Advertisement
Permintaan iPhone Tergerus, Terlalu Mahal atau Persaingan?
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Tergerusnya permintaan untuk iPhone di Tiongkok menunjukkan produk unggulan Apple ini telah dirugikan oleh harganya yang tinggi serta memanasnya persaingan dari ponsel lebih murah dan sebanding di pasar terbesar dunia tersebut.
Jika dibandingkan, harga iPhone XS Max berkisar mulai dari 9.599 RMB (US$1.400) di Tiongkok. Sebaliknya, ponsel andalan besutan Huawei Technologies Co. dan Oppo hanya seharga 4.000 hingga 5.000 RMB, sekitar separuh dari harga satu iPhone.
Advertisement
Harga beberapa ponsel cerdas entry level produksi Vivo malah seperempat dari harga iPhone. Bahkan iPhone XR Apple, yang seharusnya menjadi alternatif ponsel berharga lebih murah dibandingkan dengan model iPhone kelas atas, dibanderol 1.000 RMB lebih tinggi dari harga ponsel pesaing.
Sementara itu, rata-rata upah bulanan pekerja kantoran di Tiongkok adalah 7.850 RMB pada kuartal ketiga tahun 2018, menurut laporan penelitian Zhaopin Limited, sebuah perusahaan perekrutan dan penempatan kerja di Tiongkok, seperti diberitakan Bloomberg.
Ini artinya upah kerja sebulan di negara tersebut lebih rendah ketimbang harga kebanyakan model iPhone baru.
Pada Rabu (2/1/2019), Apple memangkas perkiraan nilai penjualannya menjadi sekitar US$84 miliar pada kuartal yang berakhir 29 Desember 2018. Perkiraan ini lebih kecil dari perkiraan sebelumnya yakni sebesar US$89 miliar hingga US$93 miliar.
Dalam pernyataannya, CEO Tim Cook mengaitkan sebagian besar penurunan prospek perusahaan dengan ekonomi Tiongkok yang terdampak ketegangan perdagangan dengan AS sehingga memengaruhi permintaan dari negara tersebut.
Menurut Cook, sejumlah faktor lain yang berkontribusi terhadap revisi prospek itu di antaranya adalah penguatan dolar AS, lebih sedikit subsidi dari penyedia layanan telepon, dan pelanggan yang tetap menggunakan model lama melalui penggantian baterai yang lebih murah.
Dengan kontribusi sebesar dua pertiga dari pendapatan perusahaan, iPhone jelas menjadi produk Apple yang paling penting. Tiongkok juga merupakan salah satu pasar paling penting untuk Apple, sampai-sampai pernah disebut sebagai "hypermarket" oleh Cook.
Menyusul pengumuman penurunan proyeksi tersebut, saham Apple turun 10% pada perdagangan Kamis (3/1/2019) di New York, penurunan terbesar dalam hampir enam tahun. Saham pemasoknya di Asia, termasuk Jepang Display Inc. dan Minebea Mitsumi Inc., pun terseret turun pada perdagangan hari ini, Jumat (4/1/2019).
Di luar harga, beberapa konsumen di Tiongkok telah beralih pada pesaing-pesaing Apple seperti ponsel Huawei karena kombinasi tampilan unik dan sistem kamera, dan pemula seperti OnePlus karena kecepatannya.
Sementara itu, dalam mengumumkan proyeksi barunya, Cook mengatakan pasar ponsel pintar Tiongkok sedang berkontraksi dan mencatat bahwa traffic toko-toko ritel Apple telah turun dalam beberapa bulan terakhir.
“iPhone Apple sedang menghadapi pasar smartphone premium yang jenuh, dengan tingkat pertumbuhan yang melambat dan meningkatnya persaingan di Tiongkok,” ungkap Anshul Gupta, direktur riset di Gartner Inc., bulan lalu ketika perusahaan ini merilis perhitungan penjualan smartphone terbaru.
Apple sendiri telah mengakui harga ponselnya di Tiongkok mungkin terlalu tinggi, dengan memperluas promosi perdagangan iPhone baru-baru ini dari AS ke wilayah tersebut pada akhir Desember.
Dalam situs webnya di Tiongkok, Apple kini mengiklankan iPhone XR seharga 4.399 RMB dengan tukar tambah dari iPhone 7 Plus.
“[Apa yang membelit Apple] dua pertiga karena apa yang terjadi di China dan sepertiga karena harga Apple. Saya rasa bukan masalah inovasi. Ini masalah harga,” kata Gene Munster, managing partner di Loup Ventures.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Hujan Lebat Picu Banjir di Jakbar, 12 RT dan 4 Jalan Tergenang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








