi, pajak, dan kebutuhan instalasi pengisian daya juga perlu diperhitungkan sejak awal.
Di sisi lain, mobil bensin memiliki pasar kendaraan bekas yang lebih mapan, terutama untuk model-model populer. Nilai jual kembali yang relatif lebih baik dapat membantu menekan biaya kepemilikan meskipun pengeluaran bahan bakarnya lebih tinggi.
Perlu diingat, angka dalam simulasi ini bukan patokan harga jual seluruh model mobil listrik maupun bensin. Nilai depresiasi, biaya perawatan, premi asuransi, tarif energi, dan kebijakan pajak setiap kendaraan dapat berbeda.
Karena itu, konsumen sebaiknya membandingkan model kendaraan yang benar-benar akan dibeli, termasuk memperkirakan harga jualnya setelah lima tahun. Langkah tersebut membantu calon pembeli mengetahui biaya kepemilikan secara lebih realistis sebelum mengambil kredit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BIGBANG menggelar konser di Bangkok pada 7-8 November 2026. Simak daftar barang bawaan, aturan penonton, dan informasi pembelian tiket.
Satpol PP Bantul bersama Bea Cukai dan Kejari menemukan 4.972 batang rokok tanpa pita cukai di Pandak dan Bambanglipuro.
Celios memperkirakan biaya kesehatan akibat karhutla mencapai Rp103,3 triliun. Sebanyak 17,4 juta warga bergejala ISPA diprediksi tidak berobat.
Pemkab Sleman masih mengurus legalitas lahan seluas 5,1 hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat berasrama di Seyegan.
Celios memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla 2026 mencapai Rp565,03 triliun. Simak wilayah dan sektor terdampak.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti meminta koordinasi terkait pemasangan kawat berduri di kawasan Titik Nol Jogja.