Advertisement
China Peringatkan Bahaya AI Militer ala Terminator
Ilustrasi Artificial Intelligence / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—China mengkritik kebijakan Amerika Serikat yang dinilai terlalu agresif mengembangkan kecerdasan buatan (AI) untuk militer dan memperingatkan risiko masa depan seperti film Terminator.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bin, mengatakan perkembangan teknologi militer berbasis AI dapat mengikis batasan etika dan akuntabilitas dalam peperangan.
Advertisement
“Tidak hanya mengikis batasan etika dan akuntabilitas dalam perang, tetapi juga berisiko menyebabkan perkembangan teknologi yang tak terkendali,” kata Jiang Bin, seperti dikutip dari Agence France-Presse (AFP).
Ia menambahkan bahwa skenario distopia seperti dalam film The Terminator suatu hari bisa saja menjadi kenyataan jika penggunaan AI dalam sistem militer tidak dikendalikan.
BACA JUGA
AS Buka Jalan AI untuk Militer
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang berupaya memperluas pemanfaatan AI dari berbagai perusahaan teknologi untuk kebutuhan militer.
Pentagon dikabarkan telah mengizinkan penggunaan sistem Grok, yang dikembangkan oleh perusahaan milik Elon Musk, dalam lingkungan sistem rahasia militer.
Namun, di sisi lain, Pentagon justru memasukkan perusahaan AI Anthropic ke dalam daftar hitam setelah perusahaan tersebut menolak memberikan izin penggunaan model AI Claude untuk pengawasan massal dan sistem peperangan otonom yang mematikan.
Sebagai informasi, film The Terminator yang dirilis pada 1984 dan dibintangi Arnold Schwarzenegger menggambarkan masa depan apokaliptik ketika mesin yang dikendalikan AI berbalik melawan manusia.
Perselisihan Pentagon dan Anthropic
Ketegangan antara Pentagon dan Anthropic mencuat beberapa hari sebelum serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
Claude disebut sebagai salah satu model AI paling canggih yang digunakan oleh Pentagon dan merupakan satu-satunya model sejenis yang saat ini beroperasi pada sistem rahasia Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Perselisihan terjadi setelah Anthropic bersikeras bahwa teknologinya tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal maupun sistem senjata otonom sepenuhnya.
Keputusan tersebut membuat Kepala Pentagon Pete Hegseth geram.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Donald Trump kemudian memerintahkan seluruh lembaga federal menghentikan penggunaan teknologi milik Anthropic.
Beberapa jam setelah keputusan itu, Hegseth menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasokan terhadap keamanan nasional. Ia juga memerintahkan agar seluruh kontraktor, pemasok, maupun mitra militer tidak lagi melakukan aktivitas komersial apa pun dengan perusahaan tersebut.
Pentagon sendiri diberikan masa transisi selama enam bulan untuk menghentikan penggunaan teknologi Anthropic secara penuh.
Peringatan dari China tersebut semakin menambah kekhawatiran global mengenai potensi perlombaan senjata berbasis kecerdasan buatan yang dinilai semakin tidak terkendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sembilan Kepala Daerah Terjaring OTT, Ini Pesan KPK ke Masyarakat
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Progres 80 Persen, 10 Gerai KDMP Gunungkidul Rampung Akhir Maret
- Sektor Pertanian Bantul Aman dari Cuaca Ekstrem, Panen Raya Tiba
- Tol Prambanan-Purwomartani Beroperasi Fungsional Mulai 16 Maret
- Ledakan Diduga Obat Petasan Lukai Tiga Warga di Suryodiningratan Jogja
- Pergerakan Tanah Bantul Picu Kekhawatiran di Kawasan Perumahan
Advertisement
Advertisement







