Advertisement
Otomatisasi Atlas Picu Penolakan Buruh, Hyundai Hadapi Tekanan
Logo Hyundai - Ist/Car Logos
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana Hyundai memanfaatkan robot humanoid Atlas di pabrik mobil memicu kekhawatiran serius di kalangan serikat pekerja Korea Selatan.
Dilansir dari Reuters, Selasa (27/1/2026), serikat pekerja Hyundai secara tegas menolak implementasi robot humanoid Atlas tanpa adanya kesepakatan bersama antara manajemen dan perwakilan pekerja. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu “guncangan pekerjaan” serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap buruh lokal.
Advertisement
Penolakan juga dilatarbelakangi kecurigaan bahwa Hyundai secara bertahap mengalihkan pusat operasi manufaktur ke Amerika Serikat. Pabrik Hyundai di Georgia disebut akan menjadi lokasi uji coba awal penggunaan Atlas, sebelum robot tersebut diperluas ke fasilitas produksi lainnya.
Pekerja di dua pabrik utama Hyundai di Korea Selatan menyatakan rencana ini mengancam keberlangsungan pekerjaan mereka. Kekhawatiran tersebut disamakan dengan dampak otomatisasi General Motors pada era 1960-an, ketika robot pertama kali diperkenalkan ke jalur perakitan otomotif dan mengubah struktur tenaga kerja secara drastis.
BACA JUGA
Posisi Boston Dynamics sebagai pengembang Atlas turut menjadi sorotan. Perusahaan robotika tersebut kini berada di bawah kendali Hyundai setelah diakuisisi dari Google, menjadikannya pusat perdebatan terkait arah kebijakan otomasi canggih di industri otomotif global.
Hyundai sendiri menargetkan produksi Atlas mencapai 30.000 unit per tahun pada 2028, dengan tahap awal implementasi difokuskan di fasilitas Georgia sebelum diperluas ke pabrik lain. Langkah ini sejalan dengan tren global penggunaan robot humanoid di sektor manufaktur.
Sejumlah analis memprediksi kehadiran robot humanoid akan mengubah lanskap ketenagakerjaan industri secara signifikan, menyerupai revolusi otomatisasi pada dekade-dekade sebelumnya. Tren serupa terlihat dari pengembangan robot Walker S2 milik UBTech yang juga tengah dievaluasi oleh berbagai perusahaan internasional.
Di tengah tekanan tersebut, Hyundai dinilai perlu melakukan mediasi intensif dengan serikat pekerja untuk mencegah potensi mogok massal sebelum Atlas benar-benar dioperasikan di lini produksi. Ketegangan ini menjadi ujian besar bagi Hyundai dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dengan stabilitas tenaga kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Awal Tahun 2026, 10 Warga Bantul Tewas Akibat Kecelakaan Lalu Lintas
- Ratusan Peserta CKG Bantul Terindikasi Kemungkinan Depresi
- Kasus Suami Hentikan Penjambret Berujung Damai, Pengawasan GPS Dicabut
- Modus Cari Kerja, Pemuda 19 Tahun Curi Ponsel Warung di Jetis Jogja
- Restorasi Gumuk Pasir Bantul Menjadi Fokus Penataan Pantai Selatan
Advertisement
Advertisement




