Rafale Ikut Manuver HUT Ke-81 RI, Punya Kecepatan Mach 1,8
Pesawat tempur Dassault Rafale ikut manuver 81 pesawat pada HUT Ke-81 RI. Simak spesifikasi, performa, mesin, dan persenjataannya.
Penampakan komet
Harianjogja.com, JAKARTA—Potongan komet akan meluncur menuju Bumi dan akan membuat lintasan terdekatnya pekan depan. Potongan komet selebar 11 mil atau sekitar 17 kilometer ini merupakan komet aktif terjauh yang pernah terlihat di tata surya kita.
Komet, yang dikenal sebagai C/2017 K2 (PANSTARRS) atau K2, telah menempuh perjalanan hingga tiga juta tahun dari awan Oort yang jauh di tepi tata surya. Terlihat pada 2017 oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble, dia akan melakukan pendekatan terdekatnya ke planet Bumi pada 14 Juli dan pendekatan terdekat ke Matahari pada Desember ini.
Komet tersebut, telah melakukan perjalanan selama jutaan tahun dari rumahnya di bagian luar tata surya yang dingin, di mana suhunya sekitar -262C. Orbit komet menunjukkan bahwa komet itu berasal dari Awan Oort, wilayah berbentuk bola dengan diameter hampir satu tahun cahaya dan diperkirakan berisi ratusan miliar komet.
BACA JUGA: Update Harga iPhone 13, iPhone 12, iPhone 11, iPhone SE per Juli 2022
Komet adalah sisa es dari pembentukan tata surya 4,6 miliar tahun yang lalu dan karenanya murni dalam komposisi es. Ketika terlihat pada tahun 2017, David Jewitt dari University of California, Los Angeles berkata, K2 begitu jauh dari Matahari dan sangat dingin, yang membuatnya terlihat seperti komet yang berbeda dengan komet lain.
“Kami pikir aktivitas ini disebabkan oleh sublimasi [padatan yang berubah langsung menjadi gas] super-volatil saat K2 masuk untuk pertama kalinya ke zona planet tata surya. Itulah mengapa itu istimewa. Komet ini sangat jauh dan sangat dingin sehingga air es di sana membeku seperti batu."
Jika Anda ingin menyaksikannya, maka harus memakai teleskop. Duta tata surya NASA Eddie Irrizary mengatakan meskipun komet itu berukuran besar, akan tetap menjadi objek yang butuh teleskop untuk melihatnya, karena akan melewati dengan jarak sekitar 168 juta mil dari Bumi.
BACA JUGA: Mengingat Sejarah 30 Juni, 3 Astronot Tewas dalam Kecelakaan Antariksa Soyuz 11
“Seharusnya cerah hingga magnitudo 8 atau bahkan 7, masih terlalu redup untuk mata telanjang. Tetapi Anda dapat dengan mudah melihat objek sebesar ini di teleskop kecil. Semakin gelap langit, semakin baik kontrasnya.” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pesawat tempur Dassault Rafale ikut manuver 81 pesawat pada HUT Ke-81 RI. Simak spesifikasi, performa, mesin, dan persenjataannya.
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang memasuki hari kelima. Sebanyak 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat terdampak asap.
Luhut mengajak Tsinghua berkolaborasi meneliti 435 spesies herbal Indonesia di IT Del melalui riset genomik dan teknologi kecerdasan buatan.
DPRD DIY menyoroti titik rawan kecelakaan di JJLS dan mengusulkan pemasangan pagar pengaman serta PJU secara bertahap.
Pakar UMY menyoroti risiko fiskal pengelolaan utang Whoosh, termasuk tenor 80 tahun dan potensi tekanan terhadap ruang anggaran publik.
Cara cek pre-order iPhone 18 Pro di iBox, Digimap, dan Erafone, termasuk voucher, pilihan warna, kapasitas, serta perkiraan harga global.