Advertisement

Mobil Listrik Nekat Terjang Banjir, Ini Bahaya Kerusakannya

Newswire
Selasa, 27 Januari 2026 - 18:07 WIB
Abdul Hamied Razak
Mobil Listrik Nekat Terjang Banjir, Ini Bahaya Kerusakannya Ilustrasi mobil listrik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Pengguna mobil listrik diimbau tidak nekat menerobos banjir karena berisiko menimbulkan kerusakan serius pada sistem kelistrikan kendaraan. Peringatan ini disampaikan Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu.

Menurut Yannes, meski baterai utama kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dirancang kedap air dengan standar IP67 atau IP68, bukan berarti seluruh bagian mobil aman dari genangan banjir.

Advertisement

“IP67 itu jaminan darurat, bukan jaminan kendaraan bisa digunakan semaunya untuk menerobos banjir,” ujar Yannes, Selasa (27/1/2026).

Ia menegaskan risiko terbesar justru bukan berasal langsung dari baterai tegangan tinggi, melainkan dari sistem kelistrikan 12 volt serta ratusan sensor kecil yang mengatur operasional kendaraan.

Berbagai komponen seperti ECU, modul ABS, hingga sensor parkir tersebar di banyak titik mobil dan umumnya tidak memiliki perlindungan sekuat battery pack.

Air banjir yang bercampur lumpur atau air rob yang mengandung garam dapat memicu proses korosi secara perlahan.

“Gejalanya bisa baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian, seperti error sensor, fitur ADAS mendadak nonaktif, atau alarm palsu,” jelas Yannes.

Kerusakan akibat korosi tersebut, lanjutnya, sering kali tidak bisa diperbaiki dan harus ditangani dengan penggantian modul elektronik.

Selain harganya mahal dan stok suku cadang yang kerap terbatas, proses penggantian modul biasanya membutuhkan kalibrasi ulang sistem.

Kalibrasi ini mencakup radar hingga kamera pada fitur keselamatan kendaraan.

Jika kalibrasi tidak presisi, fitur keselamatan seperti pengereman darurat otomatis atau lane keep assist justru dapat membahayakan pengemudi.

Terkait baterai utama, Yannes mengakui komponen ini memang paling terlindungi karena berada di bawah pengawasan battery management system (BMS).

Sistem tersebut akan memutus aliran listrik tegangan tinggi secara otomatis jika terdeteksi adanya kebocoran arus.

Namun, perlindungan ini tetap memiliki batasan, terutama apabila kendaraan terendam dalam waktu lama atau terkena tekanan air ekstrem.

“Jika terjadi rembesan kecil yang memicu korosi internal, risikonya bisa berujung pada kegagalan mendadak atau thermal runaway. Biaya penggantian battery pack bahkan bisa mencapai 40 hingga 50 persen dari harga mobil baru,” ungkapnya.

Menghadapi musim hujan dan potensi banjir, Yannes mengimbau pemilik kendaraan listrik untuk lebih waspada dan disiplin dalam perawatan.

Beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan antara lain memastikan port pengisian daya selalu kering, rutin membersihkan kolong mobil dari lumpur maupun garam, memeriksa kondisi karet penyekat pintu, serta menjaga kebersihan kamera dan sensor kendaraan.

Ia juga menekankan pentingnya melakukan inspeksi profesional setelah mobil melewati genangan air atau banjir.

“Inspeksi profesional pascabanjir sangat penting. Risiko kerusakan tersembunyi dan biaya perbaikannya jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan sesaat saat nekat menerobos banjir,” tutup Yannes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas

Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas

News
| Selasa, 27 Januari 2026, 19:22 WIB

Advertisement

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Wisata
| Selasa, 27 Januari 2026, 13:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement